BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Modus !


__ADS_3

Tak banyak yang Bimo dan Viona bicarakan, hanya saja Viona berpesan kalau sebaiknya Bimo tinggal di rumah kakeknya dulu selama dia masih sakit karena dirinya tak bisa dan tak pintar mengurus pasien, begitu kira-kira yaang di bicarakan Viona pada Bimo, membuat Bimo merasa lega sekaligus miris.


Lega karena akhirnya bisa punya lebih banyak waktu bersama dengan Anisa, namun mirisnya ternyata justru di saat dirinya sakit seperti ini hanya Anisa yang peduli padanya, sementara Viona terkesan seperti tak mau mengurusi dirinya yang sedang sakit itu dengan seribu alasan yang di berikan padanya.


'Oke mari kita berpositif thinking, mungkin itu karena Viona sedanng hamil, jadi dia tak ingin terlalu lelah karena dia juga harus menjaga kandungannya, setidaknya masih ada Anisa yang dengan suka rela mengurusi ku,' Bimo menepis pikiran-pikiran buruk yang seolah memaksa untuk di terima di kepalanya, namun Bimo segera menepisnya, bagaimana pun Viona akan menjadi istrinya dalam hitungan beberapa hari ke depan, dia tak boleh menaruh pikiran buruk padanya, pada kekasih yang selama beberapa tahun ini bersamanya.


"Ayo makan dulu mas. Setelah itu minum obat agar demam mu turun," Anisa datang dengan semangkuk bubur di tangannya.


Dengan telaten dan penuh perhatian Anisa menyuapi suaminya yang saat ini sedang memikirkan wanita lain di kepalanya.


Ya, saat ini Bimo memang sedang memikirkan pernikahannya dengan Viona yang harus di laksanakan secepatnya sesuai janji yang di ucapkannya pada kekasihnya itu, namun yang menjadi ganjalan di hatinya itu adalah, mengapa hatinya seolah tak pernah menyetujui hal itu, bukankah menikah dengan Viona adalah mimpi terbesarnya selama ini?


"Ada apa mas? Ada yang sedang kamu khawatirkan?" Tanya Anisa setelah selesai menyuapi Bimo namun sepanjang dia menyuapi bubur buatannya sampai habis, Bimo tak mengeluarkan kata sedikit pun, dia hanya sibuk dengan pikirannya.


"Emh,,, pernikahan ku dengan Viona---"


"Minumlah obatnya, lalu istirahat, aku akan menjaga mu, semoga sebelum hari pernikahan mu dengan mbak Viona kamu sudah sembuh, mas." Sambar Anisa.


Bimo menghela nafas nya panjang, sejujurnya bukan itu yang dia khawatirkan, dan bukan itu juga yang hendak dia sampaikan pada istrinya itu, hanya saja Anisa keburu memotong pembicaraan nya.


Namun Bimo tak punya banyak energi untuk berdebat dengan istrinya itu, dia lebih memilih untuk mengikuti instruksi istrinya, meminum obat, lalu tidur.


"Jangan pergi jauh-jauh, aku mau kamu berada di dekat ku."Pintanya dengan tatapan memohon pada Anisa.


Di tatap seperti itu membuat Anisa tak dapat menolak permohonan Bimo yang begitu penuh harap dirinya untuk tetap berada di dekatnya.


"Hemh,,, aku di sini tak akan kkemana-mana, tidurlah!" Anisa naik ke atas ranjang dan memposisikan diri berbaring di sebelah suaminya itu.

__ADS_1


"Nisa, ceritakan pada ku tentang kisah cinta mu, aku ingin mendengarnya," ucap Bimo tiba-tiba.


"Kisah cinta ku tak ada yang istimewa, semua biasa saja!" Anisa menolaknya secara halus, menyiratkan bahwa dia tak bersedia menceritakan tentang kehidupan pribadinya.


"Oh, kapan kamu terakhir berpacaran?" Bimo tak putus asa, dia tetap saja mencari tahu perihal kehidupan istrinya itu.


"Itu sudah sangat lama, ayolah,,, sebaiknya mas istirahat agar cepat pulih, bukankah beberapa hari lagi mas akan mengadakan pernikahan dengan mbak Viona?" Lagi-lagi Bimo tak verhasil mengorek tentang kehidupan pribadi Anisa karena istrinya itu seakan menutup diri dan tak ingin menceritakan tentang apapun pada dirinya.


"Baiklah, tapi aku merasa kedinginan," Bimo mulai modus.


"Apa mas mau aku tambah kan selimut lagi?" Tawar Anisa polos.


"Tidak tidak, sepertinya kamu harus memeluk ku agar aku tak kedinginan," pintanya.


"Tapi---" Anisa terlihat ragu-ragu dan enggan melakukan permintaan suaminya itu.


Setelah beberapa saat berpikir, Anisa mendekatkan tubuhnya agar lebih menempel pada tubuh suaminya.


Ada getaran aneh saat tubuh mereka saling bersentuhan meski terhalang pakaian yang melekat di tubuh mereka, rasanya seperti sengatan sengatan listrik kecil di sekujur tubuhnya sehingga membuat seluruh tubuh nya meremang akibat merasakan gelenyar asing yang baru pernah dia rasakan.


Anisa tentu saja sudah pernah merasakan kalau sekedar berpelukan bersama Alan, namun pengalamannnya kali ini sungguh berbeda.


Begitupun dengan Bimo yang sudah sering melakukan hal ini bahkan lebih dari ini sekalipun dengan Viona namun tetap saja merasakan hal aneh dalam tubuhnya, sensasi yang di rasakan oleh tubuhnya sungguh berbeda, berpelukan untuk yangbke dua kalinya dengan Anisa membuatnya benar-benar merasa sangat nyaman, pelukan tulus dari Anisa membuatnya merasa seribu kali lipat lebih baik dan lebih sehat di banding sebelumnya.


"Nisa, kenapa di peluk oleh mu terasa sangat nyaman, bagaimana jika aku ketergantungan dengan pelukan mu?" Goda Bimo membuat Anisa tersipu dengan wajahnyanyang berubah warna menjadi merah.


"Apa kamu juga demam, karena tertular oleh ku?" Lanjut Bimo.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, aku sangat sehat." Tepis Anisa.


Entah karena lelah atau karena memang waktu sudah sangat larut, Anisa akhirnya tertidur di pelukan Bimo yang terasa hangat dan nyaman.


Harusnya Anisa yang menjaga Bimo, apalagi tadi dirinya sudah menyanggupi akan menjaga dan merawat Bimo, namun yangbterjadi kini malah sebaliknya, Bimo lah yang tetap terjaga danbterus memperhatikan wajah polos Anisa yang terlelap berbantalkan lengan dan dadanya.


Senyuman itu berulang kali terbit dari bibir Bimo, saat dirinya yang seakan tak bosan memandangi wajah manis Anisa dengan segala kepolosannya itu.


Bahkan beberapa kali Bimo mencuri ciuman di kening, pipi dan oucuk kepalanya saat Anisa tertidur lelap.


Namun ternyata Anisa harus terbangun saat Bimo mengelus rambut istrinya itu dan menjumput surai rambut yang terlepas dari ikatan nnya.


"Ah maaf, aku malah tertidur." Ucap Anisa merasa tak enak hati karena alih-alih menjaga suaminya yang sedang sakit, justru dirinya yang malah di jaga suamiany.


"Ada yang kamu butuhkan? Ada yang sakit, atau kamu ingin aku buatkan apa?" Anisa mengucek matanya, dan berusaha bangkit dari tidurnya.


"Tidak usah, cukup seperti ini saja kamu sudah banyak membantuku, tidurlah kembali, sepertinya kamu sangat lelah, aku tak mau jika kamu sakit juga, kalau kamu sakit juga, lantas siapa yang akan mengurus ku?" Kilah Bimo.


"Emh, tapi-- anu--- itu---" gugup Anisa menjadi serba salah dan salah tingkah mendengar apa yang di ucapkan Bimo padanya.


"Ayolah tidak usah banyak tapi-tapian, cukup seperti ini saja itu sudah cukup banyak membantu ku dan membuat ku merasa lebih baik." Kata Bimo sambil terus menatap wajah Anisa yang tak berani balik menatapnya itu.


"Anisa, bagaimana jika aku ternyata telah sungguh-sungguh mencintai mu?" Cicit Bimo.


Kata-kata pengakuan itu meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa ada petimbangan apa pun, tanpa mempertimbangkan perasaan Anisa yang mungkin saja akan merasa semakin serba salah, mengingat rasa itu sudah terlebih dahulu tumbuh di hatinya, dan mati-matian sekuat tenaga Anisa menyangkal dan membunuh perasaannya agar tak semakin tumbuh dan berbunga, karena Anisa sadar diri hal itu sangatvtak mungkin untuk nya memikiki seorang Bimo Mahesa.


Namun kini dengan tanpa dosa dan entengnya Bimo malah memupuk rasa cinta yang sekuat tenaga sedang dia bunuh sehingga tentu saja menjadi semakin berbunga tanpa bisa di kendalikan.

__ADS_1


"Mas, tolong jangan bercanda seperti itu, mas sebentar lagi akan menika dengan mbak Viona," Lagi-lagi Anisa mengingatkannya tentangvhal itu membuat Bimo luar biasa merasa sangat serba salah saat ini.


__ADS_2