BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Ada Apa Hari Ini


__ADS_3

Hari ini hari pertama Anisa pindah ke apartemen milik Bimo yang benerapa waktu lalu di desain ulang olehnya.


"Apartemen ini tidak jadi di jual, mas?" Tanya Anisa ketika tau kalau apartemen yang akan di tempatinya itu adalah tempat yang sempat dia desain.


"Hemh, kamu boleh memakainya dulu untuk sementara, atau kalau kamu tidak betah di sini, aku masih ada apartemen yang lain, atau kamu ingin tinggal dimana ?" Bimo malah balik bertanya.


Apartemen itu memang sengaja tidak akan Bimo jual, selain karena ada hasil karya tangan Anisa di sana, Bimo juga sangat suka dengan desain yang di buat Anisa.


"Akh, tidak. Aku suka kok, di sini. Hampir satu bulan mengerjakan apartemen ini membuat ku merasa familiar di tempat ini," jawabnya jujur.


"Syukurlah, tapi mungkin aku hanya sesekali saja datang ke sini, namun untuk sabtu minggu kita tetap ke rumah kakek dan menginap di sana." Kata Bimo, sebenarnya ada rasa tak tega harus meninggalkan Anisa di tempat itu sendirian, namun keadaan sungguh memaksanya, Viona dan bayi dalam perutnya pasti lebih membutuhkannya.


"Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi ku, aku pasti datang." lanjut Bimo yang lalu di angguki oleh Anisa.


Gadis itu sudah tak bisa berkata-kata lagi saat ini, hanya bisa berharap dirinya mampu menghadapi dan melewati semua permasalahan hidupnya ini, Anisa sungguh kini terjebak dengan keadaan dan perasaannya sendiri, perasaan yang tak seharusnya hadir di waktu yang tak tepat ini.


Ah, betapa Anisa sebenarnya sangat benci dan mengutuk dirinya sendiri, karena telah dengan lancangnya jatuh cinta pada pria yang jelas-jelas tak mencintainya.


"Apa aku boleh bekerja?" Tanya Anisa, dia berniat untuk menerima pekerjaan yang di tawarkan Alan padanya untuk mengisi kegiatan harinya yang pasti akan sangat kesepian karena sedari awal Bimo sudah mengatakan kalau dia akan lebih sering tinggal bersama Viona, sementara dirinya sudah dapat di pastikan akan sendirian, kecuali weekend.


"Apa uang bulanan yang ku berikan kurang?" Bimo balik bertanya.


"Bu- bukan seperti itu, hanya saja aku butuh mengisi kegiatan harian ku, karena aku pasti akan sangat bosan kalau hanya berdiam diri di sini tanpa kegiatan apapun," tepis Anisa tak ingin Bimo salah mengerti.


"Terserahlah, lakukan saja apa yang membuat mu senang," kata Bimo terkesan cuek.


"Terimakasih, aku hanya tak mau melakukan kegiatan tanpa ridho dan se ijin suami." Ujar Anisa tulus.


Kontan saja ucapan Anisa itu bagai tamparan di wajah Bimo.


"Aku bukan suami yang baik bagimu, lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan selama itu tak berbahaya dan menyakiti mu," lirihnya.


Tak berbahaya dan menyakiti Anisa? lantas apa yang yang Bimo lakukan selama ini tak membahayakan dan menyakiti istrinya, kah?

__ADS_1


"Baik atau pun tidak, kamu tetap suami ku mas, aku tenang menjalani pekerjaan ku kalau kamu sudah mengijinkan ku seperti ini." Kata Anisa lugas.


**


Benar saja, di hari ketiga kepindahan ke apartemen Anisa menjalani hari-harinya sendirian, semenjak kepindahan hari pertama Bimo tak ada datang lagi ke Apartemen tempatnya tinggal sekarang ini, Anisa menjadi seperti istri yang di asingkan atau bahkan di buang demi agar Bimo bisa bersama dengan Viona.


Anisa membolak-balikan kartu nama yang di berikan Alan padanya beberapa hari yang lalu, rasanya begitu berat hendak menghubungi mantan kekasihnya yang pernah menghianatinya itu.


"Oh ayolah Anisa, itu kan hanya masa lalu dan telah lama berlalu, lagi pula ini hanya sebatas masalah pekerjaan saja." Debat Anisa pada dirinya sendiri yang masih saja merasa ragu untuk menghubungi Alan.


Namun Anisa teringat sesuatu, sepertinya Alan pernah berkata kalau dia akan mengirimkan email desain padanya, setelah dia menghidupkan laptopnya dan mengecek beberpa email yang masuk, benar saja kalau ada beberapa pesan yang dikirin Alan padanya.


Anisa membukanya satu persatu, hanya beberapa contoh desain yang Alan kirim, tak ada yang aneh, semua hanya sebatas pekerjaan, sampai akhirnya Anisa pun memberanikan diri untuk menghubungi Alan di nomor yang tertera pada kartu namanya itu.


Sambutan Alan cukup baik, dan mereka sepakat untuk bertemu besok siang di kantornya sekalian agar Anisa dapat melihat kantor yang akan di kerjakannya.


Anisa memenuhi janjinya, dia benar-benar datang ke kantor Alan siang itu,


"Wah, sudah jadi pengacara sukses rupanya, kantor mu bagus sekali!" Seloroh Anisa saat dirinya di perlihatkan ruangan demi ruangan di kantor Alan.


"Cepatlah menikah agar ada yang mengurus mu," kata Anisa.


Perbincangan mereka cukup hangat dan masih di seputar pekerjaan yang akan di kerjakan Anisa saja, di sepanjang perbincangan mereka dari siang sampai sore hari ini tak sedikit pun mereka menyinggung tentang masa lalu, baik Anisa maupun Alan seakan benar-benar tak ingin mengungkit masa-masa itu lagi yang mungkin saja akan membuat hubungan mereka menjadi kembali memburuk.


Kesepakatan pun telah terjalin, Anisa akan mendesain ruang kerja Alan sesuai dengan desain yang Alan minta, dan sesuai kesepakatan bahwa pekerjaan akan di mulai besok.


Sekitar pukul setengah 8 malam Anisa baru sampai apartemen, saat dirinya membuka pintu, Anisa sedikit mengernyit, terlihat lampu seluruh ruangan menyala, sepertinya ada orang yang masuk, dan benar saja, Bimo terlihat sedang menonton televisi di ruang tengah, dengan pakaian santainya.


Tentu saja, selain dirinya, hanya Bimo yang mengetahui kode pin untuk membuka pintu apartemen mereka ini.


"Dari mana saja?" Tanya Bimo datar dengan pandangan yang masih tertuju ke layar televisi 55 inch yang terpasang di kabinet kayu hasil karya Anisa.


"Ah, iya. Aku baru saja selesai bertemu dengan klien di kantornya." Terang Anisa.

__ADS_1


"Owh, bagaimana, sukses?" Entah pertanyaan itu sebagai bentuk perhatian Bimo padanya, atau sekedar basa-basi saja Anisa tak bisa menebaknya.


"Emh, besok sudah mulai pengerjaan," jawab Anisa. "Mas sudah makan malam?" lanjut Anisa yang lalu di jawab dengan gelengan kepala suaminya itu.


"Baiklah, aku akan memasak untuk makan malam kita."


Anisa meletakan ranselnya di meja dan bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya dan suaminya.


Sungguh hati Anisa menghangat saat ini, setelah 3 hari dirinya hanya sendirian di tempat itu, akhirnya Bimo datang, meskipun mungkin hanya sekedar mampir saja, tapi Anisa cukup merasa senang.


Sudah lewat jam 10 malam, namun Bimo tak juga berpamitan untuk pulang ke rumah madunya, dia masih terlihat betah mengotak atik laptopnya di ruang tengah.


"Tidurlah kalau kamu ngantuk, aku masih harus mengerjakan banyak laporan, bukankah kamu juga besok harus mulai bekerja?" Ujar Bimo.


"Mas tidak pulang ke---" cicit Anisa agak ragu-ragu menyampaikan pertanyaan nya.


"Kemana? Apa aku tak boleh pulang ke rumah istri ku ini?" Ucap Bimo.


Sepertinya dari tiga bulan lebih mereka menikah baru kali ini Bimo ngatakan istri ku pada Anisa, membuat Anisa meruncingkan pendengarannya, dan bertanya-tanya apa benar apa yg di dengarnya barusan?


"Tentu saja boleh mas, ini kan, apartemen milik mas Bimo, aku hanya menumpang selama tiga bulan saja,"


"Anisa stop! Ini apartemen milik mu juga, milik kita, tidak ada yang menumpang atau apapun namanya, kita sama sama memilikinya," Bimo menghentikan kegiatannya dan memandang serius ke arah Anisa.


"Ah, maaf, bukan begitu maksud ku, hanya saja--- Anisa menjeda ucapannya--- Ah sudahlah, lebih baik aku membuatkan kopi saja untuk menemani mu bekerja malam ini,"


Anisa bergegas ke dapur membuatkan kopi untuk suaminya, dari pada dirinya salah berbicara lagi dan malah menimbulkan kemarahan suaminya.


"Terimakasih, tidurlah tak perlu menunggui ku, nanti kalau sudah selesai aku naik," kata Bimo enteng seolah apa yang di ucapkannya itu suatu hal yang wajar baginya.


Deg,


Anisa baru sadar kalau di apartemen ini hanya ada satu kamar, dan dan di kamar nya tak ada sofa seperti di kamar yang rumah lama, apa itu berarti dirinya dan Bimo harus tidur satu ranjang?

__ADS_1


Memikirkan hal itu sontak saja membuat Anisa panas dingin di buatnya, apalagi jika teringat kejadian saat mereka tidur satu ranjang saat menginap di rumah orangtuanya beberapa waktu lalu yang menyisakan insiden saling berpelukan saat pagi menjelang membuat mereka jadi sama-sama gugup dan serba salah.


Lagi pula kenapa tiba-tiba Bimo ingin menginap di sini, apa dia sedang menjalankan pembagian jatah waktu seperti pria-pria yang melakukan pologami? Apa Bimo se serius itu? Lalu bukannya dia bilang hanya akan bertemu dengan Anisa saat weekend karena harus ke tempat Surya, lalu ada apa dengan hari ini?


__ADS_2