BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Rela tak semudah kata


__ADS_3

Hanya tinggal 2 hari lagi Bimo akan mempersunting Viona, andai tak ada bayi yang harus di pertanggung jawabkannya, rasa-rasanya Bimo ingin pergi saja menghilang dari kota tempatnya tinggal sekarang ini bersama di suatu tempat dimana tak ada ada satu orang pun yang tau di mana mereka tinggal dan hidup bahagia penuh cinta.


"Nis, maafkan aku. Demi Tuhan aku tak ingin perpisahan terjadi di antara kita, jadi aku mohon untuk tetap bersama ku, berada di sampingku."


Genggaman tangan Bimo terasa begitu erat di jemari Anisa, seakan tak rela untuk meninggalkan istrinya itu kembali di apartemen sendirian, dan dirinya kembali ke apartemen Viona.


"Sudahlah mas, lusa kamu akan menikah, selesaikan semua urusannya, aku doakan semoga semua berjalan lancar." Kata Anisa meski dengan dada yang menahan perih dan sesak.


Katakanlah Anisa wanita munafik, dengan mulut yang berkata iya namun hati terasa sakit, namun ketahui lah, karena merelakan itu tak semudah kata, ada hati yang harus mengalah dan berpura pura tetap tersenyum meski hati teriris perih.


"Aku akan segera kembali ke sini setelah semua selesai, jangan pergi ke mana-mana, tak usah bekerja juga, biar tim mu saja yang mengerjakan pekerjaan mu, aku ingin kamu di sini menunggu ku, karena aku bisa saja pulang sewaktu-waktu dan aku ingin kamu ada, menyambut ku seperti biasanya," mohon Bimo mengiba.


Masih pantaskah seorang suami tak setia seperti Bimo meminta hal sebanyak itu pada istrinya? Meminta Anisa untuk tetap bertahan meski dirinya berpaling, meminta Anisa untuk tetap berdiam meski dirinya terasa sakit, dan menyatakan cinta namun menikahi wanita lain?


Terkadang memang cinta dan bodoh itu perbedaannya hanya setipis benang saja, sulit di bedakan.


Anisa mengakui kalau dirinya memang bodoh, sedari awal terlalu naif mengikuti sekenario yang di rancang Bimo untuk berlakon dalam sandiwara pernikahan yang berujung terjebaknya dia dalam peran yang di mainkannya, lantas berharap kalau ini semua bisa menjadi nyata, sebelum akhirnya sang lawan main yaitu Bimo memutuskan untuk kembali ke kehidupan nyatanya, kembali ke kekasih aslinya, meninggalkan Anisa yang tenggelam dalam lautan pengharapan.

__ADS_1


Naamun sialnya, di ujung pengharapannya, justru Bimo malah membisikan kata-kata cinta padanya dan meyakinkan kalau perasaan yang dibrasakan Anisa ternyata bukan hanya cinta yang bertepuk sebelah tangan saja.


Tinggalah Anisa yang kini berada dalam kebimbangaan diri, apa dia harus bahagia karena ternyata Bimo merasakan cinta yang sama dengan apa yang di rasakannya, atau malah harus bersedih, karena cinta antara dirinya dan Bimo harus di bunuh sebelum berkembang karena akan ada banyak nyawa yang tersakiti atas cinta mereka, salah satunya adalah bayi tak berdosa yang berada di dalam kandungan Viona.


**


Hari ini hari rabu, hari kelabu untuk Anisa karena tepat di hari ini Bimo sang suami akan mengulang janji setia perkawinan, namun bukan pada dirinya, melainkan pada wanita lain yang merupakan sosok wanita yang sempurna dan memiliki kekuatan mengikat pada Bimo atas darah daging yang tumbuh di perutnya.


Mau di bandingkan dari segi apapun juga Anisa tak akan lebih istimewa jika di bandingkan dengan Viona yang seorang artis dan model terkenal, dan sudah menjadi kekasih Bimo sejak beberapa tahun silam, apalagi dengan akan segera hadir nya buah hati di antara mereka, Anisa yakin dirinya akan tersingkirkan dengan sendirinya.


Satu pesan masuk ke ponselnya, tadinya dia tak ingin membuka pesan itu karena mengira pesan dari Bimo yang sejak tadi malam terus meminta maaf dan meminta ijin atas pernikahan ke duanya itu yang akan di langsungkan hari ini.


Namun tak lama ponselnya berdering terus beberapa kali, dan nama yang tertera pun bukan Bimo, melainkan Alan.


Dengan agak malas Anisa menerima panggilan telepon dari mantan kekasihnya itu karena takutnya terkait tentang pekerjaan yang di tonggalkannya, bagaimana pun dirinya harus tetap profesional dalam pekerjaan.


Benar saja, Alan mengajaknya bertemu karena ada hal yang ingin dia bicarakan terkait pekerjaan.

__ADS_1


Setelah beberapa menit berpikir dan menimbang-ninbang, akhirnya Anisa menyetujui permintaan bertemu Alan di sebuah kafe ternama yang terletak di sebuah pusat perbelanjaan itu.


Ya,,, itung-itung merefresh otak yang saat ini sedang kacau, dan akan semakin kacau jika dirinya terus berada di rumah dan otaknya hanya terus berpikir tentang pernikahan Bimo dan Viona saja.


Saat sampai di mall besar itu Anisa langsung bertemu dengan Alan di tempat mereka janjian.


Alan memilih tempat di dekat jendela kaca yang terlihat dari luar karena dirinya terlebih dahulu datang ke tempat itu dan agar Anisa tak kesusahan menemukannya.


Alan melambaikan tangannya dari dalam ruangan dengan senyum lebarnya saat melihat Anisa datang menghampirinya.


Sepasang mantan kekasih yang kini baru akrab kembali itu duduk berhadap-hadapan, tak membahas tentang mereka ataupun tentang masa lalu yang pernah mereka lewati, melainkan membahas tentang sebuah penawaran pekerjaan untuk Anisa, yaitu mendesain villa milik kliennya yang berada di perbatasan kota.


Saking seriusnya mereka membicarakan masalah proyek kerja itu sampai mereka tak menyadari kalau Rama yang saat itu di perintahkan Bimo untuk mengambil cincin kawin yang di pesannya di mall itu yang belum sempat di ambil karena dirinya yang sakit atau karena ketidak pedulian dan ke tidak antusiasan nya dalam mempersiapkan pernikahan mereka.


Saat Rama bergegas keluar dari toko perhiasan yang letaknya berseberangan dengan restoran yang kini sedang di datangi Anisa dan Alan, langkah Rama terhenti sejenak saat dia menajamkaan lagi penglihatan nya dan memastikan kalau apa yang di tangkap oleh indera penglihatan nya itu benar-benar sosok Anisa dan Alan.


Ingin rasanya Rama menghampiri mereka berdua dan menanyakan apa yang sedang mereka lakulan, namun saat mengingat si bos sontoloyo nya yang menyuruhnya untuk mengambil cincin di detik-detik acara pernikahan akan segera di mulai, membuat Rama mengurungkan diri untuk menghampiri Anisa dan Alan, karena bisaa di pastikan dirinya akan kehilangan pekerjaan jika sampai telat memberikan cincin nikah itu tepat waktu pada bosnya.

__ADS_1


__ADS_2