BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Ayo menikah


__ADS_3

###


POV Bimo


"Bim, kakek ini sudah tua, keinginan kakek yang belum terlaksana itu hanya ingin melihat mu menikah, anggap saja ini permintaan terakhir kakek!" Suara kakek terdengar begitu memelas di telinga ku.


Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan saat ini, kenapa sandiwara yang ku buat dengan tujuan untuk menyenangkan hati kakek malah menjadi petaka untuk ku saat ini.


Bagaimana mungkin aku menerima usulan kakek untuk menikah dengan gadis itu, sementara aku tak sedikitpun mencintainya.


"Bim, bagaimana? Kenapa malah melamun?" teguran kakek membuat kacau semua isi kepala ku.


"Aku harus membicarakan nya dahulu sama Nisa, kek!" ucap ku beralasan.


"Nisa ada di sini, ayo silakan kalian bicara," sepertinya kaakek tak mau mengalah pada ku.


Kakek memang selalu teguh dalam pendiriannya, dia jarang meminta apapun pada ku, namun jika sudah ada yang di minta, itu sifatnya wajib di turuti.


Aku melirik ke arah Anisa, wajah gadis itu terlihat pucat, bahkan dia sepertinya tak berani mengangkat wajahnya.


Tuhan, kenapa aku melibatkan gadis tak berdosa itu untuk ke egoisan ku? Kekacauan ini semakin melebar saja, bahkan aku juga melibatkan kedua orang tua Anisa yang tak tau apa apa.


"Nis," panggil ku.

__ADS_1


Anisa melirik ke arah ku, tampak jelas matanya berkaca kaca, mungkin hanya tinggal satu kedipan saja ait mata itu akan jatuh.


Duh, semakinmerasa bersalah saja aku jadinya.


Meskipun aku tak tau apa yang menyebabkan Anisa bersedih, namun sepertinya dapat ku mengerti kalau dia syok dan ketakutan.


"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya ku pada Anisa.


Gadis itu mengangguk pelan.


"Kakek, om, tante, saya permisi ke luar sebentar, kami harus membicarakan hal penting berdua," pamit ku, tak mungkin aberbicara dengan Anisa di hadapan mereka semua, dan lebih tak mungkin lagi jika aku harus mengambil keputusan tanpa berunding dulu dengan Anisa yang dalam konteks ini dia adalah kekasih ku.


Mereka bertiga mengijinkan kami berbicara di luar untuk berunding, meski tadinya kakek keukeuh minta aku dan Anisa berunding di dalam rumah, di depan mereka, namun aku tetap meminta privasi kami.


Aku mengapit tangan gadis itu, tangannya terasa dingin bagai es batu, sepertinya dia benar benar gugup dan ketakutan. Gadis yang malang, gumam ku dalam hati.


"Mas, kenapa jadi begini?" Tanya Anisa dengan suara bergetar, bahkan airmata nya kini sudah jatuh tanpa bisa di tahannya.


"Maafkan aku, sungguh aku tak tau kalau semua akan menjadi se rumit ini," jawab ku yang kini tak mampu menatap wajah sendu Anisa di hadapanku.


Aku dan Nisa saat ini berbincang di ujung halaman rumah Anisa, tepatnya di dekat pintu besi aku menyandarkan punggung ku di sana.


Aku memang sengaja mengajak NIsa berbicara agak jauh dari rumah nya agar orang tua Anisa dan juga kakek ku tak dapat mendengar apa yang kami bicarakan.

__ADS_1


"Bagaimana ini, aku takut!" cicit Anisa.


"Tenang saja, aku akan menolak pernikahan ini dan mengatakan kalau aku berselingkuh atau punya kekasih lain, jadi yang salah dalam hal ini adalah aku, biar aku saja yang menanggun resikonya sendirian, karena ini semua beraal dari ide ku," usul ku.


Tentu saja seain aku yang memang sejak awal sudah berslah karena menciptakan sandiwara terkutuk ini, aku juga seorang pria, aku harus bersikap layaknya ksatria yang berani mengambil resiko atas jalan yang aku pilih.


"Tapi, aku takut jika terjadi apa apa dengan kakek," ucapan Nisa itu membuat aku termenung dan tiba tiba merasakan ketakutan yang sama.


Kami sama sama terdiam dan bingung apa yang harus kami ambil sebagai keputusan.


"Ayo kita menikah, mas." kata Anisa yang sontak saja membuat aku terkejut mendengar perkataannya.


"Apa maksud mu? Jangan main main, aku tak mencintai mu." jawabku spontan dan berusaha jujur padanya.


Aku tak mau memberinya harapan palsu, aku memang tak mencintai nya. Aku masih mencinta Viona, meski kami dalam keadaan tidak baik baik saja saat ini namun nama Viona belum bisa bergeser sedikit pun dari hati ku apalagi sampai di gantikan oleh orang asing seperti Anisa yang baru beberapa hari ini aku kenal.


Aku masih mengharapkan Viona kembali dan menikah dengannya, tak ada sekilas pun terpikir oleh ku untuk menikah dengan orang lain, jika pun aku pernah punya hayalan tentang pernikahan, wanita dalam hayalan ku itu adalah Viona, tak pernah aku membayangkannya dengan orang lain.


"Kamu pikir aku bisa dengan mudah mecintai orang asing yang baru beberapa hari saja aku kenal? Aku juga tidak mencintai mu, mas!" suara Anisa agak meninggi, mungkin merasa harga dirinya tersentil oleh perkataan ku tadi yang mengatakan kalu aku tak mencintainya.


"Lantas, pernikahan macam apa, dimana kita berdua sama sama tak saling mencintai?" tanya ku agak bingung dengan maksud dari apa yang di katakan Anisa.


"Sama halnya seperti rencana awal, kita lakukan ini demi kakek mu, namun mungkin saat ini juga demi orang tua ku, mereka tanpa sengaja sudah di libatkan dalam kebohongan ini." ucapnya yang membuat ku menjadi semakin merasa bersalah setelah mendengar ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2