
Mata Bimo langsung tertuju pada selembar foto yang ada di laci itu. Foto Anisa sedang duduk berdua dengan seorang pria, tak ada yang aneh dengan posenya, terlihat biasa saja, hanya saja wajah Anisa terlihat seperti bahagia di sana, sehingga membuat dada Bimo sedikit bergemuruh dan tak suka melihatnya, meski dia tak tahu siapa pria yang berda di foto itu, hanya saja itu sangat mengganggu perasaan Bimo saat itu.
"Mas?" Tiba-tiba Anisa masuk ke kamar itu dan mengagetkan dirinya yang buru menutup kembali laci meja belajar milik Anisa yang tadi di bukanya.
"Ah, emh,, iya!" Gugup Bimo berpura-pura tak terjadi apapun.
"Maaf ya, kamarnya sempit, mas yang tidur di ranjang, biar aku nanti tidur di bawah saja," kata Anisa.
"Mana bisa seperti itu, ayo tidur di sini saja barengan, aku juga tak akan macem-macem, kalau kamukberatan, biar aku yang tidur di bawah." Tolak Bimo, maa mungkin dirinya yang seorang pria tidur di ranjang dan membiarkan wanita tidur di lantai.
Anisa tertegun beberapa saat menimbang nimbang apa yang harus di perbuatnya.
"Baiklah, kita tidur di sana!" Anisa menunjuk kasur sempitnya, karena dia juga tak mungkin membiarkan suaminya tidur di lantai, lagi pula tak apa kan, toh dia dan Bimo sudah halal untuk sekedar tidur bersebelahan ataupun melakukan hal yang lebih dari itu, walaupun itu rasanya tak mungkin.
Mereka berdua berbaring bersebelahan, hanya di batasi oleh guling di tengah untuk membatasi mereka, sudah hampir tengah malam, namun baik Bimo maupun Anisa belum ada yang bisa memejamkan matanya malam itu.
Jika Anisa tak bisa tidur karena ini pengalaman pertamanya tidur bersebelahan dengan seorang pria sehingga membuat jantungnya berdebar-debar tak karuan, lain halnya dengan Bimo yan sudah terbiasa tidur bersama Viona bahkan melakukan hal lebih dari itu, namun yang membuatnya tak bisa tidur malam ini adalah bayangannya tentang selembar foto telah membuatnya merasa penasaran luar biasa.
"NIsa, apa aku boleh bertanya sesuatu?" Bimo memberanikan diri bertanya pada Anisa saat dia melirik ke sebelah kirinya ternyata gadis itu masih menatap langit-langit kamar, sepertinya istrinya itu sedang melamunkan sesuatu, 'Apa mungkin Anisa sedang melamunkan pria yang ada di foto itu?' pikiran Bimo langsung menuduh ke arah sana.
__ADS_1
"Ya, apa yang ingin mas tanyakan?"
"Emh, apa kamu punya kekasih?" Terdengar lucu memang pertanyaan Bimo ini, di mana seharusnya dia menanyakan ha itu sebelum mereka memutuskan untuk menikah, namun hal itu Bimo tanyakan justru setelah mereka sah menjadi suami istri.
"T-tidak, kenapa memangnya mas?' Anisa mengernyit dan memiringkan tubuhnya menghadap Bimo, merasa bingung karena tiba-tiba suaminya menanyakan hal yang menyangkut tentang masalah pribadinya.
"Tidak apa-apa, hanya penasaran saja, jangan-jangan kamu punya kekasih, dan aku tak tau, aku bisa ngerasa bersalah pada kekasih mu,"
"Rasanya aku sudah pernah memberi tahu mas dulu pas awal-awal ketemu kalau aku baru putus dan tidak punya kekasih, apa mas lupa?" Anisa memicing.
Bimo terlihat seperti sedang berpikir atau mengingat ingat, namun sialnya dia tak mengingat apapun, sepertinya bukan lupa tapi dia benar-benar tak menyimak obrolan mereka yang bagian itu.
"Tidak juga, aku hanya iseng saja bertanya karena aku tak bisa tidur, ya sudah aku ngantuk sekarang!" Bimo berpura-pura menguap dan langsung memejamkan matanya yan belum ngantuk sama sekal itu.
Bimo hanya tak ingin membicarakan hal itu lebih jauh lagi, salah salah nanti Anisa bisa tau kalau dirinya sedang kepo karena penasaran dengan sosok pria di foto itu.
Tok,,,tok,,,tok,,,!
Suara pintu kamar Anisa di ketuk dari luar, sepertinya ada suara ibunya juga memanggil anak dan menantunya untuk sarapan.
__ADS_1
Suara ketukan pintu Tati membuat Bimo dan Anisa terbangun secara bersamaan namun yang membuat mereka berdua terkejut itu bukan suara ketukan pintu Tati dari luar, melainkan posisi mereka yang tiba-tiba mereka sadari sedang berpelukan dengan eratnya.
"Ah, maaf!" kaget mereka hampir bersamaan dan spontan saling melepaskan pelukan mereka.
Suasana canggung di antarmerea berdua sampai terbawa saat mereka berada di meja makan untuk sarapan bersama ibu dan bapaknya Anisa.
"Apa kalian bertengkar?" Tanya Umar saat melihat anak dan menantunya tak saling bertegur sap bahkan terlihat seolah saling menghindar.
"Ti-tidak!" Jawab mereka serempak.
"Syukurlah, bapak hanya berpesan, dalam rumah tangga masalah itu pasti ada, hanya saja kita harus menyikapinya dengan dewasa, pokoknya jangan sedikit-sedikit kalau berantem itu minta pisah, kalian harus akur, menikah itu sekali seumur hidup, ingat pesan bapak, kalian harus senantiasa rukun dan menjlani rumah tangga sampai maut memisahkan," Umar memberikan petuahnya pada anak dan menantu kesayangannya itu.
"Iya, pak!" Jawab mereka yang lagi-lagi serempak menjawab Umar.
Andai Umar tau kalau pernikahan kedua mahluk yang berada di hadapannya itu hanyalah sebuah sandiwara dan hanya akan bertahan selama 6 bulan saja, pastilah pria setengah baya itu akan merasa sangat sedih dan kecewa.
Entahlah bagaimana nanti mereka menyampaikan semua kenyataan pahit itu pada orang tuanya dan juga pada kakeknya, mereka juga tak tau apa mereka sanggup menyampaikannya kelak.
"Kami baik-baik saja pak," ucap Bimo seraya mengelus kepala Anisa dengan penuh sayang, berusaha meyakinkan Umar kalau antara dirinya dan Anisa memang tak ada masalah apa-apa.
__ADS_1