
Di rumah Surya Bimo seakan menikmati harinya bersama Anisa, betapa dirinya sangat merindukan kehangatan keluarga seperti sekarang ini, ada Surya sang kakek, ada Anisa, seolah kehidupan nya kini menjafi sangat lengkap dan membahagiakan.
Bimo tak mengerti kenapa justru kehadiran Viona tak lagi di rasa penting baginya, adanya Anisa dalam kehidupannya sekarang ini sudah mewakili semuanya, semua yang di harapkannya, semua yang di inginkannya dalam hidup seolah sudah dia tenukan semuanya di diri Anisa.
"Bim, kapan kalian mengadakan resepsi pernikahan? Bukankah ini sudah lebih dari 3 bulan berlalu, apa lagi yang kalian tunggu?" Tanya Surya membuat Bimo panik seketika.
"Kakek, yang penting kan kami sudah bahagia dan nyaman dengan kehidupan rumah tangga kami, untuk masalah resepsi, kami masih memikirkan ulang, apakah itu masih perlu bagi kami?" Seperti biasanya, Anisa pasti akan mengambil alih jawaban jika pertanyaan Surya mulai membuat Bimo tak bisa berkata-kata.
"Apa Bimo terlalu sibuk sehingga dia menolak untuk mengadakan resepsi pernikahan kalian?" Tuduh Surya.
"Tidak seperti itu kek, mas Bimo tidak pernah sibuk, dia selalu pulang tepat waktu, hanya saja saya yang justru kini sedang sibuk-sibuknya mengerjakan proyek desain apartemen lagi, saya sedang senang-senangnya baru terjun di dunia pekerjaan yang saya cintai ini, kek!" Anisa sengaja menggunakan alasan dirinya yang sibuk dengan pekerjaan setiap harinya dari pada Surya menyalahkan Bimo dan berujung nanti Surya emosi dan tekanan darahnya naik, lebih baik dirinya saja yang di tumbalkan, pikirnya.
Toh selama ini Surya tak pernah protes atau mendebatnya jika itu tentang dirinya, mungkin juga Surya tak enak hati jika harus berdebat dengan cucu mantunya.
Surya hanya manggut-manggut "Baiklah, terserah kalian saja, yang terpenting kalian rukun, bahagia dan saling menyayangi, saling setia, itu sudah cukup membuat kakek bahagia juga tenang."
"Tentu saja kami bahagia kek, aku juga sangat menyayanginya, Anisa adalah anugerah terindah dari Tuhan untuk ku," ucap Bimo seraya memeluk bahu Anisa dan mencium pipinya dengan lembut.
Sementara Anisa yang kerap di perlakukan seperti itu di depan kakeknya memang sudah merasa terbiasa, dia tau kalau Bimo sedang berakting dan itu semua Bimo lakukan hanya untuk menyenangkan hati kakeknya.
__ADS_1
Namun rasanya ada yang berbeda dari diri Bimo, karena sikap mesranya terkesan berlebihan menurut Anisa, semenjak mereka tiba di rumah Surya, perlakuan Bimo padanya sangat hangat dan romantis sepanjang waktu.
Sampai Anisa merasa risih karena Bimo selalu menggandeng tangannya, kadang menggandeng bahunya, tak jarang juga suaminya itu mengapit pinggang rampingnya selama di dalam rumah itu.
"Mas, kamu lagi kenapa, apa ini bawaan bayi ya, jadi manja begini?" Tegur Anisa saat suaminya itu terus saja menggelendot manja di bahu putihnya yang saat itu mengenakan dress dengan model sabrina yang memperlihatkan dengan jelas bahu dan leher jenjangnya, bahkan saking gemasnya Bimo kadang beberapa kali menciumi bahu indah itu membuat Anisa merinding di buatnya.
Jujur saja Anisa hanya takut jika perlakuan manis dan romantis Bimo padanya itu membuatnya terbuay dan nantinya dirinya semakin tak bisa lepas dari suaminya itu, padahal kan, jelas-jelas tiga bulan lagi perjanjian mereka berakhir.
Sementara Bimo memang sengaja memanfaatkan situasi ini untuk dirinya agar bisa bermesra-mesraan dengan istrinya, sungguh itu semua bukan sekedar akting karena di depan kakeknya agar terlihat bahagia, namun itu dia lakukan karena memang dirinya sangat merindukan Anisa dan hanya di rumah itulah dirinya bisa leluasa berlaku seperti itu oada istrinya.
"Hah, bayi? Mbak Anisa hamil ?!" teriak bi Nani asisten rumah tangga yang ternyata sedang membereskan piring kotor di dekat kini Anisa dan Bimo berada.
"Siapa yang hamil, Nani?" Tanya Surya langsung antusias saat asisten rumah tangganya itu salah paham dengan apa yang di katakan oleh Anisa pada Bimo.
"Hah? Benarkah??!" Teriak Surya dengan wajah berserinya.
Sementara Anisa dan Bimo hanya bisa saling berpandangan, "Hamil?" pekik mereka bersamaan.
"Bu-bukaan seperti itu kek, itu hanya bercandaan kami saja, ini karena perut ku yang gendut sering biat bercandaan mas Bimo kalau aku sedang hamil," elak Anisa mengelus perut nya sendiri yang sama sekali tak buncit sedikit pun.
__ADS_1
Bagaimanaa bisa mereka hamil, tidur dalan 1 ranjang bersama saja itu baru sekali itu pun karena keadaan darurat karena di rumah Anisa dan itu pun tak terjadi apa-apa selain hanya tidur bareng karena kamar sang istri yang sangat sempit.
"Ah benar itu kami hanya sedang bercanda saja tak ada bayi di dalam sini, semoga secepatnya." Gugup Bimo sambil mengelus perut rata istrinya yang memang tak buncit dan tak ada ada bayi si dalam perutnya, padahal perut Viona yang jelas-jelas berisi bayi itu tak pernah dia elus sekali pun, entah mengapa, seperti tak ada keinginan untuk itu saat dirinya bersama dengan Viona.
Bahkan selama hampir seminggu ini dia berada di apartemen Viona, rak sekalipun dirinya berhubungan suami istri lagi dengan krkasihnya itu, meski sering kali Viona menggodanya.
Hati dan pikirannya selalu saja tertuju pada Anisa meski raganya bersama Viona, membuata dirinya selalu tak mood jika melakukan hal-hal yang nantinya malah dia merasa sangat bersalah karena telah menghianati istrinya.
"Mas!" Pekik Anisa tertahan dan agaak Lirih.
Bagaimana bisa dia mengharapkan akan mendapatkan bayi darinya, sementara mereka saja berada di ambang perpisahan yavg hanya dalam hitungan bulan saja.
Namun mendapat pekikan dari Anisa, dirinya hanya bisa menyeringai misterius, tanpa penjelasan apapun atas ucapannya pada Surya.
"Jangan macam-macam mas, takutnya ada malaikat kewat lantas mencatatnya, bagaimana jika itu benar-benar terjadi?" Bisik Anisa di telinga Bimo tak ingin orang lain ikut mendengarkan lagi bisikannya.
"Ya,,, syukurlah kalau itu memang terjadi, berarti Tuhan punya rencana lain untuk kita, Tuhan tak ingin kita berpisah," ucap nya dengan santai seperti tanpa beban mengatakan itu semua.
Bimo tak tau saja jika di hati Anisa kini sedang merasakan gemuruh rasa tak tertahankan, mendengar Bimo berkata demikian membuat otaknya bekerja lebih keras dari pqda sebelumnya, memikirkan apa yang sebenarnya Bimo rencanakan.
__ADS_1
Bimo pun tak segan untuk menciumi pipi, bibir, kepala bahkan leher dan bahu Anisa sesekali saat mereka berada di ruang tengah rumah dimana Surya juga ada di antara mereka.
Mungkin Bimo ingin menunjukan kalau hubungan antara dirinya dan Anisa terjalin dengan baik dan harmonis, dia sengaja memamerkan kemesraan pada kakeknya adah kakek nya merasa senang, disamping itu dirinya juga merasa senang karena pada akhirnya dirinya bisa dengan leluasa nya memperlakukan Anisa dengan begitu mesranya dengan bertamengkan kepura-puraan.