
"Aku hamil, kita akan segera punya baby, itu berarti kita harus segera menikah sebelum perut ku semakin membesar," pekik Viona menceritakan dengan antusias dan sumringah tentang kehamilannya itu.
Duar !!!
Sungguh apa yang di sampaikan Viona padanya justru terdengar bak sambaran petir di siang bolong, Bimo tersentak kaget dan tak bisa berkata-kata, bukannya tak mensyukuri pemberian Tuhan, hanya saja ini bukan waktu yang tepat dimana dirinya masih mempunyai banyak hal yang belum terselesaikan.
Kondisi sekarang ini sungguh tidak memungkinkan untuk dirinya menerima hal itu, andai ini terjadi sebelum kepergian Viona ke luar negeri, pastilah ini akan menjadi sebuah berita yang sangat membahagiakan baginya.
Hanya saja sekarang ini kondisi nya sudah berbeda, dirinya sudah terikat pernikahan dengan wanita lain, lalu tiba-tiba yang saat ini berstatus sebagai kekasih gelapnya itu hamil, bagaimana dia harus menceritakan ini semua pada Anisa, pada kakeknya, pada orang tua anisa, ini gila, terlalu gila! Batin Bimo.
"A-apa maksud mu? Bayi?" Bimo tergagap, jantungnya berdegup sangat kencang, kakinya terasa lemas bagai tak bertulang.
"Iya sayang, kita akan punya bayi!" Viona mengulang perkataannya.
Tubuh Bimo terhuyung dan langsung terduduk di sofa ruang tengah apartement kekasihnya itu.
Tiba-tiba kepalanya terasa sangat pening, pandangannya pun mulai mengabur, sungguh bukan hal seperti ini yang di harapkannya, tapi mengapa justru yang terjadi malah se rumit ini.
"Sayang, ada apa, kenapa?" Tanya Viona panik. Dia merasa kalau kekasihnya seperti tak antusias, lebih tepatnya seperti tidak senang mendapat berita itu darinya.
"Sayang, apa kamu marah? Kamu tidak suka?" Viona menyelidik.
"Bukan begitu, aku hanya merasa waktunya belum tepat, kondisi kakek juga belum memungkinkan untuk mendapat berita mendadak seperti ini, Viona, bukankah aku selalu memakai pengaman saat berhubungan dengan mu, kenapa bisa terjadi seperti ini?" Tanya Bimo dengan kening yang berkerut seperti sedang mengingat-ingat sesuatu.
Menyakitkan dan terkesan jahat memang pertanyaan yang dilontarkan Bimo pada kekasih gelapnya itu, hanya saja dia sangat yakin kalau dirinya selalu menggunakan pengaman saat berhubungan dengan Viona, salah satu alasannya memang agar untuk mencegah hal seperti ini, akan sangat menjadi bertambah rumit jika sudah terjadi seperti ini, karena bukannya dia tak ingin menikah dan mempunyai anak dengan kekasihnya itu, hanya saja dia ingin menyelesaikan satu persatu permasalahan yang terjadi terlebih dahulu.
Sementara sampai saat ini dia saja belum bisa melepaskan status Anisa sebagai istrinya, hatinya selalu saja menolak saat dirinya mengingat kalau tiga bulan lagi pernikahan dirinya dan Anisa harus berakhir.
Bimo bahkan tak tau apa yang membuat dirinya berubah menjadi sosok yang begitu egois dan serakah sehingga enggan melepaskan Anisa tapi juga tak bisa mengakhiri hubungannya dengan Viona.
__ADS_1
"Apa kamu sedang menuduh ku dan ingin mengatakan kalau bayi dalam perut ku ini milik orang lain?" Pekik Viona tak percaya dengan sikap yang di tunjukkan Bimo padanya saat ini, secara selama ini dia selalu meminta dirinya untuk segera menikah dengannya, namun saat dirinya sudah membulatkan tekat untuk bersedia menikah dengan Bimo, terlebih sudah tumbuh janin di perutnya, Bimo seakan menampakan sikap yang bertentangan seperti yang di tampakkan padanya beberapa bulan lalu, sebelum dirinya menerima pekerjaan di Singapura.
"Bukan seperti itu, aku tak bermaksud menuduh mu atau---" Bimo makin serba salah, seakan apapun yang di ucapkannya saat ini dapat dengan mudahnya di patahkan oleh Viona dan dijadikan nya senjata untuk menyerang balik dirinya.
"Kau mau bilang kalau selama ini kau selalu menggunakan pengaman saat berhubungan dengan ku? Lantas bagaimana saat kau mabuk di klub malam, bukannya sepulang dari sana kita melakukannya di dalam mobil dan itu tak memakai pengaman," terang Viona membela diri.
"Apa kau ingin lari dan lepas dari tanggung jawab, ha ?!" Suara Viona melengking menunjukkan betapa marahnya dia saat ini.
"Aku akan bertanggung jawab, tentu saja aku akan bertanggung jawab atas apa yang telah aku perbuat pada mu, aku mencintai mu, tak mungkin aku tega menyakiti mu, kamu pasti tau itu." Ucap Bimo lugas.
Bimo mendekap erat tubuh Viona mencoba menenangkan hati kekasihnya itu, meskipun hatinya sendiri pun terasa sangat tidak tenang saat ini.
Tapi tentu saja dia tak boleh menjadi pria pengecut yang lari dari tanggung jawabnya semua harus di hadapi dengan jiwa ksatria seperti yang sering kakek nya ajarkan padanya.
"Lantas bagaimana? Kita tak bisa menunda lagi pernikahan kita, sebentar lagi perut ku akan membesar, ingat, aku ini public figure, akan lebih banyak mata yang memperhatikan setiap perubahan tubuh ku, kakek mu akan lebih syok jika mendapat kabar ini dari media," ucap Viona setengah mengancam dan menakut-nakuti Bimo.
"Iya aku akan berusaha berbicara pada kakek pelan-pelan, hanya saja aku butuh waktu." Pinta Bimo seraya berkata pada Viona untuk memintanya agar sedikit bersabar
Bimo menghela nafas beratnya, jujur saja dia juga tak bisa memastikan berapa lama lama waktu yang dapat dia janjikan pada kekasihnya itu, karena sejatinya dia tak akan pernah bisa menceritakan masalah itu pada kakeknya.
Bukankah sama saja dia akan membunuh Surya jika dia sampai memberitahukan masalah ini padanya.
"Bagaimana kalau kita menikah siri dulu, sambil menunggu aku meminta ijin dari kakek, aku yakin kakek akan luluh jika aku berbicara perlahan padanya, dan setelah itu baru kita menikah resmi." Ide gila tiba-tiba muncul di benak Bimo, entah lah bagaimana bisa dia berpikiran untuk menikah siri dengan Viona.
Menurut Bimo, itu salah satu solusi terbaik, sengan menikah siri, Viona tak harus tau tentang statusnya yang sudah menikah, dan dia juga tak harus melepas statusnya sebagai suami dari Anisa.
Ah, betapa Bimo benar-benar seperti bajingan sejati, dimana Pikiran-pikiran jahatnya selalu dapat muncul dengan mudahnya di kepala kala di butuhkan.
"Nikah siri? Tapi kenapa harus nikah siri? Bukankah kita bisa langsung nikah resmi tapi diam-diam, dan tidak usah memberi tahu kakek mu dulu," protes Viona seperti tak terima jika dirinya harus menjalani nikah siri dengan kekasihnya itu, apalagi menurut sepengetahuannya dengan hanya menikah siri dia tak akan bisa menuntut apapun dari suaminya kelak jika sampai terjadi perpisahan.
__ADS_1
"Viona, tolong mengerti, ini untuk kebaikan semuanya, impian ku selama ini aku ingin kakek hadir dan menyaksikan pernikahan resmi kita, jadi bersabarlah untuk sementara waktu sambil kita menikah siri dahulu," bujuk Bimo mengeluarkan segala jurusnya agar Viona mau menuruti kemauannya.
Lama Viona terdiam sampai pada akhirnya,
"Oke, aku setuju, kapan kita menikah siri?" Tanya Viona pasrah, dari pada dia tidak di nikahi sama sekali, bukankah ujung-ujungnya nanti juga akan di nikahi secara resmi, dia hanya butuh sedikit bersabar saja.
"Secepatnya." Jawab Bimo dengan tegas dan yakin.
"Aku tunggu janji mu," ucap Viona.
"Ya, aku pasti memenuhinya dan tak akan ingkar pada janji ku, terimakasih sudah mau mengerti dan bersabar untuk ku." Bimo mengecup kening Viona dalam.
"Aku harus pulang, aku harus mempersiapkan segala sesuatu nya." Pamit Bimo yang lantas di angguki Viona meski rasanya sangat berat melepas Bimo pulang.
**
Wajah Bimo terlihat lesu dan kuyu saat dirinya memasuki kamar pribadinya, sungguh hati dan pikirannya terasa lelah dan kacau saat ini.
"Mas, baru pulang? Sudah makan malam?" Sapa Anisa.
Bimo memutar tubuhnya menghadap sang istri yang sejak tadi saat pertama kali dirinya masuk ke kamar itu ternyata sudah memperhatikan nya.
"Apa kamu sakit, mas?" Tanya Anisa lagi terlihat agak cemas dengan keadaan Bimo yang terlihat sangat kacau.
"Tidak, aku baik-baik saja. Duduklah, ada hal yang harus aku bicarakan dengan mu." Bimo menunjuk sofa empuk di kamarnya seraya menyuruh Anisa untuk duduk di sana.
Anisa dengan patuh segera duduk di sofa yang di tunjuk Bimo, lalu setelah itu Bimo menyusul duduk di sebelahnya.
Lama Bimo terdiam, begitu juga Anisa. Wanita itu tampak sabar menunggu Bimo mengatakan apa yang ingin di karakannya.
__ADS_1
"Aku akan menikah lagi!" ucap Bimo dengan susah payah, namun akhirnya berhasil mengucapkan kalimat itu.