BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Sayang?


__ADS_3

"Pulang? Sepertinya tidak semudah itu, kamu harus bermalam di sini dengan ku malam ini, sayang. Tak ada sejarahnya wanita yang dekat dengan ku namun tak pernah tidur dengan ku, kamu membuat ku penasaran setengah mati, kamu selalu jual mahal dan tak ingin di sentuh oleh ku saat dulu kita pacaran, membuat ku melampiaskannya pada sahabat mu," Seringai Alan sudah nampak tak biasa, sepertinya dia sudah di liputi napsu setan saat ini.


"Alan tolong jangan seperti ini, kita tidak boleh seperti ini, aku ingin pulang, tolong lah," tangisan ketakutan Anisa bahkan kini terdengar mengiba.


"Ini semua salah mu, kau tak pernah mau ku sentuh, dan kau marah saat aku melampiaskannya pada sahabat mu yang rupanya diam-diam menaruh hati pada ku itu, namun sayangnya aku tak pernah mencintai nya, aku melakukannya karena untuk menyalurkan hasrat ku saja, ketahuilah, aku haanya mencintai mu, bahkan sampai saat ini aku masih sangat mencintai mu, sungguh aku tak rela kamu pergi meninggalkan ku begitu saja, 3 tahun bukan waktu yang sebentar Anisa, aku bahkan tak bisa membuang wajah mu dari pikiran ku selama ini, aku mencari cara agar aku bisa kembali bersama mu dan kamu bisa kembali ke dalam pelukan ku," beber Alan yang seolah sedang menumpahkan segala rasa yang tertahan di hatinya selama ini.


Anisa sampai tak habis pikir dengan kelakuan mantan kekasihnya itu, Alan yang menyakiti dirinya, namun dia sendiri yang tak rela Anisa tinggalkan, egois sekali pria yang satu ini.


Alan pernah menjadi poros segala dunianya, sampai Anisa rela backstreet dari orang tuanya selama bertahun tahun, namun pada akhirnya Alan juga yang menghancurkan dunianya menjadi berkeping-keping dengan penghianatan menjijikannya dengan sahabatnya sendiri, lantas bagaimana Anisa tak kecewa begitu dalam dengan apa yang di lakukan pria itu padanya.


Alan merapatkan tubuh Anisa ke dinding, mengangkat kedua tangannya ke atas kepala wanita malang itu, sekuat apa Anisa berontak, tenaganya sungguh kalah jauah dengan tenaga Alan yang sudah di penuhi napsu setan itu.


Wajah Alan mendekat ke wajah Anisa yang berurai air mata, tatapannya mengibaa memohon agar Alan melepaskannya dan tak menyakitinya.


"Apa yang kamu tangisi, sayang. Kamu aman bersama ku, aku pasti akan mengantarkan mu pulang, sekalian melamar mu, namun malam ini mari kita bersenang-senang terlebih dahulu." Ucap Alan begitu dekat hingga henbusan nafas nya begitu terasa di wajah Anisa yang semakin ketakutan.


'Tuhan, aku harus bagaimana? Mas Bimo, tolong aku, aku takut!' Jerit Anisa dalam hatinya, bahkan dalam keadaan genting seperti ini hanya Tuhan dan Bimo yang dia ingat.


Tanpa di duga-duga Alan langsung mencium bibir Anisa secara brutal dan kasar karena Anisa terus berontak dan menghindari ciuman ganas Alan dengan memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan.


Namun pada akhirnya Alan dapat menangkap bibir yang dulu tak pernah menolak jika di ciumnya itu, Alan melahapnya dengan rakus seakan benar-benar rindu dengan rasa manis bibir mantan kekasihnya itu.


"Tolong lepaskan aku, tolong jangan seperti ini, lepaskan!"


Jerit tangis Anisa seakan sia-sia karena sepertinya tak ada seorang pun yang mendengar tangis pilunya, sementara Alan seakan menulikan pendengarannya dengan terus saja menikmati bibir merah Anisa, bahkan kini ciumannya sudah turun menyusuri leher mantan kekasihnya tanpa mempertdulikan Anisa yang terus menangis ketakutan, napsu setannya sudah mengalahkan segalanya.

__ADS_1


**


Di tempat lain Bimo terus memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi seakan sedang berada di arena balapan.


"Bos, hati-hati aku belum menikah dan bos juga belum ada sehari menikah, sebaiknya kita jangan mati dulu bos!" teriak Rama yang mulai panik dengan cara berkendara Bimo yang bagai sedang kesetanan itu.


"Diam, aku tak mau jika sampai kita terlambat menyelamatkaan istri ku," Bimo mengoceh tanpa sadar menyebut-nyebut kata istri ku, membuat kening Rama mengeryit.


"Iastri? Bukannya istri bos di tinggal di aparetemen, tadi?" Cicit Rama, karena kata istri yang di katakan oleh Bimo di pikirannya hanya terbersit wajah Viona yang baru saja berstatus sebagai istri dari bosnya itu.


"Diamlah, kau cerewet sekali!" Hardik Bimo sekali lagi.


Ciiittttt!


Suara decit pedal rem yang di injak penuh dalam keadaan melaju kencang terdengar ngilu di telinga.


Namun terakhir kali saat GPS itu aktif, posisi ponsel Anisa tak jauh dari tempat itu.


"Apa ponsel mu mendapatkan sinyal?" Tanya Bimo menoleh ke arah Rama yang wajahnya masih pucat karena di kira mobil mereka akan kecelakaan tadi.


"Bos, tadi bos berhenti dan mengerem mendadak hanya karena sinyal yang hilang?" Suara Rama masih terdengar tergagap, tantas dengan tangan yang masih gemetar dia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya,


"Tidak ada sinyal juga bos!" Rama memperlihatkan layar ponselnya ke hadapan Bimo.


"Ah, sial,,, aku yakin mereka di sekitar sini," Bimo memukul setir berulang kali karena merasa putus asa.

__ADS_1


Sekarang ini tepat pukul 6.30 malam, dan keadaan di sekitar sana cukup gelap, tak ada satupun penerangan kecuali dari lampu mobilnya yang tetap menyala, Bimo memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan mencari Anisa meski pemandu ponselnya sudah tidak bisa dia andalkan lagi, saatnya dia memakai feelingnya, bukankah keterikatan batin antara suami istri apalagi mereka saling mencintai akan lebih kuat, cinta akan menunjukan arah dimana pasangannya berada.


"Bos, di sana sepertinya ada rumah penduduk, terlihat ada nyala lampu, ayo kita tanya ke rumah itu," Tunjuk Rama ke arah sumber cahaya satu satunya di daerah sana, sudah nampak juga bangunan mewah dari kejauhan.


Tiiiiiiittttttt,,,,! Ciiiiiiitttt,,,,,!


Suara klakson dan suara decit rem mobil seakan berlomba dan bersahutan saat seoran wanita tiba-tiba berlari ke arah kap mobil yang di kendarai Bimo, di susul oleh seorang pria yang mengejarnya dari belakang tak lama kemudian.


"Anisa!" Teriak Bimo dari dalam mobil saat wajah istrinya itu tersorot lampu mobilnya.


Bimo langsung turun dari mobilnya di susul Rama kemudian.


"Alan, apa yang kau lakukan pada---"


Bughh,,,,!


Kalimat Rama tak terselesaikan saat layangan tinju Alan mendarat di wajahnya, membuatnya langsung tersungkur.


"Jangan ikut campur urusan ku!" Ucap Alan dengan wajah beringas dan mata memerah persis monster yang siap menerkam apapun yang ada di hadapanya,


"Mas Bimo,!" Teriak Anisa berhambur ke pelukan suaminya, melingkarkan tangannya di pinggang sang suami dengan eratnya seakan meminta perlindungan.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Bimo menyambut pelukan istrinya itu.


Alan dan Rama sama- sama terkejut dengan panggilan 'sayang' Bimo pada Anisa.

__ADS_1


"Sayang?" Kaget Alan dan Rama hampir bersamaan.


__ADS_2