
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Bimo menyambut pelukan istrinya itu.
Alan dan Rama sama- sama terkejut dengan panggilan 'sayang' Biomo pada Anisa.
"Sayang?" Kaget Alan dan Rama hampir bersamaan.
Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Anisa selain isak dan tangis yang tiada henti dia tumpahkan di dada sang suami.
Tentu saja hal itu membuat darah Bimo mendidih panas, menyaksikan istrinya terisak kekakutan seperti itu membuat kemarahannya sudah tak dapat di bendung lagi.
"Bajingan, Apa yang sudah kau lakukan pada istri ku, bangsat!" Teriak Bimo mengurai pelukan Anisa dan menerjang Alan yang mulai mendekat ke arah m,ereka dengan tendangan kaki kananya membuat Alan langsung terpental beberapa meter akibat tendangan Bimo yang mantan atlet taekwondo saat sekolahnya dulu itu.
"Bangun kau pecundang, lawan aku, lawan suaminya, jangan hanya beraninya dengan wanita saja, dasar banci !" Maki Bimo dengan emosi yang sudah mengubun-ubun.
Sungguh pikirannya sangat kalut memilirkan apa yang sudah Alan lakukan pada istri pertamanya itu membuat dia rasanya ingin menghabisi Alan saat itu juga.
Di hampirinya Alan yang masih terduduk di tanah dengan memegangi dadanya yang terasa nyeri dan sesak akibat tendangan maut Bimo, bahkan kini untuk bernafas saja rasanya sulit untuk Alan lakukan.
Bugh,,,, bughh,,,,!
Lagi dan lagi tendangan dan pukulan Bimo layangkan ke tubuh Alan yang kini hanya bisa meringkuk di tanah sambil melindungi kepalanya dari amukan Bimo dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Bos, cukup bos, dia akan mati kalau di pukuli terus begitu!" Lerai Rama menarik tubuh bos nya agar menjauh dari tubuh Alan yang tergeletak tak berdaya di tanah, bahkan tak di beri kesempatan untuk melawan sekali pun.
"Kau bela dia karena dia teman mu? Apa kau mau ku hajar juga?" Bimo mengangkat tinjunya ke udara, nyaris saja asistennya itu menjadi sasaran kemarahannya juga jika saja Anisa tak mencegahnya.
"Mas cukup! Aku baik-baik saja, jangan seperti ini, mas akan mendapatkan masalah jika mas membunuhnya, aku tak mau mas dalam masalah," Anisa menahan tangan Bimo yang hampir saja mendarat di wajah sang asisten yang sebelumnya sudah menjadi korban tinjuan Alan, beruntung Anisa menyel;amatkannya dari tinjuan ke dua yang akan mendarat di wajahnya yang tak terlalu tampan namun manis itu.
Rasanya belum hilang rasa keterkagetan Rama dan Alan karena panggilan sayang Bimo pada Anisa, kuni mereka juga harus di buat terbengong-bengong karena sebutan 'istri ku' yang di sematkan Bimo pada Anisa.
Sungguh ini semua membuat dua pria itu seakan gila di buatnya karena tak mengerti dengan apa yang terjadi di antara BImo dan anisa.
"Tu-tunggu bos, apa maksud perkataan bos menyebut Anisa dengan sebutan istri ku?" Rama tak bisa menahan rasa keingin tahuannya.
"Aku tak punya waktu untuk menjelaskan, urus teman mu ini, aku akan membawa istri ku pulang!" Seperti sengaja, lagi-lagi Bimo menyebut Anisa dengan sebutan istri ku Menyisakan rasa penasaran yang besar di hati Rama, bagaimana Bimo bisa memanggil Anisa dengan sebutan istri ku sementara baru beberapa jam yang lalu dia menjadi sakasi pernikahan Bimo dengan kekasihnya.
'Hah,,, nasib jadi asisten bos tak tau diri, giliran susah ngajak bareng, kalu bagian seneng-senengnya lupa dengan yang menemani nya dalam kesusahan' geritu Rama yang hanya bisa dia ucapkan di dalam hatinya saja tentunya, mana berani dia melawan si bos besar arogan.
Bimo membawa Anisa ke dalam mobilnya, dengan terus memeluk dan menenangkan gadis itu yang terus saja menangis terisak karena masih merasa ketakutan dengan kejadian yang baru saja di alaminya itu.
"Apa kamu terluka? Mana yang sakit?" Bimo memeriksa wajah Anisa dengan memperhatikan setiap inci wajah sembap karena terus menangis itu.
Anisa menggeleng, tapi ujung mata Bimo menangkap lebam di kedua pergelangan tangan Anisa karena tadi Alan mencemgkeramnya dengan erat saat memaksa ingin menggagahinya, untungnya Anisa bisa melarikan diri dari napsu bejat mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Apa yang dia lakukan pada mu sampai tangan mu seperti ini?" Wajah Bimo kembali menegang merasakan amarahnya kembali memuncak.
"Harusnya ku bunuh saja tadi bajingan itu, tak usah kamu cegah!" Geramnya.
"Mas, aku tidak apa-apa, sudahlah. Jangan memperburuk keadaan lagi, aku tak mau mas dalam masalah," ucap Anisa seraya menyeka air matanya dengan punggung tangannya.
"Sayang, tangan mu sampai lebam begini dan kamu masih membelanya, mengatakan kalau kamu tidak apa-apa?" Bimo memukul kemudi mobilnya, dia merasa sangat marah tapi entah harus marah pada siapa, selain merasa marah, kini hatinya juga merasa panas seperti cemburu, karena merasa kalau istrinya itu terus saja membela mantan kekasihnya, mulai dari Anisa yang menahannya saat menghajar habis-habisan pria berengsek itu, hingga masaih menutup-nutupi kalau dirinya tidak apa-apa, padahal jelas-jelas tangannya memar, yang dia tak tau entah di perlakukan seperti apa istrinya oleh Alan sampai terluka sebegitunya.
"Aku mau pulang!" Rengek Anisa.
Bimo tak menjawab apapun, dia hanya menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya itu menjauh dari tempat laknat itu meninggalkan Rama yang menatapnya pasrah, asisten pribadinya itu di paksa harus pasrah menerima di tinggalkan di tempat antah berantah bahkan dia tak bisa memakai ponselnya untuk sekedar meminta bantuan karena terkendala sinyal.
"Kenapa ke sini, mas?" Tanya Anisa saat mobil yang di kemudikan Bimo justru malah mengarah ke luar kota, bukan kembali ke apartemennya.
"Tolong jangan protes dan jangan membantah untuk sekali ini saja, anggap saja ini sebagai hukuman mu karena tak mendengarkan perintah ku untuk tetap tinggal di apartemen selama aku memenuhi janji ku pada Viona," kata Bimo yang hanya mengatakan memenuhi janjinya pada Viona tanpa berani mengatakan pernikahannya dengan Viona, entah mengapa rasanya lidahnya terasa kaku saat akan mengucapkan pernikahan antara dirinya dan Viona di hadapan Anisa, sungguh dia merasa menjadi pria paling jahat karena selain menghianati pernikahannya dengan Anisa, dia juga menghianati hatinya sendiri yang jelas-jelas kini mengarah pada Anisa.
Deg,,,
Anisa baru tersadar 'Bukan kah hari ini adalah hari pernikahan Bimo dengan Viona? Lantas mengapa dia justru malah memilih untuk bersamanya?' Guman Anisa dalam batinnya.
Kini Anisa merasa seperti wanita yang sedang menculik pengantin pria dari pelaminan orang.
__ADS_1
Anisa juga tak tau bagaimana Bimo bisa tau keberadaan nya, padahal seingatnya dia tak memberi tahu siapapun perihal kepergiannya dengan Alan.