
###
POV Author
"Aku ada perlu dengan mu, apa kau ada waktu ?" tanya Bimo pada Anisa yang masih berdiri terkaget kaget di ambang pintu rumahnya yang hanya terbuka sebagian.
Sungguh Anisa tak menyangka kalau pria itu nekat datang ke rumahnya, tapi 'untuk apa lagi?' pikirnya, ini sungguh gila dan di luar nalar juga prediksinya sama sekali.
Bukankah semuanya sudah selesai dan tak ada lagi yang perlu di bicarakan di antara mereka?
"Ada perlu dengan ku? Tapi perlu apa, ya? bukankah semuanya sudah selesai? Tugas saya membantu anda juga sudah saya selesaikan?" Anisa terlihat seperti tak ingin terlibat apapun lagi dengan Bimo.
"Apa boleh kita duduk dan bicara di sana?" Bimo menunjuk kursi taman yang berada di teras rumah Anisa.
Setelah berpikir beberapa detik, akhirnya gadis itu mengangguk tanda setuju.
"Jadi begini, kakek meminta mu untuk menemuinya sore ini, dan aku sudah menyanggupi permintaan nya, makanya aku berada di sini saat ini," terang Bimo.
"Lalu?" Anisa menaikkan sebelah alisnya.
"Tolong ikut aku ke rumah sakit untuk menemui kakek, sebentar saja, plis,,,!" mohon Bimo.
"Lha,,, yang menyanggupi permintaan kakek mu itu kan kamu, kenapa jadi bawa bawa aku?" kesal Anisa.
Bagaimana dia tidak kesal, pria itu seenaknya menyanggupi mempertemukan dirinya dengan kakeknya, tanpa dia bertanya sebelumnya pada dirinya apa dirinya itu bersedia atau tidak untuk bertemu kakeknya.
'Apa apaan,,, dia yang menyanggupi kok aku yang di repotin!' kesalnya dalam hati.
"Iya, aku tau aku salah, tapi tolonglah, kakek sangat berharap bertemu dengan mu, aku takut dia drop lagi.!" ucap Bimo cemas.
"Tapi aku tak tega berbohong lagi pada kakek mu, aku takut kualat!" tolak Anisa yang memang tak ingin terus berbohong.pada oria tua yang sedang sakit itu, cukup satu kali saja kemarin dia berbuat dosa pada kakek Bimo itu.
"Ini bohong untuk kebaikan, demi kesehatan kakek, anggap saja kau sedang menyelamatkan nyawa seseorang dengan kebohongan mu itu," dalih Bimo, membujuk Anisa agar gadis itu mau menuruti permintaan nya.
__ADS_1
"Hais,,, mana ada yang seperti itu bohong ya bohong, gak ada bohong yang baik, aku beneran gak tega!" Anisa keukeuh menolak permintaan Bimo.
"Apa kau lebih tega melihat kakek drop karena keinginan nya tak terpenuhi? Ayolah,,, aku tak punya siapapun di dunia ini selain kakek ku itu, aku mohon!" rengek Bimo mengiba.
Dasar Anisa yang hatinya mudah luluh, mendengar permohonan Bimo yang mengiba itu membuat hatinya tergerak, apalagi mengingat wajah kakeknya Bimo yang sedang berada di ranjang rumah sakit, membuat nya tak kuasa menolaknya.
"Tapi sampai kapan kakek mu akan terus di bohongi seperti itu? Sumpah aku merasa tidak tega!" ucap Anisa ragu.
"Sampai kakek keluar dari rumah sakit, karena aku yang telah memulai sandiwara ini semua, maka nanti aku juga yang akan mengakhirinya, pelan pelan aku akan mengatakan kalau hubungan kita sudah berakhir," urai Bimo.
Terdengar lucu bukan? Dia bahkan sudah merancangnya sedemikian rupa, mengakhiri hubungan yang tak pernah di mulai !
"Apa kau ingin mengajukn syarat lagi eperti sebelumnya? Atau kau mau meminta apa sebagai imbalan?" tawar Bimo.
"Ishhh,,, apa aku terlihat se matre itu di mata anda, tuan kaya raya?!" sarkas Anisa merasa sedikit tersinggung dengan ucapan Bimo barusan.
Bimo jadi merasa tak enak hati, padahal niatnya baik, tak ada sedikit pun pikirannya ke arah sana, mungkin cara penyampaiannya saja yang ternyata salah di terima oleh Anisa.
"Tuan, ada beberapa hal yang harus anda tau, sebagai orang kaya, bahwa tak semua hal bisa di hitung atau di tukar dengan uang,"
'Tuh kan, benar saja, gadis itu tersinggung dengan ucapan ku tadi,' sesalnya dalam hati.
"Ya sudah, maaf klau aku sudah mengganggu waktu mu, aku akan berbicara baik baik pada kakek tentang hubungan kita yang sebenarnya," pasrah Bimo, dia akhirnya menyerah.
'What hubungan kita yang sebenarnya? Bukankah kita tak punya hubungan apapun?' pekik Anisa dalam hatinya.
"Tunggu!" panggil Anisa ketika Bimo beranjak dari tempat duduknya dan bersiap hendak pamit untuk pulang dengan kecewa.
Bimo menoleh ke arah Anisa yang sepertinya baru saja menimbang nimbang sesuatu dalam kepalanya.
"Aku akan membantu mu! aku akan menemui kakek mu," putus Anisa yang akhirnya mengalah, sungguh wajah kakek Surya terbayang bayang di pelupuk matanya, membuatnya merasa tak tega jika harus membiarkan pria tu itu bersedih karena dirinya.
'Tuhan mafkan aku, aku hanya berniat membantu kakek nya!' lirihnya dalam hati.
__ADS_1
"Benarkah? ayo cepat siap siap, kita pergi bersama!" ajak Bimo dengan mata yang kini berbinar, menambah ketampanan dari pria itu.
"Aku naik motor ku saja," tolak Anisa merasa tak nyaman jika harus berangkat bersama Bimo yang sejak kemarin membuat hatinya selalu berdebar debar.
"Tapi,,," protes Bimo.
"Sudah lah, kita bertemu di rumah sakit saja, aku hanya berganti pakaian langsung berangkat ke sana!" kata Anisa.
Bimo mengangguk, dia tak ingin memaksakan apa apa lagi pada gadis itu, sudah bersedia untuk datang saja baginya itu cukup.
Satu jam kemudian, Anisa sudah sampai di lobi rumah sakit, tampak Bimo berdiri dari duduknya saat dia baru memasuki lobi itu, sepertinya Bimo memang menunggu kedatangan Anisa.
"Kenapa di sini?" tanya Anisa yang merasa heran karena bukankah seharusnya Bimo menemani kakeknya di ruang rawatnya?
"Aku menunggu mu, tadi aku berjanji pada kakek untuk datang bersama mu sepulang kantor," ucapnya.
Ternyata Bimo menungguinya karena agar mereka terkesan terlihat datang bersama, hampir saja Anisa merasa kegeeran ketika mendengar Bimo nengatakan kalau dia menunggu dirinya.
Wajah Surya langsung tersenyum sumringah saat melihat sang cucu kesayangan menepati janjinya dengan datang membawa serta kekasih nya.
"Kakek merasa sangat sehat melihat kalian datang bersama seperti itu, kakek juga sudah berbicara dengan dokter tadi, kalau Kakek ingin pulang saja, dan mereka mengijinkannya," oceh kakek Surya bercerita dengan penuh semangat.
"Bimo senang kakek udah kembali sehat, tapi ada baiknya kalau kakek di sini dahulu agar keadaan kakek terkontrol, makanannya juga terjaga dengan baik," usul Bimo.
"Apa kau tak suka jika kakek kembali ke rumah?" tanya Surya.
"Bukan begitu maksud mas Bimo, kek. Tapi ada baiknya kakek di sini dulu sampai kakek benar-benar pulih. Iya kan, mas?" Anisa mulai mengambil perannya lagi saat tau Bimo terpojokan.
'Ah, panggilan itu lagi, kenapa hati ku rasanya selalu tergelitik kalau gadis itu memanggil ku dengan sebutan Mas Bimo, tapi aku kok, rasanya nyaman ya, di panggil dengan sebutan itu?' batin Bimo.
"Mas? Mas Bimo ?" panggil Anisa membuyarkan lamunan Bimo.
"I-iya benar, seperti itu maksud ku kek!" ujar Bimo tergagap.
__ADS_1