BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Pesonamu Mengalihkan Duniaku


__ADS_3

"Terimakasih sudah menjadi istri yang baik untuk suami yang tak baik seperti ku!" Ucap Bimo sesaat setelah ciuman itu terlepas.


Anisa hanya mematung, dia seperti tergugu dengan apa yang baru saja di alaminya, sungguh di luar dugaannya, dia berciuman dengan Bimo, suami pura-pura nya.


Tak pernah ada terlintas dalam bayangannya kalau dia akan sampai sejauh itu dengan suami pura-pura nya itu.


"Mas, tolong jangan buat aku menjadi wanita egois karena menginginkan mu utuh hanya milik ku, ada seorang bayi yang lebih butuh kamu," lagi-lagi Anisa mengingatkan tentang bayi dalam perut Viona itu.


"Berapa bulan usia kandungan mbak Viona?" Lanjut Anisa mengalihkan pembicaraan agar Bimo tak berbuat semakin jauh padanya dan akan membuat semuanya semakin sulit nantinya.


"Emh,,," Bimo terlihat berpikir dan mengingat ingat, namun sialnya sekeras apa dia berpikir, Bimo rak dapat mengingatnya sedikit pun, bahkan kini Bimo baru menyadari kalau dirinya tak pernah bertanya tentang hal itu pada Viona.


"Mas, jangan bilang kalau kamu tak tau berapa usia kandungan mbak Viona, kamu tak pernah mengantarnya saat periksa ke dokter?" Selidik Anisa penuh curiga.

__ADS_1


"Ah itu, Viona selalu melakukannya sendiri, dia tak pernah mah jika aku mengantarnya, lagi pula aku sibuk di kantor." Kilah Bimo mencari-cari alasan.


"Mas, jangan seperti itu, katanya wanita hamil itu lebih sensitif, inginnya di manja, di perhatikan, dan mas juga harus peduli pada tumbuh kembang janin yang berada di perut mbak Viona," Anisa berceramah.


Bukannya mau sok bijak atau sok smenggurui, sakit memang rasanya mengatakan hal itu pada Bimo namun dia juga tak mau Bimo menjadi lelaki dan ayah yang tidak bertanggung jawab, saat ini dia masih berstatus istrinya, jadi kewajibannya lah menegur bila suaminya berlaku salah.


"Iya, nanti kalau kontrol lagi aku akan ikut menemani nya." Putus Bimo.


Tak ada tindakan lebih jauh lagi yang terjadi di antara Bimo dan Anisa, hanya dengan saling mengutarakanperasaan mereka masing-masing saja sudahbuat hati mereka bahagia tidak terkira sampai mereka tertidur dalam senyum dan tubuh saling memeluk erat.


**


Tiga hari sudah Bimo terkapar sakit di rumah kakeknya, dia lebih memilih di rawat oleh istri cantiknya itu daripada harus di rawat di rumah sakit, meskipun dokter keluarganya setiap hari memantau perkembangan kesehatan Bimo.

__ADS_1


Namun berkat ketelatenan Anisa merawatnya, kesehatan Bimo kini sudah semakin membaik, sementara Viona hari ini terus saja menerornya dengan panggilan telepon yang tak kunjung berhent sei dari pagi, padahal semalam Bimo sudah mengatakan kalau rencana pernikahannya tetap akan di laksanakan sesuai rencana semula, namun Viona seperti tak percaya dengan apa yang di katakan Bimo itu, dia terus saja menagih janji kekasihnya yang akan segera menikahinya itu.


"Mas, apa tidak sebaiknya mas beristirahat dulu satu hari lagi? Biarkan badan mu benar-benar pulih, apa mbaak Viona tak peduli dengan kesehatan mu? Nikah mundur satu atau dua hari kan gak apa-apa, yang penting kamu sehat dulu," gerutu Anisa kesal dengan tingkah laaku Viona yang terus saja mengganggu waktu istirahat Bimo dengan menelponnya tak tahu waktu itu.


"Aku malas berdebat dengan nya, aku sudah pulih dan sehat, kok. Kan berkat perawat cantik ku ini," Bimo menjawil dagu istrinya gemas, dia tau kalau Anisa kini sedang marah karena belum ingin berpisah dengan nya, namun dia juga tak mau jika Viona murka dan datang ke rumah kakeknya lalu membuat kekacauan, bisa hancur semua ya.


"Hem, baiklah kalau memang begitu, lagi pula kamu lebih tau bagaimana keadaan mu," ucap Anisa sedikit meneran kecewa karena menurutnya suaminya itu selalu saja membela kekasih nya yang dalam hitungan hari akan menjadi madunya itu.


"Jangan salah paham, aku hanya berusaha agae Viona tak sampai curiga dan aku akan sangat takut kalau Viona mencelakai mu," Bimo mendekap erat tubuh istrinya seakan tak reka jika hari ini dia harus berpisah lagi dengan istrinya itu.


"Aku mengerti, mas." Anisa mengangguk pelan memberi tahu suaminya kalau dirinya baik-baik saja.


Hanya tinggal 2 hari lalgi Bimo akan mempersunting Viona, andai tak ada bayi yang harus di pertanggung jawabkannya, rasa-rasanya Bimo ingin pergi saja menghilang dari kota tempatnya tinggal sekarang ini bersama Anisa hidup bahagia tanpa ada satu orang pun yang tau di mana mereka tinggal dan hidup bahagia penuh cinta.

__ADS_1


__ADS_2