BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Kompensasi


__ADS_3

Perkataan mas Bimo kemarin memang lumayan menyentil ego dan harga diri ku, tapi bukankah kenyataannya memang seperti itu? Dia juga tak pernah menunjukkan perasaan lain pada ku selain hanya menganggap ku sebagai 'partner in crime' nya saja.


"Aku setuju," jawab ku dengan lugas dan penuh keyakinan.


"Kau yakin? Apa kau sudah membaca keseluruhannya?" tanya mas Bimo lagi pada ku.


Mungkin baginya aku terlalu ceroboh mengiyakan dengan cepat tanpa membacanya dengaan seksama semuanya, mungkin dia juga tak ingin di repotkan jika suatu hari nanti aku protes atau melanggar salah satu poin yang tertulis.


Aku lantas mengangguk pasti meyakinkan mas Bimo kalau aku sudah paham dan mengerti dengan semua yang tertulis di kertas itu.


"Apa ini seperti pernikahan kontrak yang sering aku baca di novel novel atau seperti serial yang sering aku tonton itu? Rasanya sangat aneh, aku seperti menjadi pemeran utamanya." canda ku memecah kecanggungan di antara kami berdua.


"Aku minta maaf jika harus menyeret mu dalam masalah ku sampai se jauh ini. Jujur saja aku benar-benar tak menyangka jika masalahnya akan menjadi serumit ini." ucapnya dengan nada yang terdengar seperti sangat menyesal.


Benar-benar meyesal dan merasa bersalah karena telah melibatkan aku dalam masalah ini atau menyesal karena terpaksa harus menikah dengan ku? Ah,,, rasanya aku sudah menjadi over thnking karena memikirkan semua permasalahan yang terjadi.


"Sudah lah mas, tak perlu meminta maaf terus menerus pada ku, aku yakin ini memang garis nasib yang sudah di berikan Tuhan padaku, jika memang kenyataanya aku harus menikah dengan mu dan berpisah enam bulan kemudian, aku ikhlas, itu semua sudah menjadi keputusan ku, aku juga tak akan menyesalinya." jawab ku panjang lebar.

__ADS_1


Simpelnya aku hanya berpikiran, ya sudah lah toh hanya menikah selama enam bulan saja, apanya yang rumit.


Mungkin itu lah kelemahan ku, jeleknya aku, kurangnya aku. Selalu menganggap enteng semua permasalahan, menganggap 'ya sudahlah,' sesederhana itu.


"Tapi kau akan menyandang status janda setelah itu," ucap mas Bima mencoba memberitahu ku kalau semua ini tak se simpel yang aku bayangkan.


Ucapannya sedikit menggelitik hati ku, 'aku, akan menjadi seorang janda?' Tapi lagi lagi buat ku ya sudahlah, semua sudah di putuskan, malahan kakek surya beserta kedua orang tua ku sudah menetukan tanggal pernikahan kami, mereka terlalu antusias dan bahagia menyambut kabar ini, sehingga semua di lakukan serba ngebut dan mendadak.


Bulan depan di putuskan akan menjadi hari pernikahan kami, itu berarti hanya tinggal kurang dari dua minggu lagi kami akan melangsungkan pernikahan, aku dan mas Bimo menyetujuinya dengan catatan kalau pernikahan kami di adakan secara sederhana dan hanya di hadiri oleh orang orang terdekat saja, kami beralasan kalau kami mempunyai konsep pernikahan yang ingin kami wujudkan, dan itu tidak bisa di lakukan dalam waktu yang mepet seperti ini.


Jadi untuk resepsi, kami ingin meminta untuk mengurusnya sendiri, dan untung saja mereka dapat mengerti dan menyetujuinya, padahal itu semua hanya akal akalan kami saja agar pernikahan ini tetap menjadi rahasia keluarga besar dan orang orang terdekat saja.


"Aku ingin memberi mu kompensasi atas apa yang sudah kamu lakukan dalam upaya membantu ku membahagiakan kakek, tulislah berapa pun jumlahnya," mas Bimo menyodorkan selembar cek kosong pada ku.


"Maaf mas, aku tidak memperjual belikan status ku, aku melakukan semua ini ikhlas sedari awal, kebahagian kakek mu dan orang tua ku adalah kompensasi terbesaru ntuk semua pengorbanan yang aku lakukan ini." tolak ku.


Sungguh, bukannya sok idealis atau sok gak butuh uang, hanya saja memang aku tak mau memperjual belikan ini, lagi pula sedari awal ini aku lakukan karena aku ingin membantu sebatas itu saja, tak lebih.

__ADS_1


Untuk masalah uang, tidak munafik semua orang butuh uang, beruntungna aku ini tipe perempuan yang tak banyak maunya, tak doyan belanja baik itu baju, tas, atau make up, aku tidak terlalu mementingkan hal hal yang biasanya perempuan lain sukai. Agak terdengar aneh sih, tapi ya itu lh aku yang betah hanya mengenakan celana jins belel yang sudah robek-robek, kaos oblong, tas ransel 100 ribuan, dan tak pernah menyapu wajah ku walau hanya dengan bedak pun.


Namun aku nyaman dengan kehidupan ku yang seperti itu, di saat teman teman sebaya ku punya uang, mereka akan main ke mal nongkrong dan berbelanja, sementaraaku lebih suka hunting barang barang bekas dan antik di pasar loak, nanti aku poles dan di percantik lagi, aku posting di sosial media ku atau di situs jual beli, terus jadi uang lagi, meski hasilnya tak seberapa, tapi bagi ku ada kepuasan batin di sana.


Apalagi sekarang aku juga sudah sedang memulai karier ku, meskipun ini baru awal, dengan mendesain apartemen milik mas Bimo ini semoga menjadi titik awal yang bagus untuk ke depannya, sehingga aku bisa mencapai semua cita-cita ku.


"Kenapa? Apa kamu tersinggung?" tanya mas Bimo, "Aku tidak bermaksud membeli mu atau apa pun itu, ini hanya sebagai ucapan terimakasih ku saja," lanjutnya terlihat seperti tak enak hati karena takut menyinggung perasaan ku.


"Ucapan terimakasih cukup di ucapkan saja mas, tak perlu pake bayar bayar segala ini kesepakatan bukan pekerjaan, kalau mendesain apartemen mu ini baru kamu harus membayar ku dengan uang bukan hanya dengan ucapan terimakasih saja," seloroh ku, tak ingin dia merasa terbebani atau merasa bersalah.


Berhasil, mas Bimo akhirnya menyunggingkan senyum manisnya.


"Kau ini ada-ada saja, masa iya aku tega membayar tenaga ahli seperti mu hanya dengan ucapan terima kasih saja, baiklah kalau begitu, bagaimana kalau kita makan siang, sepertinya ini sudah masuk jam istirahat siang,kamu pasti belum makan, aku akan mentraktir mu, jadi aku yang akan memilih tempatnya." ucap mas Bimo.


Sepertinya dia tak percaya dengan pilihan tempat makan yang menjadi selera ku, terakhir saat aku ajak dia makan di kantin rumah sakit, bahkan dia tak menyentuh makanannya sama sekali.


Baiklah, untuk saat ini aku akan mengikuti seleranya, lagi pula aku tak tau makanan seperti apa yang menjadi seleranya, bukankah sebentar lagi aku akan menjadi istrinya, seorang istri kan, harus tau apa makanan kesukaan suaminya.

__ADS_1


Halusinasi ku terlalu ketinggian rupanya, aku lupa kalau aku ini hanya istri palsu nya saja.


__ADS_2