
Hati Bimo kontan saja terasa sesak seakan di hantam batu sebesar truk yang membuatnya susah untuk sekedar bernafas sekali pun.
Bagaimana bisa Anisa sebegitu sabarnya menghadapi dirinya, bahkan dia tak bertanya apapun tentang alasan dirinya yang membatalkan janjinya semalam.
"Bim, apa semalam kamu tidak pulang?" Tanya Surya saat mereka sedang sarapan.
"Emh,," Bimo hampir saja tersedak dengan makanan yang di masakan sang istri.
Tidak biasanya Surya menanyakan tentang dirinya yang pulang atau tidaknya, biasanya kakeknya itu tak pernah peduli sampai hal se detail itu membuat dirinya menjadi salah tingkah sendiri.
"Mas Bimo pulang kok kek, hanya saja pulangnya sudah agak larut malam, karena ada pekerjaan yang harus di selesaikan semalam," sambar Anisa mengambil alih tugas Bimo untuk menjawab pertanyaan kakeknya.
Bimo hanya tersenyum kaku saat Anisa terang-terangan menutupi kesalahannya di depan kakeknya. Ah, betapa dirinya saat ini merasa sangat malu pada istrinya atas semua kesalahan yang telah di perbuatnya semalam.
Surya hanya mengangguk dan menunjukkan raut kalau dirinya percaya dengan apa yang di katakan cucu mantunya itu.
Hal itu membuat Bimo terburu-buru berpamitan untuk berangkat ke kantor demi menghindari pembicaraan yang mungkin saja akan semakin membuatnya terlihat 'aneh' di hadapan mereka semua.
"Aku harus berangkat ke kantor sekarang, ada rapat pagi ini," pamit Bimo yang lalu di angguki oleh Surya dan Anisa.
"Nisa," panggil Surya, sesaat setelah Anisa mengantar Bimo sampai ke depan rumah.
"Ya, kek."
"Jangan sungkan untuk bercerita pada kakek jika Bimo mulai berbuat yang aneh-aneh," kata Surya, nada bicaranya memang terkesan santai dan biasa saja, hanya saja itu terasa bagai hentakan yang cukup keras bagi jantung Anisa yang langsung merasa terhentak kaget mendengar perkataan Surya padanya.
"Emh, tidak ada yang aneh dengan sikap dan kebiasaan mas Bimo, kek." Anisa tetap menutupi apa yang di lakukan oleh suami pura-pura nya itu.
Saat Anisa membereskan kamarnya yang memang selalu dia lakukan sendiri meski banyak Asisten rumah tangga di rumah itu, bukan apa-apa, itu karena Anisa terbiasa melakukan nya sendiri, lagipula dia takut jika sampai asisten rumah tangga di sana tau kalau dirinya dan Bimo tidur terpisah, Anisa menemukan sebuah berkas di meja riasnya, sepertinya itu milik Bimo yang tinggal di sana.
__ADS_1
Karena takut kalau berkas itu merupakan berkas penting, Anisa berinisiatif untuk mengantarkan berkas itu ke kantor Bimo, selain itu dia juga merasa sedikit bosan dan ingin keluar rumah, karena semenjak proyek pekerjaannya selesai dia selalu berada di rumah.
Selepas mandi dan berpakaian rapi, Anisa lantas pergi ke menuju kantor suaminya, senang sekali rasanya bisa keluar rumah dan melepaskan rasa kesal dan marah atas kejadian semalam yang tak sempat di lampiaskannya.
Kalau boleh jujur, Anisa sangat kecewa dengan Bimo yang membatalkan janjinya tanpa kabar sedikit pun, apalagi saat dia pulang pagi tadi pun tak ada sekedar kata permintan maaf yang terucap dari mulut nya, seolah tak ada yang salah dengan apa yang telah di perbuatnya itu, membuat Anisa juga menjadi sungkan untuk bertanya tentang pembatalan janji itu, apalagi kissmark di dada Bimo juga sudah menjawab semua pertanyaannya.
"Hai Nis, tumben datang ke sini sendiri, ada apa?" sambut Rama yang langsung berdiri dari kursi kerjanya yang berada di depan ruangan kerja Bimo.
"Haii kak, mas-- emh, pak Bimonya ada? Aku mau mengantarkan ini," Anisa mengacungkan dokumen milik Bimo yang di bawanya.
"Wah itu dokumen buat bahan rapat nanti sore, kok bisa ada di kamu?" Rama terlihat agak curiga.
"Emh, anu ketinggalan di apartemen yang sedang aku garap, kak!" Bohong Anisa.
"Owh, hebat, garap apartemen si bos yang mana lagi? cair, nih. makan-makan kali!" Goda Rama
"Iya, nanti kapan kapan kalau ada waktu ya, kak. Sekarang aku mau ngasiin ini dulu sama Pak Bimo,"
"Owh, begitu ya!"gagap Anisa, raut wajahnya bahkan terlihat agak berubah namun berusaha untuk dia tutupi.
"Baik kalau begitu, aku---"
Belum sempat Anisa menyelesaikan ucapannya, pintu ruangan Bimo terbuka, dan nampaklah Bimo berjalan dengan seorang wanita cantik yang bergelayut mesra di lengan kekar suaminya itu.
Deg,,,!
Hati Anisa rasanya langsung mencelos saat pandangan matanya bersirobok dengan mata Bimo yang juga sepertinya tidak merasakan kaget yang sama juga seperti dirinya karena tak menyangka kalau Anisa berada di kantornya.
Dengan refleksnya Bimo tiba-tiba melepaskan tangannya dari gelayutan manja Viona, sehingga membuat model cantik itu langsung menatap wajah kekasihnya dengan penuh curiga.
__ADS_1
"Sayang!" Kesal Viona, ketika Bimo melangkah meninggalkan dirinya dan menghampiri gadis asing yang terus di tatap oleh kekasihnya itu.
"Ada apa, Nisa?" Tanya Bimo, terlihat sikapnya agak kaku dan serba salah.
"Sayang, siapa gadis lusuh ini?" Tanya Viona membuat Bimo agak tersentak kaget dengan apa yang di ucapkan kekasihnya itu.
"Vio!" Bimo setengah membentak.
"Sayang, kamu membentak ku?" Suara Viona bahkan kini seoktaf lebih tinggi di banding bentakkan Bimo tadi, tentu saja dirinya tak terima, karena seumur-umur baru pernah dirinya di bentak di depan umum oleh Bimo yang selalu memperlakukanya dengan manis dan penuh cinta.
Sampai di sini tentu saja Anisa sudah mengerti, kalau wanita yang sering wara-wiri di televisi sebagai bintang iklan dan membintangi beberapa film itu adalah kekasih asli dari suaminya.
Sebutan 'Gadis lusuh?' yang tadi di ucapkan Viona memang agak membuat hati Anisa sedikit seperti bagai dicubit, hanya saja bila di lihat lagi siapa yang mengatakan itu, Anisa cukup tau diri, apalagi saat dirinya tersadar kalau belum membuka sweater belelnya saat di parkiran dan dengan pedenya dia mengenakan baju andalannya itu, sepertinya bukan hanya Viona, semua orang juga pasti akan berpikiran yang sama, kalau dirinya lebih mirip gembel yang berada di bangunan mewah hotel berbintang milik suaminya itu.
"Maaf nona, saya hanya pegawai pak Bimo yang di suruh untuk mengantarkan berkas ini," ucap Anisa merasa tak enak hati karena telah membuat kekasih Bimo salah paham padanya.
"Oh, cuma pegawai, pantas saja! Sayang, sejak kapan kamu merekrut pegawai dengan dandanan seperti ini? merusak citra hotel mu saja!" Viona terus saja mencela penampilan Anisa.
"Maaf mba Viona, tapi dia bukan pegawai hotel ini, dia desainer interior yang mengerjakan proyek-proyek apartemen bos," terang rama merasa panas telinganya mendengar hinaan Viona yang ti tujukan pada Anisa membuat dirinya tak bisa tahan untuk tidak berkomentar.
"Tapi aku tak suka cara mu melihat kekasih ku dengan pandangan lancang seperti itu, jangan pernah bermimpi untuk menggapai bulan,!" Kini Viona beralih mengata-ngatai Anisa secara langsung.
"Viona, ayo pergi!" ajak Bimo, menarik pergelangan tangan kekasihnya yang masih saja melemparkan pandangan tak berasahabatnya pada Anisa saat dia melewati tubuh gadis itu.
Bimo segera membawa Viona pergi dari sana sebelum kekasihnya itu semakin keterlaluan menghina Anisa yang notabene adalah istrinya.
"Sabar Nis, dia memang seperti itu, cemburuan dan posesif setengah mati, kamu pasti kaget ya melihat tabiat asli mbak artis terkenal yang biasanya ramah kalau di wawancara di tv itu, begitulah aslinya!" terang Rama yang sudah lumayan tau watak kekasih bosnya itu.
"Dia memang seperti itu kalau mendapati ada pegawai wanita di lantai ini, bawaannya curigaan!" beber Rama lagi, mirip emak-emak yang sedang menggosip di perumahan.
__ADS_1
"Berarti tak pernah ada karyawan wanita di lantai ini?" Anisa terheran-heran mendengarnya.
"Lebih tepatnya tak pernah ada pegawai wanita mana pun yang boleh berada di sekitar si bos, makanya aku aneh saat si bos membawa mu ke ruangannya tempo hari, karena sepertinya selain mba Viona, hanya kamu saja perempuan yang pernah masuk ke ruangan kerja si bos!" kata Rama.