
Kakek Surya mengajak ku untuk masuk, aku hanya menurut saja, ternyata rumah ini sangat luas, waktu pertama kali ke rumah ini aku hanya ke kamar mas Bimo saja, karena memang kan, itu masalah pekerjaaan.
Ngomong ngomong masalah pekerjaan, aku merasa sangat bahagia dan beruntung mendapat pekerjaan baru dari mas Bimo, benar kata ibu, vila kita ikhlas maka penggantinya akan di berikan yang lebih baik oleh Tuhan, seperti saat kehilangan pekerjaan ku kemarin, saat aku ikhlas, sekarang aku mendapat tawaran pekerjaan baru yang sepertinya akan lebih menjanjikan.
Mas Bimo mengajak ku ke taman belakang rumahnya, lalu menyodorkan surat kerja sama antara aku dan dia dalam pengerjaan apartemen miliknya, ya Tuhan, rasanya aku seperti kejatuhan bintang.
"Kamu cukup mendesain dan mengawasi pengerjaannya, sementara untuk pekerja dan lain lain aku yang menyediakan semua," ucap mas Bimo yang langsung membuat ku lega, aku pikir aku harus mencari tukang dan lain lain, secara aku masih amatiran dan belum punya tim.
"Masalah model nya, mas Bimo ada request ingin seperti apa mungkin?" tanya ku sebelum memnanda tangani surat kerja sama itu, takutnya model yang di inginkan mas Bimo tidak akau kuasai atau aku tidak bisa mewujudkannya.
"Ah,, itu-- aku percayakan pada mu, buat model simple elegan menurut selera mu, aku membebaskannya" ucapnya.
Ini mas Bimo sedang bercanda atau bagaimana, masa pasrah begitu saja dengan pemikiran ku, bisa saja seleranya tak sama dengan ku.
"Baik, nanti aku akan meninjau tempatnya dan mencoba mengajukan beberapa model sama mas," ucap ku lalu menanda tangani surat kerja sama yang sepertinya baru di buat olehnya dadakan saat di menghilang beberapa menit yang lalu, ketika aku sedang menemani kakek nya mengobrol di living room.
###
POV Author
Ini hari pertama Anisa meninjau apartemen yang akan di desain ulang olehnya, semangatnya sungguh menyala nyala, ini pekerjaan yang sangat di impi impikannya, tak semua orang mempunyai kesempatan seperti yang saat ini dia dapatkan.
Anisa memasukan beberapa nomor kode di pintu agar dirinya bisa masuk ke dalam unit itu, kemarin Bimo memberi tau kode itu padanya agar Anisa bisa langsung datang sendiri.
Penuh semangat dia menggambar ruangan itu dan menggambar beberapa desain untuk di ajukan ke Bimo.
__ADS_1
Tangan terampil Anisa kini menari nari di atas laptopnya, sampai tak terasa hari sudah beranjak sore, namun tak sia sia dia mengerjakan semua pekerjaan itu seharian, karena kini beberapa gambar sudah Anisa kirimkan pada Bimo lewat email.
***
Di Mahesa Hotel,
Mata Bimo yang sedang memeriksa file di komputernya, tiba tiba mendapatkan email,
"AlaNisa?" gumamnya mengerutkan kening saat sebuah email dengan nam pengirim AlaNisa tiba tiba mengusik kegiatannya,
"Owalah,,, gadis itu tho, aku pikir siapa, hemh,,, boleh juga seleranya," cicitnya saat ternyata email itu berisi 3 buah gambar desain apartemen yang baru saja di belinya dari seorang teman yang membutuhkan uang, dia memang sudah biasa menjual beli properti seperti itu, kalau unitnya masih oke dia paling langsung jual, tapi kalau agak kurang menarik, dia pasti mendesain ulang unitnya agar bisa laku dengan harga yang tinggi.
Bimo meraih ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya, dia melihat beberapa pesan masuk, semua hanya pesan tentang pekerjaan, pesan dari kakeknya.
Tunggu, masih kekasih atau sudah menjadi mantan kekasih? Yang jelas apapun status mereka sekarang, Bimo masih sangat mencintainya, sangat!
Hanya saja dia sedang merajuk, berharap kekasihnya itu sedikit memberi perhatian lebih untuknya, mau berbaik hati menghubunginya duluan, jangan selalu seolah dirinya terus yang memperjuangkan hubungan mereka.
Tapi harapan tinggalah harapan, Viona tak berniat menghubunginya bahkan hanya berkirim sebuah pesan pun sepertinya dia enggan.
Sedang mengotak atik ponselnya, tiba tiba tak sengaja dia men dial nomor ponsel Anisa, entah bagaimana caranya tangannyatangannyaa seperti mengarahkan dirinya untuk menghubungi nomor yang di dapatnya dari perusahaan furniture tempat Anisa dulu bekerja.
"Eh,, iya halo,!" Gugup Bimo saat suara Anisa terdengar menyapa dari seberang.
"Ini siapa?" tanya Anisa yang memang tak menyimpan nomor Bimo.
__ADS_1
"Emh,, ini Bimo, anu--- itu gambar yang kamu kirim lewat email sudah aku terima," Bimo tergagap, sungguh kini dia merasa bodoh, bisa bisa nya beralasan seperti itu.
"Oh iya, syukurlah,, apa ada yang cocok atau ke tiganya tak ada yang mas suka?" tanya Anisa lagi.
"Aku suka ke tiganya, kamu boleh pake yang mana saja se suka mu."jawab Bimo.
"Baiklah kalau begitu, aku mau bersiap siap untuk pulang, dulu." kata Anisa.
Pembicaraan mereka pun berakhir.
Namun baru saja dia mengakhiri pembicaraannya dengan Anisa, sebuah pesan masuk dari sang kakek.
'Temui kakek di tempat ini, penting!'
Tertera juga peta lokasi agar memudah kan Bimo menemui kakeknya di tempat itu, tanpa banyak bertanya Bimo pun segera meluncur menemui kakek di tempat sesuai maps yang kakek Surya kirim.
Bimo sedikit mengernyit, kenapa jalan ini terasa familiar di lewati nya, dan benar saja, bukankah ini jalan menuju rumah Anisa? kaget Bimo dalam hatinya, jantungnya tiba tiba berdegup sangat cepat, apa yang kakeknya lakukan di rumah Anisa ?
Bimo benar benar berharap kalau kakeknya hanya sedang menemui salah satu teman atau rekan kerjanya yang kebetulan rumahnya berada di kawasan perumahan dekat rumah Anisa.
Namun ternyata, Bimo harus merasa lemas ketika mendapati mobil sang kakek benar benar terparkir di depan halaman rumah Anisa.
Pikirannya tiba tiba blank, tak dapat berpikir apapun, bahkan tak bisa menebak nebak apa yang kakeknya tengah lakukan di sana.
Sungguh Bimo merasa kebingungan antara tetap menemui kakeknya di dalam sana atau tidak usah menemuinya?
__ADS_1