
"Sayang, lama sekali kamu datang ke sini, aku menunggu mu, kamu tak pulang-pulang, padahal aku sedang mengandung dan keadaan ku sedang lemah seperti ini dan sepertinya bayi dalam perut ini ingin dekat-dekat dengan ayahnya!" oceh Viona dengan manjanya.
Sang artis terkenal itu di rawat di rumah sakit karena terus-menerus muntah sampai pingsan dan hanya bisa tergeletak lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit
Bimo mendekati ranjang pasien dimana Viona terbaring lemah di atasnya.
"Sayang, kenapa? Apa yang terjadi?" Bimo tak dapat menyembunyikan raut kecemasannya.
"Aku tak bisa jauh-jauh dari mu, bayi dalam perut ku ini sepertinya tak mau berjauhan dengan mu, dia terus menyiksa ku dengan terus membuat ku mual muntah sepanjang waktu." Adu Viona.
Tangan Bimo terulur hendak mengusap perut rata Viona, namun itu urung dia lakukan seorang dokter masuk ke ruangan itu.
"Maaf, waktunya pengecekan," ucapnya ramah, begitulah kalau di rumah sakit mahal vvip pula, apalagi tau pasiennya bukan orang sembarangan, pasti akan mendapat pelayanan yang lebih dari biasanya.
"Semua sudah baik, sudah normal, saat infus sudah habis dan nyonya tidak ada keluhan apapun, anda sudah boleh pulang." Kata dokter itu dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
Bimo hanya terdiam saja saat dokter itu terus membicarakan tentang keadaan Viona, dia berani bertaruh kalau dalam hati si dokter pasti sedang menebak-nebak tentang hubungan dirinya dengan sang artis terkenal itu, dimana si dokter pasti tau kalau Viona sedang berbadan dua, padahal tak pernah ada berita tentang pernikahan sang artis selama ini.
Lain dengan Viona, cukup percaya diri, bahkan di depan dokter itu dia berani bermanja pada Bimo.
"Tuh kan sayang, apa aku bilang, saat kamu ada di sini keadaan ku langsung baik-baik saja, kan?" Ucapnya dengan nada yang di buat-buat, dengan tangannya yang terus saja menggenggam erat tangan Bimo yang berada tak jauh dari tempatnya berbaring, membuat dokter itu sedikit risih dan malu sendiri melihat tindak tanduk pasiennya itu, dia pun segera berpoamitan dan meninggalkan ruang vvip itu.
"Sayang, ayo pulang, aku sudah ingin pulang, aku tidak betah di sini," rajuknya.
__ADS_1
Namun Bimo malah melamun, matanya terkunci pada sosok kekasihnya yang kini semakin terasa menjauh dan menghilang di hatinya.
Bimo merasa betapa jahatnya dirinya, sementara Viona sang kekasih berjibaku melawan rasa mual dan segala perubahan hormonnya, dirinya malah memilih untuk bersembunyi dari nya, sungguh betapa pecundangnya dirinya.
"Maafkan aku, jika aku belum bisa memberi mu perhatian yang lebih, sungguh bukan maksud ku meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini," lirih Bimo penuh sesal.
Kini Bimo kembali merasa galau, antara dirinya yang selalu ingin bersama Anisa, namun juga tak tega meninggalkan Viona sendiri dalam keadaan seperti ini.
"Jangan jauh-jauh dari ku lagi, aku kesepian, aku juga sudah tak menerima pekerjaan, karena aku tak mungkin menerima pekerjaan dalam keadaan seperti ini. Aku hanya ingin menjadi ibu rumah tangga biasa, menjadi istri yang menunggu mu pulang dari kantor dan menghabiskan waktu ku di rumah saja." Ocehnya membuat Bimo kembali teringat akan janjinya yang akan menikahi Viona secepatnya.
Arrrghhhh,,,,! Kepala Bimo rasanya mau pecah saja memutuskan apa yang tak bisa di putuskannya, sungguh dia tak bisa memilih antara kedua wanita yang saat ini ada di cerita hidupnya itu.
**
Sebenarnya pikirannya terpecah dengaan memikirkan Anisa yang bisa saja masih bekerjaa di tempat Alan, namun untuk waktu dekat ini memang Bimo tak bisa meninggalkan Viona yang terus sajaq menpel pada dirinya, bahkan dia sampai harus bekerja dari apartemen itu saking Viona tak mau di tinggal jauh-jauh dan lama olehnya.
Terpaksa dirinya menghubungi Rama dengan berbagai alasan agar dia mu meminta Anisa untuk mendesan salah satu apartemen miliknya semoga saja Rama tak curiga dengan permintaannya itu.
"Sayang, aku ada sedikit pekerjaan harus di selesaikan hari ini juga, sepertinya aku akan pulang telat," ucap Bimo saat dirinya berpamitan berangkat ke kantor dan berniat untu menghampiri Anisa saat jam pulang kantor nanti.
Selain rasa rindu nya yang sudah mengubun-ubun, dia juga tak sudi jika Anisa terus melaksanakan pekerjaannya dengan si Alan yang membuatnya merasa cemburu setengah mati itu.
"Bagaimana Ram, apa perintah ku sudah kau laksanakan?" Tanya Bimo sesaat setelah dirinya sampai ke hotel tempatnya bekerja.
__ADS_1
"Saya sudah menghubungi Anisa, dan kami akan mengadakan pertemuan saat jam makan siang hari ini,"jawab Rama polos.
Wajah Bimo sedikit terlihat agak tak bersahabat dan tak begiti suka saat Rama mengatakan kalau dirinya dan Anisa akan makan siang bersama nanti sekaligus menyampaikan apa yang bosnya kehendaki itu.
"Kenapa harus makan siang segala? Dan apa acaranya hanya kalian berdua saja?"
Sungguh tak biasanya Bimo berkelakuan seperti itu, biasanya Bimo tak pernah mencampuri dengan siapa atau kapan dan di mana asisten nya itu.
"Anisa hanya punya waktu siang ini, dan Anisa tidak berkenan untuk ku menemuinya di tempat tinggalnya satu satunya cara agar kami bisa bertemu dan berbicara hanya dengan makan siang seperti ini," Rama merasa kalau Bos nya itu sungguh bertindak aneh.
"A-apa aku boleh ikut?" Tanya Bimo terkesan seperti memaksa agar dirinya bisa ikut di tengah-tengah acara makan siang antara asistennya dengan istrinya itu.
'Akh, Rama, kau lancang sekali membawa istri bos mu untuk makan siang, apa kau juga berniat merayunya dan memikat hatinya? Itu tak akanpernah bisa terjadi selama aku masih hidup di dunia ini.' gerutu kesal Bimo di dalam hatinya.
Rama mengangguk meski agak ragu ragu.
"Bos, apa bos benar-benar ingin ikut makan siang dengan kami?" Rama memastikan kalau dirinyavtak salah dengar ataupun salah mengartikan permintaan aneh dan tak biasa bosnya itu.
"Iya, tentu saja, boleh,kan?" Tanya Bimo sekali lagi.
"Bo-boleh bos, aku tak keberatan," cicit Rama yang sebenarnya jauh di lubuk hatinya merasa sangat kesal karena tiba-tiba Bimo ingin bergabung makan siang dirinya dengan Anisa, sementara hal itu sudah sangat di nantinya, karena utu merupakan moment langka.
Betapa dirinya sangat menginginkan makan berdua dengan Anisa dan mengungkapkan perasaan yang selama ini di pendamnya, dia tak akan rela kalau Anisa kembali jatuh di pelukan Alan untuk kedua kalinya, namun rasanya itu akan sangat tidak mungkin terjadi, mengingat Bimo ternyata ingin bergabung bersama mereka berdua, menghancurkan harapan Rama.
__ADS_1