
Aku terburu-buru pulang, meski pasti untuk masak makan malam mas Bimo tak akan keburu, tapi setidaknya aku masih bisa menemaninya di meja makan saat makan malam, itu pun kalau dia pulang!
Bisa saja kan, dia memilih makan malam bersama kekasihnya.
Pikiran ku terus saja bergulir liar memikirkan mas Bimo dan Viona, ya Tuhan, sungguh aku tak ingin memikirkan hal itu, tapi mengapa pikiran ku selalu tertuju ke sana, membayangkan apa ang sedang mereka lakukan saat ini berdua membuat hati ku terasa bagai di cubit-cubit halus.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 9 malam saat aku sampai di rumah, baru saja aku memasukan motorku di samping rumah dan berjalan terburu menuju pintu utama, namun langkah ku harus terhenti saat mas Bimo tiba-tiba sudah berdiri tepat di hadapan ku, mata tajamnya menatap ku dalam bisu.
"Eh, mas. Emh sudah pulang?" tanya ku basa basi yang malah terdengar konyol.
"Dari mana kamu?" ketusnya setelah beberapa detik hening di antara kami berdua.
"Aku---aku dari--"
"Sudahlah tak penting, sekarang ikut aku, aku ingin mebicaraka sesuatu dengan mu!" Mas Bimo menarik paksa tanganku ke halaman rumah yang agak jauh dari pintu masuk utama.
***
POV Author
Beberapa saat yang lalu setelah kepergian nya bersama Viona meninggalkan Anisa di kantornya, pikirannya benar-benar kacau, dirinya bahkan beberapa kali didapati Viona tak fokus saat di ajaknya berbicara.
"Sayang, kenapa kamu jadi banyak melamun?" protes Viona kesal.
"Ah, itu aku hanya baru teringat kalau hari ini adalah jadwal ku mengantar kakek check up kakek ke rumah sakit, selesai makan siang aku pulang dulu sebentar ya, sore aku ke apartemen mu!" Kata Bimo beralasan, karena sesungguhnya tak ada jadwal check up Surya apapun hari ini.
__ADS_1
Satu-satunya yang membuatnya ingin sepat pulang siang ini adalah karena dirinya terus terbayang wajah Anisa yang sepertinya tadi tidak baik-baik saja saat Viona menghinanya, dia ingin meminta maaf atas nama Viona pada istrinya itu.
"Kamu beneran pulang dan nganter kakek mu, kan? Pokoknya aku minta video call saat kamu sudah sampai rumah!"
Ya, begitulah Viona, se posesif itu perlakuannya pada Bimo, sementara dirinya selalu menuntut kebebasan pada Bimo dan tak pernah mau dikekang sedikit pun.
Namun jika Bimo sudah membawa-bawa nama Surya untuk beralasan, Viona tak pernah bisa menolak atau melarangnya, karena dia tau kalau Surya satu-satuna orang yang sangat berarti baginya, dan Viona sungguh sangat tau jika sampai Bimo bermasalh dengan kakeknya yang super kaya raya itu, bisa saja calon suaminya itu akan kehilangan warisannya, dan itu akan sangat merugikannya.
"Ya, nanti aku pasti mengabari mu!" ujarnya seraya mengecup pucuk kepala sang kekasih seraya bernafas lega karena akhirnya dia dapat segera bertemu dengan istri rahasianya yang sejak tadi mengganggu pikirannya itu.
Saat sampai di rumahnya, Bimo langsung bertanya pada bi Nani tentang keberadaan istrinya.
"Anisa di mana Bi?" Tanyanya denga mata yang terus mengintari seluruh sudut rumah, karena dia tak dapat menemukan sosok Anisa di kmar mereka.
"Mbak Anisa belum pulang sejak tadi siang, tuan!" lapornya.
Pikirannya semakin kacau balau saat dirinya berinisiatif untuk menanykan keberadaan istrina di kediaman orang tuanya, namun Umar yang di hbunginya lewat telpon mengatakan kalau putrinya juga tak ada di sana.
Sampai pada akhirnya, tepat pukul setengah sembilan malam, dirinya yang memang sengaja menunggu kepulangan istrinya di ruang tamu mendengar suara motor istrinya itu masuk ke pekarangan rumah.
Bimo langsung keluar dan memastikan kalau yang datang itu benar-benar istrinya, sungguh kata hatinya ingin memeluk istrinya dan menyanyakan 'Darimana saja dan apa kamu baik-baik saja?' namun yang terjadi dia hanya bisa memandangi wajah istrinyayang seolah tanpa dosa karena telah membuatnya khawatir dan membuatnya menungguinya selama berjam itu.
Bimo menarik paksa lengan Anisa ke teras bagian depan untuk mengajaknya berbicara, karena takut ada sseorang yang mendengar pembicaraan mereka.
"Kemana saja kamu? Dan kenapa ponsel mu tak bisa di hubungi?" Bimomulaimenginterogasi Anisa bak sedang menginterogasi maling.
__ADS_1
Padahal tak terucap sepatah tanya pun dari mulut Anisa saat dirinya di dapati tak pulang semalaman.
"a-aku bertemu klien yang ingin mendesain kantornya," gugup Anisa, dia tak tau kenapa justru jawaban itu yang malah keluar dari mulutnya.
"Dan ponsel ku---" Anisa mengobok-obok tote bag kanvasnya mencari keberadaan ponselnya, lalu,,, "Eh, ponsel ku mati ternyata!" cengir Anisa mengacungkan layar ponselmnya yang mati.
Bimo membuang nafasnya dengan kasar, andai Anisa tau kalau hatinya benar-benar cemas tak karuan saat dirinya belum juga bisa bertemu dengan istrinya, sungguh beberapa jam yang sangat menyiksanya.
"Masalah Viona tadi siang---" kata Bimo seakan berat sekali saat headak meminta maaf seperti niatnya tadi atas perlakuaann sang kekasih.
"Sudahlah mas, jangan di bahas lagi, aku juga tak akan membocorkannya pada kakek, tenang saja aku bisa jaga rahasia." Sambar Anisa.
"Oke, sukurlah kalau kamu mengerti!" kata Bimo kemudian berlalu menuju mobilna yang dia parkir tak jauh dari tempat mereka berdiri dan berbincang saat ini.
Sungguh bukan itu yan Bimo maksud, dia hanya ingi minta maaf atas perlakuan Viona pada gadis utu, tapi ternyata Anisa menangkapnya denga lain.
Anisa pun terdiam menatap nanar punggung suaminya yang semakin menjauh darinya dan memasuki mobil, lalu pergi keuar daripelatara rumah mewah itu, entah mau kemana lagi suaminya itu malam-malam begini, bahkan dia tak mengatakan apapun tentang kemana dia akan pergi.
Ponsel Bimo terus berdering tanpa henti sejak tadi sore, siapa lagi kalau bukan Viona, wanita itu terus saja menerornya karena Bimo tak juga memenuhi janjinya untuk datang ke apartemennya sore tadi, padahal Bimo sudah menjelaskan padanya sudah hampir 10 kali rasanya dia melakukan video call dengan kekasihnya itu demi membuktikan kalau dirinya benar-benar berada di rumah.
"Kenapa lama sekali sih, ngapain aja di rumah? Bete tau nungguin kamu dari sore, aku gak mau tau pokoknya kamu gak boleh pulang malam ini, kamu harus tidur di sini!" rajuk Viona saat Bimo baru saja masuk ke dalam apartemennya.
Tak ada sambutan hangat seperti yang Anisa lakukan saat dirinya pulang kantor, bahkan saat dirinya pulang pagi, sambutan istrinya itu tak berubah, tetap melayaninya dengan baik, mulai dari menyiapkan pakaian, dan menawarinya makan dia lakukan dengan sepenuh hati, seakan tak pernah punya rasa marah dalam dirinya.
'Akh,,, kenapa aku jadi terus membandingkan antara Anisa da Viona!' gerutu Bimo dalam batinnya.
__ADS_1
Semenjak ada Anisa dalam kehidupannya, semua tentang Viona yang tadinya selalu istimewa di mata Bimo, kini menjadi seolah kurang dan tidak baik, jika itu di bandingkan dengan Anisa.