BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Tetap Menolak


__ADS_3

Bimo langsung protes ketika di tau ternyata Anisa mengajaknya menemani dia makan nasi goreng di warung tenda pinggir jalan.


"Ya Tuhan, kamu pikir chef di sana tak bisa masak nasi goreng?" Kesal Bimo, yang ternyata makanan yang di inginkan anisa itu hanya sepiring nasi goreng.


Chef nya di resto tadi bisa memasakan nasi goreng seratus kali lebih enak di bandingkan nasi goreng abang-abang pinggir jalan itu, menurutnya, kenapa malah Anisa memilih untuk makan makanan yang tak terjaga ke higienisan nya, mana tepatnya di pinggir jalan, pula.


"Bedalah mas, di sini suasana nya asik, angin sepoy sepoy, lagi pula harga sepiring nasi goreng di sana bisa buat beli nasi goreng sepuluh piring di sini, padahal sama-sama di buat dari nasi dan telor!" cicit Anisa.


"Jangan bilang kamu tidak memesan makanan di sana karena melihat harganya yang mahal?" Bimo memicingkan matanya ke arah Anisa.


"Salah satu alasannya itu sih, mas!" cengir Anisa polos.


Sungguh Bimo tak bisa berkata-kata lagi dalam menghadapi sikap istri uniknya ini, jika Viona atau mungkin kebnyakan perempun lain akan sangat senang di ajak makan di restoran mahal dan mewah, istrinya ini malah lebih memilih makan di warung tenda pinggir jalan saja, dan malah menolak makan makanan mahal.


Sebenarnya mahluk seperti apa Anisa ini, apa dia mengira aku akan bangkrut hanya jika aku mengajaknya makan malam di tempat yang mahal dan mewah?


"Uang ku tak akan habis kalau pun kamu mau makan malam setiap hari di sana, Nisa!" sinis Bimo,merasa istrinya itu meragukan isi dompetnya.


"Aku tau mas, tapi aku akan merasa, gimana ya, 'feel guilty' aja harus menghambur-hamburkan uang segitu banyaknya hanya untuk makan malam," jawab Anisa, sambil menerima sepiring nasi goreng yang di sodorkan abang penjualnya ke meja lesehan di hadapannya.


Bimo mencerna ucapan Anisa kata demi kata, mengapa gadis ini sangat bertolak belakang sifatnya dengan sang kekasih Viona, Jika Viona selalu menuntutnya untuk selalu bergaya hidup mewah, tidak mau bergaul jika bukan dengan para kalangan atas, Anisa sungguh kebalikan dari Viona, gaya hidupnya yang sederhana, dan hidupnya yang seolah tanpa beban itu terkadang membuat Bimo merasa iri.


Jujur dalam kehidupan ini Bimo terkadang terobsesi ingin membeli mobil mewah setiap bulannya, atau membeli barang-barang mewah lainnya, sehingga ia bekerja keras untuk memenuhi keinginan dan gaya hidupnya yang serba wah, di tambah lagi untuk memenuhi keinginan dan tuntutan sang kekasih yang hanya untuk biaya perwatan wajahnya tiap bulan saja menghabisakan puluhan juta, namun Bimo tak pernah mengeluah, atas nama cinta, Bimo selalu menuruti permintaan kekasihnya itu.

__ADS_1


Kenapa sekarang Bimo jadi sering sekali membanding-bandingkan antara Viona dan Anisa?


Sementara Anisa bekerja keras buat apa? penampilan dan gaya hidupnya saja sangat sederhana di mata Bimo, pikirnya.


"Kamu itu, kerja keras uangnya untuk apa, kalau tak di nikmati, apa kamu tak pernah punya keinginan seperti gadis-gadis seusia mu, belanja baju atau tas gitu?" tanya Bimo.


"Aku baru lulus, dan ini pekerjaan pertama ku, belum aku nikmati hasilnya, pekerjaan pertama ku kan, di pecat gara-gara anda!" sindir Anisa yang lumayan membuat Bimo kembali merasa bersalah.


"Kan, udah ku ganti dengan pekerjaan yang baru, masih dendam aja!" protes Bimo.


"Gak dendam kok, malah makasih udah ngasih pekerjaan baru buat aku, nanti gaji pertama ku mau aku kasiin buat ibu sama bapak," kata Anisa dengan santainya sambil menyantap nasi gorengnya dengan lahap.


"kok, di kasiin ibu sama bapak? Bukankah bapak mu masih bekerja?" heran Bimo.


"Senengnya, masih punya orang tua lengkap," gumam Bimo.


"Mas bisa anggap orangtua ku sebahgai orangtua mas juga kalau mau, mereka pasti senang sekalipunya anak laki-laki, lagi pul mas Bimo tidak benar-benar sendirian, Mas beruntung masih ada kakek yang sangat menyayangi mas," kata Anisa yang sudah di beri tahu cerita tentang orangtua Bimo yang meninggal karena kecelakaan oleh kakek Surya.


Entah bagaimana, dari sana mereka seperti semakin akrab, ceritaan mereka mengalir begitu saja, berbcerita tentang apa saja tanpa ragu di sepanjang perjalanan pulang ke rumah.


"Kamu tidur di sofa lagi?" tanya Bimo yang bersiap-siap untuk tidur, sementara Anisa sibuk menyiapkan bantal dan selimutnya di sofa.


"Emh, maaf aku gak mau ganggu tidur mas, lagi pula aku tak terbiasa satu ranjang dengan pria," kata Anisa.

__ADS_1


"Oh, ya sudah kalau begitu kita gantian, seminggu kamu di sofa seminggu kemudian kamu di kasur, aku yang di sofa, biar adil," ucap Bimo.


"Ng-nggak usah mas, aku udah terbiasa tidur gini, kasian mas Bimo kalau tidur di sofa," tolak Anisa merasa tak enak hati,


"Kamu pikir aku se lemah itu?" sinis Bimo.


Anisa hanya tersenyum kecut dan mengiyakan saja, biarlah,,, toh dia sendiri yang minta untuk gantian, pikir Anisa.


"Nisa, apa kamu sudah tidur?" tanya Bimo yang sepertinya belum bisa terpejam, entah sedang memikirkan apa.


"Belum," jawab Anisa dari sofa tempatnya rebahan.


"Besok pagi, aku mau di masakin nasi goreng untuk sarapan yang mirip sama yang kamu makan tadi," ucap Bimo yang ternyata dari tadi terbayang dengan nasi goreng yang di santap Anisa dengan lahapnya.


"Kamu bisa bikinnya, kan?" lanjutnya.


"Bisa lah, masak kaya gitu mah sambil merem juga bisa, mas!" candanya, membuat bibir Bimo melengkungkan senyum, namun Anisa di pastikan tak dapat melihat senyuman manis itu karena mereka kini berada di ruangan yang sama namun tempat tidur yang berbeda.


Sekuat apapun Bimo mencoba untuk menyangkal, hatinya tak bisa memungkiri kalau ada perasaan nyaman saat bersama Anisa, juga dia bisa belajar melihat hidup dari sisi sudut pandang Anisa yang di anggapnya unik meski bertolak belakang dengan caranya memandang hidup.


Perlahan beberapa kebiasaan seperti contoh kecil baju yang Anisa siapkan di setiap harinya untuk dia pakai ke kantor, awalnya dia merasa itu aneh dan beberapa hari awal dia tak pernah memakainya, namun karena Anisa seperti tak pernah menyerah dan terus menyiapkan baju baju itu untuknya, berawal dari rasa tak enak hati, kini seolah menjadi suatu hal yang wajib, rasa-rasanya kini dia sudah tak bisa memilih pakaiannya sendiri untuk di pakai ke kantor kalau tidak di siapkan sang istri.


Kini makanan hasil masakan Anisa yang mulai menjajah indera perasa Bimo, dimana masakan chef langganannya sepertinya akan tergantikan seiring seringnya dia memakan masakan Anisa yang di anggapnya cocok di lidahnya.

__ADS_1


'Tidak,,,tidak,,,aku tidak sedang tertarik oleh gadis ini!' batin Bimo tetap menolak nya.


__ADS_2