BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Talak


__ADS_3

Ponsel Anisa terus berdering siang ini, nama Rama tertera di layar, bukannya Anisa tak mau menerima panggilan telepon dari kakak kelasnya saat smu itu, hanya saja Anisa yakin jika panggilan telepon dari Rama kali ininpasti ingin menanyakan perihal hubungannya dengan Bimo, dan untuk pertanyaan itu Anisa belum punya jawaban yang tepat untuk di berikan pada Rama, biarlah Bimo yang menjelaskan pada asisten pribadinya itu, untuk sementara dirinya akan menarik diri dan menghindar dahulu dari pria yang pernah di tolak saat menyatakan cintanya pada Anisa itu.


Sementara Bimo yang masih mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk karena di tinggal berbulan madu bersama Anisa sampai tak punya waktu untuk makan siang di waktu istirahatnya


Namun tiba-tiba Viona menerobos masuk ke dalam ruang kerjanya dengan gayanya yang sangat arogan.


"Sayang, kenapa kamu tak tidur di apartemen ku semalam, kamu tidur dimana, kenapa meninggalkan ku lagi?" Ceroscos Viona tanpa jeda terus saja mengomel di hadapan Bimo yang tak sedikit pun menolehkan pandangan pada dirinya.


"Bimo, aku sedang bicara pada mu!" Teriak Viona marah karena merasa tak di pedulikan.


"Apa kau sudah sadar? Sudah tak mabuk lagi?" Tanya Bimo dengan mata yang memicing.


"A-pa, siapa yang mabuk?" Viona justru terlihat sangat gelagapan saat Bimo bertanya padanya dengan mata yang menatap tajam seakan ingin membunuhnya.

__ADS_1


"Berarti kau benar-benar sadar saat ini?" Bimo mengulang pertanyaannya.


"Tentu saja, kamu bisa lihat keadaan ku baik-baik saja sekarang ini."


"Baguslah kalau begitu, karrna kau kini dalam keadaan yang sehat, sadar dan baik-baik saja, maka dengan ini aku sampaikan pada mu kalau aku Bimo mahesa menalak mu, dan mulai saat ini kau bukan istriku lagi!" Tegas Bimo dengan lantangnya.


"Bim, apa-apaan kamu ini, jangan main-main dengan pernikahan! Kita menikah belum ada seminggu dan kamu meninggalkan ku tepat setelah acara pernikahan, lalu pulang-pulang kamu menceraikan aku, apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan itu?" Marah Viona.


"Tentu saja aku sangat sadar seribu persen, beruntungnya aku menyadari kebusukan mu saat penikahan kita baru berjalan 3 hari, sehingga aku tak terus terjebak dalam rencana busuk mu dalam menjerat ku dengan pura-pura hamil, cih,,, cara mu itu sangat menjijikan!" umpat Bimo tak bisa lagi menyembunyikan rasa kesal dan marahnya.


Satu-satunya gal dia ingat hanya saat dirinya pulang, Bimo sudah ada di apartemennya, lantas pahi harinya dia sudah tak bisa menemukan Bimo di apartemennya, sementara apa yang terjadi semalam sungguh dia tak bisa memgingatnya sama sekali.


"Tak usah membahas bayi yang sebenarnya tak ada, aku sudah tau yang sebenarnya, atau kau mau aku ajak ke rumah sakit sekarang juga untuk memastikan kehamilan mu?" Tantang Bimo.

__ADS_1


Viona sedikit terhenyak dengan tantangan Bimo padanya, tentu saja dirinya tak berani jika harus diperiksa kehamilan di rumah sakit, karena memang bayi itu tak pernah ada di perutnya.


"Kenapa, takut?" sambung Bimo, saat melihat wajah Viona yang terlihat semakin pucat itu.


"Da-dari mana kamu mendapat berita bohong itu, itu semua fitnah." Elak Viona tak mau mengakui semua yang di tuduhkan padanya.


"Hahaha kau, kau yang mengatakan semua itu pada ku semalam. Masih mau menuduh diri mu sendiri telah memfitnah? Sudah lah, aku sudah tak ingin berurusan apa pun dengan mu, sebaiknya kau pergi dari hadapan ku sekarang juga!" Usir Bimo.


"Bimo, aku ini istri mu, kau tak bisa mengusir ku seenaknya, kau tak bisa memperlakukan ku sejahat ini!"


"Rama, usir perempuan ini dari ruangan ku dan pastikan jangan pernah izinkan lagi dia untuk datang ke sini!" Titah Bimo saat Rama datang je ruangannya karena mendengar suara ribut-ribut dari ruangan bosnya.


"Bimo, aku ini istri mu, ingat itu, aku akan mengatakan pada semua orang dan mengumumkan pada semua wartawan kalau kau adalah suami ku," ancam Viona.

__ADS_1


"Coba saja kalau kau berani, dan ingat, aku sudah menceraikan mu, kau bukan lagi istri ku." Bimo tak gentar dengan ancaman Viona, meski hatinya sedikit khawatir jika sampai ancaman Viona di buktikan tentu saja hal itu akan sampai ke telinga sang kakek dan berita itu bisa saja membuat kakeknya menjadi drop, dan Bimo pastikan jika sampai hal itu terjadi, Bimo tak akan pernah memaafkan Viona sampai kapan pun.


__ADS_2