BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Jangan Baper!


__ADS_3

Meski mati-matian Viona menahan kepulangan Bimo, namun usahanya sia-sia saja, karena Bimo bersikukuh untuk tetap pulang malam itu, dia gak bisa di bujuk dengan apapun, bahkan saat Viona dengan terang-terangan menggodanya untuk melakukan kegiatan panas nya di ronde ke 2, namun Bimo tak bergeming, dia tetap memilih untuk pulang dan tak menghiraukan ajakan dan iming-iming Viona.


"Maaf Vio, aku benar-benar harus pulang."


Viona menekuk wajahnya dengan kesal. tak biasanya kekasihnya itu menolak permintaannya, biasanya semua permintaannya selalu di turutinya se mahal dan se susah apapun itu, tapi kali ini, hanya meminta untuk tetap bersamanya satu malam saja Bimo menolaknya.


'Ah, mungkin Bimo masih merasa kesal atau masih marah karena aku meninggalkannya ke luar negeri selama beberapa bulan ini', pikir Viona mencoba memberi jawaban atas pertanyaan dan rasa penasaran hatinya atas sikap Bimo yang terlihat seperti berubah itu.


**


Hampir adzan subuh Bimo sampai di rumahnya, kakinya melangkah cepat menuju kamarnya, entah mengapa dia sangat penasaran dengan apa yang sedang di kerjakan istrinya saat ini.


Bimo kini terlihat seperti maling yang akan masuk ke rumah jarahannya, langkahnya di buat se pelan mungkin saat dirinya baru saja masuk ke kamar nya, dan melihat Anisa terbaring atas ranjang berukuran jumbonya.


Wajah istrinya terlihat tenang saat terlelap itu, saat Bimo melihat istrinya yang masih mengenakan dres yang dia ketahui bukan pakaian tidurnya itu, Bimo sudah bisa memastikan kalau Anisa menunggunya sampai tertidur.


Rasa bersalah itu tiba-tiba datang begitu saja, padahal bukankah pernikahan mereka hanya sebuah sandiwara saja, dan tak ada rasa cinta di antara mereka, lalu untuk apa merasa bersalah? Protes batinnya.


Tapi tetap saja rasa itu memenuhi setiap rongga

__ADS_1


dadanya.Tangan Bimo terulur tergelitik untuk mengelus pipi gadis yang tengah tertidur lelap itu, namun niatnya segera dia urungkan, entah mengapa kini dirinya merasa kotor untuk sekedar menyentuh istrinya itu ketika dia mengingat jika dirinya baru saja menghabiskan malam bercumbu dengan begitu panasnya bersama Viona yang statusnya kini menjadi pacar rahasianya atau bisa di bilang juga selingkukannya, karena sebenarnya yang berhak atas Bimo saat ini adalah Anisa satu satunya istri sah menurut hukum dan agama.


Bimo membiarkan dirinya di guyur air hangat dari pancaran shower saat dirinya memutuskan untuk mandi menghilangkan sisa sisa persenggamaan nya dengan Viona tadi, sambil memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan selanjutnya setelah kini Viona ternyata memutuskan untuk kembali dan bahkan sudah bersedia untuk 'go publik' tentang hubungan mereka.


Bukankah seharusnya Bimo merasa senang? Bukankah hal ini yang sangat dia inginkan sedari dulu? Lantas mengapa ketika semua seakan sudah di depan matanya dan bahkan sudah berada di genggaman tangannya justru dia malah seperti terbelenggu oleh perasaan bingung?


Seharusnya ini tidak menjadi hal yang rumit untuk Bimo, tinggalkan Anisa dan kembali ke tujuan awalnya yaitu menikah dengan Viona, wanita yang selama ini di cintainya, bukankah harusnya se simpel itu?


Tapi nyatanya tidak se sederhana itu, karena ternyata kini hati kecil Bimo mulai serakah, dia tidak ingin mengakhiri hubungan dengan Anisa, tapi juga dia tetap ingin melanjutkan hubungannya dengan Viona.


"Shitttt,,, kenapa harus menjadi se rumit ini!" umpatnya kesal.


Anisa sungguh tau batasan dia sebagai apa di kehidupan Bimo, sedari awal juga sudah di sepakati kalau mereka dilarang saling mencampuri urusan pribadi mereka masing-masing.


Anisa juga tak bertanya kenapa suaminya itu tak memenuhi janjinya, beberapa tanda merah di dada Bimo yang hanya mengenakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya sudah cukup memberinya jawaban, meski Anisa tak banyak berpengalaman tentang hubungan intim karena selama berpacaran dengan Alan pun dia hanya sebatas beciuman saja dulu, namun Anisa tau kalau sepertinya Bimo baru bersenang-senang dengan wanita yang Anisa tak ingin tau siapa itu.


Karena lagi-lagi di antara mereka memang terbentang perjanjian untuk tak boleh saling memasuki ranah itu, jadi bagi Anisa ya,,, cukup tau saja.


Terasa agak sakit sih, rasanya dada Anisa mendapati itu semua, tapi kembali lagi pernikahannya hanya sandiwara, akan menjadi sangat menyiksa dirinya sendiri jika anisa terlalu mendalami perannya sebagai istri sungguhan Bimo.

__ADS_1


"Ayolah Anisa, jangan bodoh, dia suami bohongan mu, jangan baper!" Hanya kata-kata itu yang selalu Anisa ucapkan untuk hatinya yang seakan selalu merasa kalau pernikahan mereka itu nyata.


Bukannya tak Anisa sadari, Anisa sangat yakin dan menyadari kalau dirinya memang mulai jatuh cinta pada Bimo, bohong saja kalau bilang Anisa tak punya perasaan apa-apa setelah sekian lama bersama dalam satu rumah, satu kamar yang sama, bahkan kadang berpura-pura mesra selayaknya pasangan yang bahagia di depan keluarga mereka masing-masing, baper itu pasti ada dan sangat Anisa sadari, hanya saja Anisa juga sedang berusaha untuk menghilangkan rasa itu atau setidaknya mengurangi nya, sebelum semuanya terlambat dan rasa itu berubah menjadi rasa sayang yang mengakar di hatinya, sementara dia sangat sadar kalau pernikahan mereka hanya akan bertahan 6 bulan saja, setelah itu mereka kembali menjalankan kehidupannya masing-masing.


"Ah, iya aku ada pekerjaan mendadak di hotel," bohong Bimo.


"Hmm, mau aku siapkan baju untuk tidur atau pakaian kantor?" Anisa melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah enam pagi, Anisa tak yakin kalau Bimo akan tidur di saat matahari saja sudah mulai mengintip, tapi Anisa juga sama tak yakinnya apa iya suaminya itu akan langsung berangkat kantor lagi setelah semalaman tak pulang, lantas apa dia pulang hanya sekedar untuk numpang mandi saja?


Bukannya Bimo berkantor di hotel, bukan hal yang sulit untuk dia sekedar mandi dan tak harus pulang ke rumah jika dia akan berangkat kerja lagi pagi ini.


"Tidak usah, biar aku siapkan sendiri saja, kamu lanjutkan tidur mu," tolak Bimo.


Namun alih-alih melanjutkan tidurnya, Anisa justru malah turun dari ranjang mewah itu sambil tersenyum,


"Mas, ini sudah pagi, mana mungkin aku tidur lagi, biar aku siapkan baju dan sarapan mu, ini sudah menjadi tugas ku sebagai istri." jawab Anisa.


Deg,


Hati Bimo kontan saja terasa sesak seakan di hantam batu sebesar truk yang membuatnya susah untuk sekedar bernafas sekali pun.

__ADS_1


Bagaimana bisa Anisa sebegitu sabarnya menghadapi dirinya, bahkan dia tak bertanya apapun tentang alasan dirinya yang membatalkan janjinya semalam.


__ADS_2