
Sudah lebih dari 2 bulan Bimo dan Anisa bersama sebagai suami istri, hubungan mereka berjalan dengan baik, meski terkesan pelan, namun mereka juga semakin dekat dan saling mengerti satu sama lain, apalagi Bimo yang sudah merasa sangat nyaman dengan kehadiran istri pura-pura nya itu, pernikahan sementranya seakan semakin terasa nyata saja.
"Kapan kalian memberi ku cicit? Jangan di tunda-tunda, kakek sudah sangat tua jangan sampai kakek tak melihat cicit kakek saat dia di lahirkan," ucap Surya saat dirinya sedang bersantai di taman sambil di temani Bimo dan Anisa.
Tentu saja dua sejoli itu gelagapan saat di tanya pertanyaan seperti itu oleh sang kakek, bagaimana bisa mereka punya anak, bahkan sampai sekarang tidur saja mereka masih terpisah, tak satu ranjang.
"Emh, kami masih berusaha kek, semua kan Tuhan yang menentukan. Kakek do'akan saja yang terbaik untuk kami," Kata Bimo saat Anisa memutarkan lehernya menoleh ke arahnya seakan meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan sang kakek.
"Tentu saja kakek selalu mendo'akan yang terbaik untuk kalian, hanya kalian harta yang kakek punya,"
Anisa menghela nafas panjang, betapa setiap harinya dia semakin merasa bersalah pada Surya karen harus semkin menumpuk kebohongan padanya.
Pekerjannya mendesain apartemen milik Bimo juga sudah selesai seminggu yang lalu.
"Mas, itu transferan pembayaran pekerjaan ku kok, banyak sekali?" tanya Anisa sambil memperlihatkan bukti transferan yang di kirim Bimo padanya.
"Kan sekalian uang bulanan," jawab Bimo santai.
"Ung bulanan?" Anisa terperangah mendengar jawaban Bimo.
"Iya, tiap bulan aku mengirimkan uang bulanan ke rekening mu, jangan-jangan kamu tak pernah mengetahuinya?" selidik Bimo.
Anisa hanya nyengir kuda sambil menggelengkan kepalanya, dia memang tak pernah mengecek saldo tabungannya yang selalu di batas limit itu, lagi pula dia tak pernah memerlukan uang untuk apapun di kesehariannya,semua kebutuhan makan dan lainnya sudah tersedia di rumah mewah itu, kalau hanya untuk membeli bensin motornya dia menggunakan uang cash yang dia punya yang tak seberapa itu.
"Uang bulanan?" cicit Anisa lalu mengecek saldo rekening tabungannya lewat ponsel yang dalam genggamannya itu.
Seketika matanya terbelalak melihat deretan angka nol yang panjang di layar ponselnya.
"Dua ratus juta?" pekiknya.
Seumur umur baru pernah dia melihat saldo tabungannya sebanyak itu membuat dia mengucek matanya berulang kali dan menghitung manual deretan angka nol di layar.
__ADS_1
"Mas, ini apa-apaan, kenapa uangnya banyak sekali?"
"Kenapa? Apa kurang, jatah mu 50 juta sebulan?" tanya Bimo.
"Mas, jangan main-main, ini terlalu berlebihan buat ku, kita hanya---"
"Nisa, aku ini seorang suami, nafkah untuk istri itu kewajiban ku, jadi tolong jangan melarang ku!" bantah Bimo.
Tentu saja nafkah sebulan Anisa itu hanya untuk biaya sekali perawatan wajah Viona di salon kecantikan, bahkan biasanya Bimo mengeluarkan lebih dari itu.
"Ini terlalu banyak, mas!"
"Sudahlah jangan berdebat masalah uang, pakailah uang itu sesuka mu, kalau kurang kamu bisa minta lagi pada ku!" Pungkas Bimo.
Sungguh Bimo tak habis pikir dengan istrinya itu, bagaimana bisa di kasih uang tapi malah menolak dan mengatakan kebanyakan, sementara di luaran sana para wanita mengincarnya karena uang dan kekayaan yang di milikinya.
Anisa tak berani membantah lagi, dia hanya diam, sambil memikirkan uang sebanyak itu akan di pergunakannya untuk apa.
"Ya, nanti aku antar ke sana,"
"Ti-tidak usah mas, aku sendiri saja," tolak Anisa.
"Apa kau mau mereka berpikiran yang tidak-tidak tentang diri ku, jika aku tak mengantar mu kesana?"
Lagi-lagi Anisa hanya bisa mengalah, benar juga apa yang di katakan Bimo, orang tuanya pasti akan bertanya-tanya jika dirinya pulang sendirin e rumahnya, salah-salah diinya nanti bisa di kira minggat dari rumah suaminya.
***
Umar dan Tati menyambut dengan hangat anak dan menantu mereka, sementara Anisa dan Bimo kembali memerankan sebagai pasangan suami istri yang sangat bahagia dan harmonis.
"Kalian menginap di sini sehari saja ya, bapak dan ibu kangen sekali dengan kalian." pinta Umar.
__ADS_1
Semenjak Anisa mengerjakan desin apartemen Bimo, dia memang jadi jarang mampir ke rumah orang tuanya itu karena kesibukannya, namn orang tuanya juga memmaklumi dan tak pernah menuntut apapun.
Hanya melihat anaknya bahagia dengan pernikhannya saja buat mereka sudah cukup, karena mereka sangat mengerti kalau kodratnya anak perempuan pasti akan di bawa oleh suaminya.
"Tapi mas Bimo sepertinya---" Anisa melirik wajah suaminya, dia takut jika Bimo keberatan dengan hal itu.
"Baiklah, kami akan menginap malam ini, pak!" jawab Bimo tanpa di duga.
"Mas, tapi mas gak bawa baju ganti!" protes Anisa seolah tak yakin jika suaminya benar-benar menyetujui permintaan ayahnya, dia takut kalau Bimo merasa terpaksa melakukan itu karena merasa tak enak hati.
"Aku bisa pinjam baju ayah mu, iya kan, pak? Boleh, kan?" Kini Bimo tersenyum ke arah Umar yang mengangguk dengan sangat antusias.
"Iya boleh, tentu saja boleh!" jawab Umar.
Kebersamaan yang hangat di keluarga itu begitu sangat berkesan untuk Bimo, dia merasakan kembali bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang utuh, di tengah kedua mertuanya yang sangat menyayanginya seperti menyayangi anak mereka sendiri.
Hati Bimo menghangat, meski berad di rumah yang jauh dari kata mewah, namun kebersamaan mereka itu terasa sangat mewah dan mahal bagi Bimo. Cara umar bercerita tentang tanaman hiasnya, lalu Tati yang memasakan makanan rumahan yang baru pernah dia rasakan kenikmatan makan bersama keluarga.
Kini Bimo tahu, darimana kemampuan memasak Anisa di turunkan, rupanya masakan Tati dan Anisa memang rasanya sama persis.
Setelah makan malam dan bercengkerama sebentar dengan Umar sambil bercerita tentang poitik dan harga-harga bahan pangan yang naik, kini saat nya Bimo masuk ke kamar pribadi milik Anisa.
Kamar sempit berukuran 3x3 meter itu bahkan lebih kecil dari toilet kamarnya.
Tidak ada sofa seperti di kamarnya yang bisa memisahkan mereka saat tidur, membuat Bimo hanya berdiri sambil memperhatikan sekeliling kamar itu, tak berani berbaring di kasur yang ukurannya sangat sempit itu.
Anisa masih di luar membantu ibunya membereskan piring-piring bekas mereka makan.
Bimo tergelitik untuk melihat-lihat meja belajar yang ada di kamar itu, hnya meja belajar kecil, mengiingat sempitnya ruangan itu, memang tak banyak barang di rumah itu, hanya ada kasur kecil, meja belajar kecil, dan lemari kayu dua pintu, namun semua barang di kamar itu terlihat nyeni dan nyentrik, sepertinya Anisa mendesain sendiri barang-barang yang ada di kamarnya itu sehingga terlihat sangat serasi.
Tangan Bimo tiba-tiba terulur untuk membuka laci meja belajar yang lama di tinggalkan pemiliknya itu.
__ADS_1
Mata Bimo langsung tertuju pada selembar foto yang ada di laci itu. Foto Anisa sedang duduk berdua dengan seorang pria, tak ada yang aneh dengan posenya, terlihat biasa saja, hanya saja wajah Anisa terlihat seperti bahagia di sana, sehingga membuat hati Bimo sedikit bergemuruh dan tak suka melihatnya, meski dia tak tahu siapa pria yang berda di foto itu, hanya saja itu sangat mengganggu perasaan Bimo saat itu.