
Bimo tak segan untuk menciumi pipi, bibir, kepala bahkan leher dan bahu Anisa sesekali saat mereka berada di ruang tengah rumah dimana Surya juga ada di antara mereka.
Mungkin Bimo ingin menunjukan kalau hubungan antara dirinya dan Anisa terjalin dengan baik dan harmonis, dia sengaja memamerkan kemesraan pada kakeknya agar kakek nya merasa senang, disamping itu dirinya juga merasa senang karena pada akhirnya dirinya bisa dengan leluasa nya memperlakukan Anisa dengan begitu mesranya dengan bertamengkan kepura-puraan.
"Mas, ini sudah tidak ada kakek, jangan seperti ini!" Anisa melepaskan pelukan Bimo di bahunya saat mereka sudah berada di kamarnya malam itu.
"Ah, maaf. Aku terlanjur nyaman memeluk mu," goda Bimo yang sepertinya itu memang benar-benar ungkapan suara hatinya.
"Mas, kamu itu sudah mau menjadi ayah, kenapa masih genit saja." Kata Anisa mengerling.
"Ishhh apa salah genit pada istri sendiri!" Elak Bimo tak ingin kalah.
"Tidak salah jika itu istri yang sebenar-benarnya istri, bukan istri jadi-jadian seperti ku ini," Anisa tersenyum sumir.
"Ayolah Nisa, jangan mulai lagi. Tak ada yang menganggap mu istri jadi-jadian atau apapun, kamu istri ku yang sah, titik!" Pungkasnya sedikit kesal.
Malam itu kembali ke kebiasaan semula, dimana Anisa dan Bimo akan tidur terpisah, namun malam itu saat Anisa yangbsedang tidur di kasur tiba-tiba terusik tidurnya karena mendengar suara rintihan dari arah kursi.
Anisa pikir Bimo sedang mengigau, namun ternyata setelah di lihat lagi, matanya terbuka.
Terganggu dengan suara berisik igauan Bimo, akhirnya Anisa pun terbangun dan langsung menoleh ke arah Bimo.
Tampak pria yang berstatus suaminya itu seperti sedang menggigil hebat, bahkan mulutnya terus saja meracau tak jelas.
"Mas, kamu kenapa?" Tanya Anisa seraya bangkit dari ranjang dan meenghampiri di mana Bimo berada.
Anisa berlutut di hadapan Bimo yang terlentang di atas sofa empuk yang dulu juga di jadikan tempat dirinya tidur saat mereka tinggal di rumah itu.
__ADS_1
"Emmhhh,,, !" hanya leguhan yang terdengar dari bibir Bimo, wajahnya terlihat seperti matang dengan warna merah padam.
Tangan Anisa terulur lalu menyentuh Kening dan pipi Bimo,
"Mas, kamu demam!" Pekik Anisa saat merasakan hawa panas yang di salurkan dari kulit pipi dan kening Bimo pada telapak tangannya.
"Mas, ayo ke rumah sakit, aku takut kamu kenapa-napa." Ajak Anisa.
Namun Bimo terlihat menggeleng lemah, sepertinya dia menolak di ajak berobat ke rumah sakit oleh istrinya itu.
"Mas, tapi badan mu panas sekali, kamu sakit mas." Panik Anisa.
Karena takut terjadi apa-apa dengan suaminya itu , Anisa akhirnya memutuskan untuk memberi tahu Surya agar memanggil dokter langganan keluarga itu.
"Apa yang terjadi, kenapa dia bisa sakit begini?" Ucap Surya yang tak kalah paniknya itu.
"Aku di rawat di rumah saja, aku tak mau ke rumah sakit." Tolak Bimo.
Setelah perdebatan yang lumayan panjang, akhirnya dokter mengijinkan untuk Bimo di rawat di rumah saja dengan perawatan ekstra dan kunjungan dokter setiap harinya.
"Kenapa bisa begini, bagaimana cara mbak Viona merawat mu selama seminggu ini sampai kanu sakit seperti ini, mas!" Secara refleks omelan Anisa seakan menyalahkan Viona.
Karena seperti yang di ketahuinya, selama beberapa hari belakangan ini Bimo memang tinggal bersama kekasih gelapnya itu.
Namun Bimo hanya terdiam, dia tak ingin memberitahukan Anisa kalau selama hampir seminggu ini dia jarang makan karena merasa tak cicok dengaan makanan yang di pesan Viona dari luar, Viona tak bisa memasak seperti Anisa.
Di samping itu, Bimo juga sudah ketergantungan dengan masakan yang di buat oleh Anisa selama ini, sehingga setiap makanan lain yang di makannya selalu terasa hambar atau bahkaan tak cocok di mulutnya.
__ADS_1
"Emhh,,,, maaf, aku tidak bermaksud menyalahkan mbak Viona, hanya saja aku dikit terbawa suasana," Anisa meralat ucapannya tadi yang terdengar seolah menyalahkan Viona setelah melihat raut wajah Bimo yang menurutnya menampakan wajah tidak sukanya.
"Aku tak menyalahkan mu, tapi aku juga tak mau kamu menyalahkan Viona, mungkin ini semua karena aku yang kurang menjaga makanan ku sendiri." Ucapnya lirih seraya melimpahkan kesalahan pada dirinya sendiri.
Ada sedikit rasa kesal di hati Anisa saat Bimo membela kekasihnya itu secara terang-terangan di hadapannya, seperti tak boleh ada menyalahkannya dan terkesan sangat melindungi kekasih gelapnya itu.
Padahal sama sekali bukan itu maksud Bimo, dia hanya tak ingin Anisa terlibat emosi lebih jauh dengan Viona, biarlah Viona menjadi urusan pribadinya saja.
"Aku akan memasak bubur untuk mu," ucap Anisa tak ingin memperpanjang obrolan tentang Viona lagi, karena menurutnya Bimo pasti akan selalu membela dan melindunginya, sehingga itu hanya akan membuat dirinya semakin merasa kesal dan sakit hati saja.
"Anisa," panggil Bimo, dia sadar sepertinya dia telah membuat istrinya itu salah paham dengan apa yang di ucapkannya, terbukti dari matanya yang terus saja menghindar saat dirinya menatap ke arahnya.
"Maafkan aku sudah merepotkaan mu, biar Bi Nani saja yang membuatkan, aku tak mau membuat mu menjadi lelah karena mengurusi ku, ini sudah sangat larut, kamu juga harus istirahat," tangan Bimo terulur menggapai jemari tangan Anisa yang berada di samping kasur tempatnya berbaring.
"Mas, kamu suami ku, sudah menjadi kewajiban ku mengurus mu, masalah ucapan ku tadi tentang mbak Viona aku minta maaf, tidak seharusnya aku menyalahkan orang lain di sini, aku istri mu, bila terjadi apa-apa pada mu seperti sekarang ini berarti ini salah ku yang tak bisa menjaga suami ku, aku tak bisa menyalahkan orang lain di sini, maafkan atas ucapan ku yang tadi." Kata Anisa melepaskan genggaman tangan Bimo dan berlalu keluar kamar untuk membuatkan bubur suaminya.
Bimo memijat keningnya, tiba-tiba kepalanya terasa bertambah pusing.
'Akh, apa seperti ini pusingnya mempunyai dua istri?' Bisik Bima dalam hatinya membayangkan jika suatu hari nanti dirinya benar-benar mempunyai dua istri, pasti akan sangat sulit baginya memihak pada salah satu di antara mereka, sungguh hal kecil saja bisa memicu kesalah pahaman yang membuat dirinya pening kepala.
Namun tiba-tiba ponselnya berbunyi berulang kali , dan dia baru ingat kalau seharian ini dirinya tidak mengabari Viona, dia pasti akan sangat marah.
Benar saja, nama Viona terpampang di layar, tengah malam begini kekasihnya itu masih mencoba mencarinya.
"Ya Vio, maaf aku tak bisa menghubungi mu seharian, aku sakit," ucap Bimo seraya mengarahkan kamera ke tangannya yang terpasang selang infus saat mereka sedang video call.
Tak banyak yang mereka bicarakan, hanya saja Viona berpesan kalau sebaiknya Bimo tinggal di rumah kakeknya dulu selama dia sakit karena dirinya tak bisa dan tak pintar mengurus pasien, begitu kira-kira yaang di bicarakan Viona pada Bimo, membuat Bimo merasa lega sekaligus miris.
__ADS_1
Lega karena akhirnya bisa punya lebih banyak waktu bersama dengan Anisa, dan mirisnya ternyata justru di saat dirinya sakit seperti ini hanya Anisa yang peduli padanya, sementara Viona terkesan seperti tak mau mengurusi dirinya yang sedang sakit itu dengan seribu alasan.