
"Aku,,,hiksss,,, aku bukan istri yang baik, aku tak bisa menjaga diri ku sendiri, aku---aku,,," Anisa lalu menangis lagi tersedu-sedu tak mampu meneruskan kata-katanya.
"Sayang, katakan pada ku, apa yang terjadi, apa yang telah pria itu perbuat pada mu sampai kamu jadi begini?" Tanya Bimo menatap wajah sayu di hadapannya itu dengan lekatnya.
"Dia---- dia--- dia sudah men--- huaaaaa,,," alih-alih berbicara dengan jelas, Anisa justru makin menangis.
Bimo menahan nafasnya, rasa-rasanya dia tak sanggup harus mendengar penyataan Anisa yang mungkin menjadi kenyataan terpahit untuknya,
"Apa yang sudah dia perbuat, katakan Anisa!" Bimo memekik tertahan, sekuat tenaga dia meredam semua emosinya saat ini, karena tak ingin Anisa tambah tertekan, namun membayangkan apa yang ada di pikirannya atas perlakuan Alan pada istrinya membuat dadanya terasa sangat panas karena darahnya yang tiba-tiba seakan mendidih.
"Apa yang dia lakukan pada mu, jawab Anisa?" geraman Bimo menahan gejolak emosi membuatnya menjadi terkesan tidak sabaran.
"Dia-dia mencium ku di bibir dan leher ku, aku merasa jijik dengan diri ku sendiri, maafkan aku tidak bisa menjaga diri ku, aku sudah melawan nya sekuat tenaga, tapi tenaga nya terlalu kuat untuk ku lawan, dia mencium ku dengan paksa, aku sangat kesal, aku marah, tapi lebih kesal dan marah lagi karena aku tak mampu melawannya!" Anisa mengadu bak anak kecil yang baru saja di nakali oleh teman mainnya sambil nangis sesenggukan.
Bimo membuang nafasnya dengan lega, bukan berarti dia tak marah Anisa di perlakukan seperti itu, hanya saja ternyata beruntungnya Anisa belum sempat di perlakukan seperti yang ada dalam pikirannya, Tuhan masuh melindungi istri kecilnya itu.
"Hanya itu? Dia hanya mencium mu?" Bimo memeluknya erat setelah mendapat anggukan sebagai jawaban dari pertanyaan nya itu.
"Jangan menangis lagi, itu semua bukan salah mu, itu semua salah mantan mu yang berengsek itu." Bimo menciumi pucuk kepala Anisa yang terlihat mulai nyaman dengan perlakuannya, terlihat dari sikapnya yang mulai terlihat tenang dalam dekapannya.
__ADS_1
"T-tapi dia menci--"
Cup...
Anisa tak mampu lagi berkata-kata saat bibirnya kini telah penuh terisi di sumpal bibir Bimo yang tiba-tiba saja me lu mat nya dengan lembut dan penuh perasaan.
Tubuh Anisa yang terbungkus selimut membuatnya tak bisa melakukan gerakan apapun selain memejamkan matanya dan menerima dengan pasrah perlakuan lembut suaminya itu.
"Aku sudah menghilangkan bekas ciumannya, dimana lagi dia mencium mu, di sini?" Bisik Bimo lalu menyusuri leher Anisa yang hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah berlawanan karena merasa sangat malu dan grogi dengan perlakuan Bimo padanya, namun dengan begitu justru Bimo seakan di beri akses untuk lebih mudah saat menciumi leher putihnya itu.
"Emh, mas,,," tanpa di sadarinya suara yang terdengar sangat merdu di telinga Bimo itu akhirnya keluar dari mulutnya saat menikmati sentuhan bibir Bimo di lehernya, membuat gairah Bimo semakin tertantang dan semakin memuncak.
"Nis, sayang,,,aku menginginkan mu, apa aku boleh---" suara Bimo terdengan serak dengan mata yang sayu berkabut gairah.
"Mas!" Anisa menutupi kembali tubuhnya dengan selimut yang tadi di singkap Bimo dan menariknya kembali sebatas dada dengan wajah yang sudah memerah karena merasa sangat malu, dia baru menyadari kalau tubuhnya kini sudah polos, sepertinya dia tak menyadari saat tadi Bimo melucuti pakaian basah yang di kenakannya itu.
"Apa kamu malu? Aku bahkan seudah melihat semuanya tadi," kata Bimo menyeringai, membuat Anisa semakin merasa malu di buatnya.
"Aku tak akan memaksa mu, jika kamu tak mau melakukannya." Bujuk Bimo.
__ADS_1
"Aku---aku," bibir Anisa mendadak kelu, dia tak tau harus menjawab atau mengatakan apa atas permintaan suaminya itu, di satu sisi memang sudah ada perjanjian di antara mmereka untuk tak melakukan hubungan fisik, namun di sisi lain pernikahan mereka sah di mata hukum dan agama, sehingga sudah menjadi hak dan kewajiban di antara mereka melakukan hubungan suami istrei meskipun awalnya pernikahan mereka hanya sandiwara saja.
Tentu saja jika ternyata di pertengahan jalan seperti ini mereka saling jatuh cinta, itu semua di luar sekenario mereka.
"Baiklah maafkan aku, ayo kita tidur, aku tau kamu pasti lelah, sini,,, biar ku peluk kamu." Bimo merentangkan kedua tangannya, sebenarnya dia masih sangat berhasrat untuk melakukannya dengan istrinya itu, namun dia juga tak ingin melakukannya atas dasar keterpaksaan, dia ingin semua berjalan karena atas dasar keinginan masing-masing tanpa ada paksaan.
Namun tanpa di sangka-sangka, saat Anisa mendekat dan masuk ke dalam pelukan Bimo, gadis itu justru dengan berani mencium bibir Bimo sekilas, tapi saat dia hendak melepas kecupannya Bimo menahan tengkuk istrinya dan memperdalam ciumannya hingga kecupan singkat itu berubah menjadi ciuman panas yang membuat kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu merasa kegerahan meski AC dinyalakan dengan suhu rendah, belum lagi daerah itu memang terkenal dengan daerah pegunungan yang dingin, sayangnya semua itu di mentahkan oleh mereka berdua yang kini tubuhnya merasa sangat kepanasan.
"Sayang, apa ini berarti aku boleh---" tanya Bimo yang lalu seakan mendapat lampu hijau saat Anisa mengangguk sangat pelan sampai hampir tidak terbaca gerakannya.
"Kamu yakin? Tak akan menyesal? Karena setelah itu aku tak akan melepaskan mu seumur hidup ku." Ucap Bimo lirih.
Anisa hanya menjawabnya dengan ciuman lembut di pipi suaminya itu, seakan meng iyakan semua pertanyaan suaminya itu.
Bimo me lu mat mesra kembali bibir yang kini menjadi candunya itu, lantas menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya sehingga nampaklah tubuh putih mulus itu di hadapannya.
Entahlah apa yang akan terjadi setelah ini, Bimo bahkan lupa seharusnya malam ini menjadi malam pengantin bagi dirinya dan Viona, namun di malam pernikahannya dengan Viona ironisnya dia justru menghabiskan nya dengan Anisa, istri pertamanya.
Entah harus di sebut salah pengantin atau bulan madu dengan pengantin yang salah, yang jelas meskipun hari ini merupakan hari pernikahan dirinya dengan Viona, namun malam harinya menjadi malam pertama dan sekaligus bulan madu bagi dirinya dengan Anisa.
__ADS_1
Ini pengalaman pertama bagi Anisa, entah boleh di katakan beruntung atau tidak, namun setidaknya dia melakukannya dengan suaminya, dan sekaligus ini juga 'pengalaman pertama' bagi Bimo, memang bukan pengalaman pertama tidur dengan wanita, hanya saja ini pengalaman pertama tidur dengan wanita yang masih segel seperti istrinya itu, karena sebelumnya Viona memang sudah tak bersegel saat melakukannya bersama dengan dirinya.
"Terimakasih sudah menjaganya untuk ku, dan maaf jika mulai saat ini aku tak akan melepaskan mu, aku tak mau kita berpisah atas alasan apapun." ucap Bimo seraya mengecup mesra kening istrinya saat mereka baru saja melakukan malam pertama yang tertunda beberapa bulan lamanya.