
Anisa menghela nafasnya dalam sekali, lalu membawa semua yang di butuhkannya seperti handuk kecil, air hangat dan kotak P3K bersamanya menuju Bimo yang masih belum beranjak dari tempat duduknya semula.
Tak sepatah kata pun Anisa keluarkan dari mulutnya, dia hanya duduk bersimpuh di lantai yang berantakan karena barang-barang yang kena amukan Bimo, perlahan Anisa meraih tangan Bimo yang terluka itu, lalu memeriksanya dengan teliti.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Bimo menarik tangannya dengan paksa agar terlepas dari genggaman tangan Anisa.
"Ayo ikut aku!" Ajak Anisa.
"Aku sedang tak ingin pergi kemana pun!" tolak Bimo.
"Jangan keras kepala, ayo cepat, masih banyak sisa pecahan kaca di tangan mu, aku tak bisa membersihkan nya," Anisa sepertinya menyerah untuk membersihkan dan mengobati luka di tangan Bimo, karena dia melihat masih banyak sekali pecahan kaca menempel di punggung tangan pria itu, sepertinya Bimo memang perlu tenaga ahli untuk mengobatinya, bukan amatiran seperti dirinya.
"Biarkan saja, apa peduli mu!" ketus Bimo.
"Tentu saja aku peduli, kamu suami ku mas," ucap Anisa lantang.
Deg,
Hati Bimo seakan tersentak hebat, untuk pertama kalinya ada wanita yang menyebutnya suami ku, mengingatkan dirinya kalau saat ini statusnya adalah seorang suami, bagaimanapun cara mereka menikah dan apa pun alasan mengapa mereka menikah, yang jelas di mata hukum negara dan hukum agama mereka sah sebagai pasangan suami istri.
Sungguh ironis memang, Bimo kini seolah menjadi pria yang paling buruk, di mana dia sebagai seorang suami yang marah-marah bahkan ngamuk dan terluka karena wanita lain, sementara Anisa yang mengobatinya.
"Kenapa malah melamun, mas? Ayo!" ajak Anisa lagi.
Bagai kerbau di cocok hidungnya, Bimo menuruti semua perintah Anisa, bahkan ketika Anisa mengajaknya untuk di bonceng di motornya, Bimo tak protes sama sekali, siang itu Bimo menjadi pria sekaligus suami yang sangat patuh pada istrinya.
Anisa terus memperhatikan dokter dan perawat yang sedang mengurus luka suaminya, kadang dirinya ikut meringis saat wajah Bimo terlihat agak meringis menahan sakit di tangannya.
__ADS_1
"Sudah selesai nyonya, lukanya jangan terkena air dulu, dan untuk obatnya ada antibiotik dan painkiller, silakan," ucap perawat wanita di klinik itu dengan ramah.
Anisa memang sengaja memilih klinik dekat apartemen, karena rumah sakit jaraknya lumayan jauh, takutnya tangan Bimo malah tambah parah atau infeksi, pikirnya yang awam dengan masalah medis itu.
"Baik, terimakasih sus," ucap Anisa sambil mengangguk tanda hormat.
"Sepertinya kamu sudah harus belajar nyetir mobil," gerutu Bimo saat hendak di bonceng kembali oleh istrinya, rasanya dia menjadi pria yang pecundang karena harus di bonceng oleh perempuan.
"Kenapa? Aku sukanya naik motor, mas. karena lebih cepat dan bisa nyalip sana sini, saat macet," seloroh Anisa seraya menstarter motornya.
Hari sudah sore saat mereka kembali ke apartemen, sebelumnya Anisa juga mampir ke supermarket membeli beberapa sayuran dan makanan ringan, rencananya Anisa akan memasak di apartemen, para pekerja pasti sudah pulang, karena hari sudah sore.
"Istirahat dulu di sini ya mas, nanti aku masak untuk makan malam, aku sudah mengirim pesan pada kakek kalau hari ini kita pulang telat, kita tunggu kakek tidur baru kita pulang, aku tak mau kakek hawatir liat luka di tangan mu," kata Anisa, sebelum pergi ke klinik tadi, Anisa sudah menyuruh para pekerja untuk membereskan kamar yang tadi bak kapal pecah itu, sepertinya sekarang sudah kembali beres.
Apartemen itu memang sudah hampir selesai di kerjakan, hanya tinggal sentuhan-sentuhan kecil untuk mempercantiknya, lagi pula tidak semua bagian Anisa rubah, untuk bagian-bagian yang masih bagus dan sesuai dengan tema yang di inginkannya, akan tetap di pertahankan tidak di bongkar.
Anisa tak ingin berdebat dengan Bimo hanya karena pria itu lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya di sofa, biarlah toh sama-sama istirahat, Bimo juga sudah semakin terlihat tenang saat ini.
Dari sofa tempatnya berbaring kini, matanya terus mandangi Anisa yang wara-wiri di dapur, gadia itu sungguh sangat istimewa, tak hanya pandai dalam pekerjaannya, tapi dia juga pandai dalam mengurus urusan rumah tangganya.
Bimo juga merasa kagum dengan hasil kerja Anisa yang merubah disain apartemen itu menjadi sangat elegan dan unik, meski belum selesai sempurna, namun sudah membuatnya merasa betah berlama-lama di tempat itu.
"Mas, masakannya sudah siap. Mas mau makan di sana aku anterin, atau makan di meja makan?" Tanya Anisa membuyarkan semua lamunannya.
"Ah, di sana saja, aku ingin mencoba meja makan yang kemarin kita buat bersama kemarin," selorohnya.
"Mas, kamu hanya membantu memasangkan satu paku kemarin di kaki mejanya, tapi sudah mengklaim ikut serta membuatnya!" Anisa memutar bola matanya kesal.
__ADS_1
Namun Bimo hanya menyeringai, jauh di dalam hatinya Bimo sedang mengagumi betapa saat ini Anisa yang mash mengenakan apron dengan keringat yang bercucuran di dahi gadis itu terlihat sangat seksssi dan cantik luar biasa.
Jika biasanya dia terbiasa melihat para wanita yang selalu tampil sempurna dengan make up dan busana yang wah saat bersama dengannya, itu tidak berlaku bagi Anisa, cukup hanya tampil apa adanya saja bisa membuat Bimo merasa gadis itu memang istimewa.
"Kenapa tak di makan, mas? Apa mas tak suka dengan masakan ku? Atau mau aku pesan kan makanan yang kamu mau?" heran Anisa, karena Bimo hanya memandangi makanan yang Anisa sajikan di piring untuk dirinya utu.
Bimo lantas mengacungkan tangan kanannya yang di balut perban, sehingga menyulitkan dirinya bahkan hanya untuk sekedar memegang sendok.
"Ah, aku lupa kalau tangan mas terluka," Anisa menepuk jidatnya sendiri, lalu dia beranjak dari duduknya menghampiri Bimo yang sepertinya sudah sangat lapar dan ingin menyantap makanannya namun terkendala dengan tangannya yang terluka.
"Sini aku suapin ya, mas," Anisa meraih piring berisi nasi dan lauk yang tadi dia masak.
Bimo membuka mulutnya saat sendok yang di sodorkan Anisa ke depan mulutnya semakin mendekat.
"Maaf sudah merepotkan mu," lirih Bimo, merasa tak enak hati.
"Ini kan memang tugas ku sebagai seorang istri, mas," kilaha Anisa seraya memberikan dua butir obat untuk Bimo minum, setelah nasi di piring berpindah tempat ke perut Bimo.
"Kamu memang istri yang baik, kelak jika sudah bercerai dengan ku, suami mu pasti sangat beruntung mendapat istri seperti mu," cicit Bimo.
"Sudah lah mas, jangan memikirkan esok lusa, jalani saja dulu hari ini dengan baik, ikhlas dan bahagia, itu sudah cukup," tepis Anisa, hatinya merasa bagai di cubit saat Bimo menyinggung tentang perceraian mereka kelak.
"Nisa, kenapa kamu tak bertanya pada ku, alasan ku marah sampai terjadi seperti ini?" Bimo menunjuk punggung tangan kanan nya yang terluka dengan dagunya yang di majukan.
Jujur saja Bimo merasa heran, kenapa Anisa bisa tak bertanya sedikit pun apa yang menjadi alasan dirinya menjadi marah.
"Mas kan pernah bilang pada ku untuk tak mencampuri urusan mas, aku hanya berusaha untuk patuh, meski pun aku hampir mati penasaran ingin tau kenapa bisa sampai terjadi seperti itu," terang Anisa.
__ADS_1
"Kepo, kamu!" ucap Bimo sambil melempar tisyu bekas ke arah istrinya duduk.