
"Terimakasih sudah menjaganya untuk ku, dan maaf jika mulai saat ini aku tak akan melepaskan mu, aku tak mau kita berpisah atas alasan apapun." Ucap Bimo seraya mengecup mesra kening istrinya saat mereka baru saja melakukan malam pertama yang tertunda beberapa bulan lamanya.
"Mas, bukannya hari ini adalah hari pernikahan mu dengan mbak Viona?" Tanya Anisa tiba-tiba saja dirinya teringat dengan pernikahan suaminya dengan kekasihnya.
Bimo tak mengatakan apa pun, entah lah rasanya dia bingung harus mengatakan apa pada istrinya itu, suasana menjadi hening sesaat, tak ada yang membuka suara sampai Anisa menegur lagi suaminya memagih jawaban atas pertanyaan yang di abaikan Bimo sebelumnya.
"Mas, aku bertanya pada mu!" Anisa mengangkat wajahnya menengadah menatap wajah suaminya yang ternyata juga sedang menunduk menatapnya dengan lekat.
"Apa boleh aku meminta sesuatu pada mu?" Lirih Bimo dengan tatapan penuh memohon.
"Apa itu?" Tanya Anisa agak penasaran.
"Bolehkah jika kita sedang bersama tidak usah membahas orang lain?" Bimo terlihat sedikit ragu.
"Tapi, kenapa aku rasanya menjadi sangat jahat, seharusnya malam ini menjadi malam kalian, tapi aku merebutnya," cicit Anisa.
"Tidak ada yang merebut atau apapun, aku bersama mu saat ini bukan karena paksaan siapapun, namun atas keinginan ku sendiri, bolehkah jika aku menyelesaikan masalah ku sendiri, aku sadar kalau semua ini bersumber dari ku, maka semua ini harus aku juga yang mengakhirinya, maaf kalau kamu akhirnya harus ikut sejauh ini dalam permasalahan mu, seharusnya aku tak melibatkan mu sedari awal," sesal Bimo.
"Apa itu berarti kamu menyesal sudah menjadikan ku istri mu, mas?" Anisa justru menjadi salah paham atas apa yang di katakan suaminya.
__ADS_1
"Sayang, bukan seperti itu maksud ku. Kamu salah paham. Tentu saja aku tak menyesal bertemu dengan mu, hanya saja yang ku sesali itu menarik mu dalam masalah ini, aku sangat merasa bersalah dengan hal itu." Ucap Bimo menjadi sedikit berhati-hati dalam berkata karena takut terjadi salah paham lagi dengan istrinya itu.
Sementara di tempat lain Viona terlihat sangat gelisah karena Bimo tak dapat juga di hubungi nya.
"Sial, aku di tinggalkan tepat di hari pernikahan seperti ini, Bimo berengsek!" Umpat Viona dengan marahnya.
Kamarnya yang tadinya di hias sedemikian rupa karena di peruntukkan untuk malam pengantin mereka, kini sudah tampak berantakan akibat amukan wanita itu, kelopak bunga mawar merah yang tadinya menghiasi ranjang pengantin mereka dengan di bentuk hati kini sudah menjadi pola abstrak berserakan di lantai.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 dini hari, dan dapat di pastikan kalau Viona akan melewati malam pengantinnya itu sendirian karena suami yang baru di nikahinya tadi siang kini menghilang meninggalkan dirinya denagn alasan pekerjaan.
"Oh, pekerjaan apa sebenarnya yang sampai lebih penting dari ku, lebih penting dari pernikahan?" Ratap artis cantik papan atas itu menangisi nasibnya yang begitu tragis, seorang Viona yang banyak di elu-elukan oleh masyarakat luas dengan kecantikan dan popularitasnya, ternyata di sia-siakan di malam pernikahannya, untung saja pernikahan mereka pernikahan siri dan tak banyak orang tahu selain saksi pernikahan tadi.
Viona meraih kembali ponselnya yang sempat dia banting di atas kasurnya, kali ini dia mencoba menghubungi Rama sanga asisten pribadi Bimo yang tadi pergi bersamanya.
Untuk kali ini ternyata telepon terhubung setelah sekian lama tak bisa di hubungi.
"Mana bos mu? Berikan telepon ini padanya aku ingin bicara dengannya!" Bentak Viona membuat Rama yang menerima telpon dalam keadaan setengah sadar itu menjauhkan ponselnya dari daun telinganya.
Rama baru sampai rumahnya setelah mengantar Alan ke rumah sakit terlebih dahulu tadi, dan dia baru saja ingin memejamlan matanya, karena besok pasti akan banyak pekerjaan yang harus di kerjakannya, termasuk menginterogasi Alan tentang apa maksud dan tujuan nya sampai berani-beraninya membawa Anisa ke tempat sejauh itu.
__ADS_1
"Ah, itu si bos masih----"
Tuuuuuuutttttt......!
Suara sambungan telepon terputus terdengar di telinga Viona sehingga wanita itu bertambah marah, apalagi ketika setelah di coba di hubungi lagi ponsel Rama kini tak lagi aktif.
"Aaaaarrghhh sialan, bos dan anak buahnya sama saja, berengsek!" Umpatnya lagi, kini dengan berurai air mata.
Sementara Rama di ujung telepon sana lebih memilih berpura pura kehabisan daya dengan mematikan ponselnya dari pada salah bicara jika dirinya di tanya-tanya masalah Bimo oleh Viona. Boro-boro Viona, dirinya saja tak tahu dimana keberadaan bosnya saat ini, yang jelas, Bimo pergi bersama Anisa, dan itu menyisakan berjuta tanya dalam otaknya.
"Ada apa lagi ini? Kau membuat kegaduhan di jam segini!" Tegur Wati, ibu dari Viona yang masih berada di apartemennya karena merasa kasihan dengan putrinya yang harus di tinggal sendirian di hari pernikahannya itu.
"Bimo gak pulang, mah!" Adu Viona pad ibunya dengan kesal.
"Sabarlah, bukankah dia juga sudah berpamitan pada mu tadi siang akan ke luar kota, sebaiknya kamu dukung pekerjaan suami mu itu, dia pengusaha besar, bukan pekerja ecek-ecek yang banyak waktu luang untuk berleha-leha seperti----" ucapan Wati terhenti saat Viona menatapnya dengan tajam.
"Mah, tolong jangan mulai lagi, dan tolong jangan ungkit masalah dia, aku tau mamah pasti akan membicarakan tentang dia, kan?" Potong Viona dengan wajah kesalnya.
"Cih, masih saja kau bela pria tak tau diri dan kere seperti itu, ingat,,, kau sudah bersuami, dan mamah tak akan tinggal diam kalau kamu sampai berani bermain api lagi dengan si pria kere berengsek itu!" Ancam Wati tak kalah galak dari putrinya.
__ADS_1