
Ponsel Bimo terus saja berdering tanpa henti, kali ini bukan Viona pelakunya, melainkan Rama sang sekretaris, yang mengganggu waktu tidur siangnya itu.
[Ada apa, kau mengganggu waktu tidur siang ku?] Bentak Bimo.
[Akan ada tamu penting di hotel, sebaiknya bapak datang menemuinya, dia calon investor besar,] lapor Rama dari seberang sana.
[Baik, kurang dari satu jam aku sudah ada di sana.]
Niat hati ingin tetap berada di apartemen menyelesaikan semua tugasnya, namun apa daya panggilan telepon dari Rama memaksanya untuk datang ke hotel, bagaimana pun investor itu akan memberi banyak keuntungan baginya, jadi dia tetap harus menemuinya.
Sesuai janjinya, kurang dari satu jam Bimo sudah berada di ruangan kerjanya, di temani Rama yang membantunya memeriksa beberapa dokumen, sementara tamu yang di tunggunya belum juga datang.
Sampai pada akhirnya resepsionis menghubungi Rama dan menyampaikan padanya kalau tamu yang mereka tunggu sudah datang dan menunggu di ruang rapat.
Bimo di temani Rama segera turun, karena pertemuan di lakukan di ruang rapat yang berada tiga lantai bawah dari lantai yang di tempatinya.
Terlihat pria paruh baya di dampingi seorang pria muda sudah menunggu kedatangan mereka di temani petugas resepsionis yang bertugas menemani para tamu di sana.
"Wah, apa ini kamu Ram? Kau berubah sekali, tubuh mu semakin kekar sekarang!" Sapa Alan yang ternyata adalah orang yang mendampingi investor itu.
"Ah,,, Alan, aku pikir siapa, kau gagah sekali memakai jas begini, aku hampir saja tidak mengenali mu, sudah jadi pengacara sukses kau rupanya," Rama menerima jabatan tangan teman masa sekolahnya itu.
'Alan? Apa ini Alan yang pernah Rama ceritakan kalau pria itu mantan kekasih Anisa ?' Batin Bimo menelisik memperhatikan penampilan Alan dari ujung kepala sampai ke ujung kaki tanpa ada yang ingin dia lewatkan.
__ADS_1
"Oh, aku mendampingi klien ku ini, kebetulan tadi baru melakukan pertemuan lain sebelumnya," terang Alan sambil menunjuk pria paruh baya yang kini sedang bersamanya.
Perbincangan bisnis antara Bimo dan pak Barata calon investor itu berjalan lancar meski pikiran Bimo sedikit terganggu akibat memikirkan dan menebak-nebak siapa Alan ini sebenarnya.
Di akhir pertemuan saat Bimo dan Rama mengantarkan kedua tamu nya itu sebagai bentuk ramah tamah tuan rumah, tiba-tiba Alan mengatakan hal yang membuat wajah Bimo merah padam saat itu.
"Oh iya Ram, Anisa sekarang bekerja pada ku, akhirnya aku punya kesempatan lagi untuk mendekatinya, meski itu sangat susah, tapi aku yakin aku pasti bisa mendapatkan hatinya kembali," celotehnya dengan santai dan cueknya seolah hanya mereka berdua saja yang mengerti dengan topik pembicaraan yang mereka bicarakan saat ini.
Mereka tak tau jika hati Bimo kini sudah hangus terbakar oleh api amarah nya karena mendengar celotehan Alan, namun sialnya dia tak bisa berbuat apa-apa selain diam dan mendengarkan apa yang Alan bicarakan dengan Rama.
Kini Bimo yakin kalau pria ini adalah benar-benar Alan yang pernah menjadi kekasih Anisa yang pernah di ceritakan Rama itu.
"Kerja pada mu?" Beo Rama tak percaya, wajah nya juga menampakan rasa ke tidak sukaannya dengan ucapan Alan barusan.
"Tapi seharusnya kau tak mempermainkannya lagi, apalagi dengan bertameng pekerjaan seperti ini, kasian dia," protes Rama yang sejak jaman sekolah dulu sangat menentang dan tidak suka jika Anisa harus berpacaran dengan pria yang di kenalnya sangat berengsek itu,
Sebenanarnya Rama juga agak merasa aneh, bukannya Anisa pernah mengatakan kalau dia itu masih sangat membenci mantan kekasihnya itu, lantas mengapa tiba-tiba dia menerima pekerjaan yang di tawarkan Alan padanya, ini aneh! Pikir Rama dalam hatinya.
"Aku tak mempermainkan nya, aku juga tak merencanakan tentang ini, mungkin ini cara Tuhan mempertemukan kami kembali agar aku bisa memperbaiki hubungan kami kembali, aku masih sangat mencintainya. 3 tahun Ram, hubungan kami bukan waktu yang sebentar," ocehnya.
"Tapi kau menghianatinya, kau yang menyia-nyiakan 3 tahun kepercayaan Anisa. Lantas bagaimana dan kapan kau bertemu dengannya lagi?" Kekepoan Rama mengubun ubun, sungguh rasanya dia tak rela jika Anisa harus dekat lagi dengan Alan pria yang di kenalnya gemar sekali mempermainkan perempuan itu.
"Aku bertemu dengan nya beberapa hari yang lalu di tempat favoritnya, pasar loak! Saat itu ide untuk mendesain ulang kantor ku tiba-tiba saja muncul, aku hanya berharap kalau Anisa mau membuka hatinya kembali untuk ku, aku masih mencintainya, sungguh!" Ungkap Alan serius.
__ADS_1
"Lalu Luna? Bukannya kau dengan Luna---"
"Aku tak ada hubungan apa-apa dengan Luna, kami hanya saling memuaskan tanpa ikatan hubungan apapun, dan kami sudah tak pernah bertemu dan berkomunikasi lagi setelah kejadian itu." Elak Alan.
"Kalian berdua memang berengsek, kekasih dan sahabat tak tau diri, tega menyakiti Anisa yang begitu baik dan tulus pada kalian berdua," maki Rama.
"Hahaha,,, aku tau kau berbicara seperti ini karena kau iri, dulu kau menyukai Anisa tapi Anisa malah memilih ku, atau jangan-jangan kau masih menyukai nya sampai saat ini, namun masih tak berani mengatakannya!" Cibir Alan dengan nada mengejek, membuat Rama mendecih kesal.
Tapi orang yang paling kesal dengan obrolan yang di lakukan Alan dan Rama saat itu adalah Bimo, tanpa ada yang menyadari pria itu sedang menggenggam api kemarahan dan kekesalan di hatinya.
Mendengar semua cerita yang terlontar dari mulut Alan dan Rama membuatnya sangat ingin menghancurkan apapun yang ada di hadapannya saat ini, namun sayangnya dia tak bisa melakukan semua itu, sungguh sebenarnya dia sangat ingin meneriakan di telinga Alan dan Rama dengan kencang dan lantang kalau wanita yang sedang mereka bicarakan itu adalah istrinya, istri sah nya.
Namun sayangnya saat ini Bimo hanya bisa memendam kemarahannya.
"Rama, pekerjaan mu masih sangat banyak, apa kau akan terus bergosip seperti ibu-ibu komplek di sana?" Kesal Bimo yang langsung menyemprot Rama tanpa ampun hanya karena dia mengobrol dengan Alan.
"I-iya pak, maaf." Rama lantas mengekor langkah Bimo yang berjalan terlebih dahulu di depannya dengan wajah yang sangat tak bersahabat padanya.
Sepanjang hari di kantor Bimo terus saja uring uringan tak jelas, bahkan semua yang di lakukan dan di kerjakan Rama tak pernah ada yang benar, sepertinya cara bernafas Rama saja di komentari dan di persalahkan oleh Bimo.
"Rama, apa pria tadi yang bersama Barata itu teman sekolah mu yang kau bilang mantan kekasih Anisa yang pernah kau certitakan itu?" Akhirnya Bimo tak kuat menahan rasa penasaran dan rasa keingin tahuannya itu.
"Ah itu, iya pak. Alan mantan kekasih Anisa, kenapa? Apa pak bos ada masalah dengan nya?" tanya Rama lagi.
__ADS_1
"Tidak!" Jawab Bimo singkat.