
"Aku setuju, ayo cepat ikut aku masuk!" dia menarik paksa tangan ku agar ikut masuk ke ruangan itu.
###
POV Author
Bimo mendapat panggilan dari rumah sakit pagi itu di tengah dia sedang sibuk memeriksa dokumen di ruang kerjanya, dokter yang merawat kakeknya mengatakan kalau kondisi Surya sang kakek drop pagi ini, tanpa ba bi bu lagi Bimo labgsung bergegas turun, dia juga menelpon sopirnya yang berada di lantai 1 untuk menjemput dirinya di depan loby untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Namun karena dirinya yang sibuk menelpon dengan pikiran yang kalut, tanpa sengaja dia menabrak seorang gadis di pintu lobi sampai tersungkur, saat dirinya hendak berbalik untuk menolong gadis itu untuk berdiri, sopirnya menelponnya mengabari kalau dia sudah berada di depan lobi kini, dengan berat hati meskipun merasa dirinya menjadi sangat kejam, dia meninggalkan gadis itu begitu saja.
"Hai tuan,,, tunggu, anda merusak ponsel saya!" teriak gadis yang di tabrak Bimo tadi.
Bimo lalu nenoleh sekilas, "Ah, tidak,,, wanita yang kemarin itu," gumamnya, dia masih sangat ingat wajah Anisa, wajahnya sama marahnya seperti kemarin saat sedang di rumah nya.
Tapi Bimo harus segera pergi ke rumah sakit, dokter sudah kembali menghubunginya, rumah sakit memerlukan tanda tangan persetujuannya untuk segera mengambil tindakan operasi pada jantung Surya, sebelum semuanya terlambat.
"Ah sial,,, kenapa jalanan macet seperti ini, sih ?!" umpat Bimo saat mobilnya tiba tiba berhenti karena terjebak ksemacetan.
Namun kaca jendela mobil nya di ketuk ketuk oleh---- "Ah, gadis nekat itu,,,!" gumam Bimo dalam hatinya.
Akhirnya Bimo mempunyai ide, dia menumpang motor gadis itu ke rumah sakit agar lebih cepat sampai, dan bertemu dengan kakeknya.
"Bim, kakek tak mau di operasi, kakek sudah tua, dan paling umur kakek juga tak akan lama lagi!" ucap Surya lirih saat Bimo baru saja sampai di ruang ICU tempatnya di rawat sekarang.
"Tolong jangan berkata seperti itu kek, Bimo tak punya siapa sapa lagi di dunia ini selain kakek, tolong tetap bertahan dan temani Bimo," ucap pria yang kini kehilangan wajah seram, angkuh dan arogan nya di hadapan sang kakek, berganti wajah sendu dan kecemasan yang luar biasa.
Sungguh dia tak akan merasa rela jika hrus kehilangan satu satunya keluarga yang dia punya di dunia ini, dia akan melakukan apapun demi kesehatn dan keselamatan kakeknya.
__ADS_1
Namun tiba tiba tanpa sengaja saat dia hendak menggeser tempat duduknya agar lebih dekat dengan ranjang sang kakek, matanya menangkap wajah sosok gadis yang tadi mengantarnya di celah kaca pintu.
"Kek, kalau Bimo kenalin pacar Bimo ke kakek, apa kakek mau operasi?" tanya Bimo.
Belum saja kakeknya menjawab, Bimo sudah bergegas berjalan ke arah pintu "Tunggu sebentar, kek!" ucapnya.
Bimo membuka pintu ruangan dan tampklah Anisa yang sepertinya sedang melamun dan tak menyadari kehadirannya.
"Bantu aku sekali lagi, ku mohon!" entah apa yang di pikiran Bimo, tib tiba saja dia memohon pada gadis itu dengan kedua tangannya di lipat di depan dadanya.
"Eh, bantu apa?" tanya gadis itu merasa kebingungan, kenapa Bimo meminta tolong pada nya, sementara dia saja bukan tenaga medis, pikir gadis itu.
"Ikut aku ke dalam, kau hanya perlu menolong ku dengan mengangguk dan tersenyum saja," ucap Bimo.
"Hanya mengangguk dan tersenyum saja?" beo Anisa, yang lalu di angguki oleh Bimo.
"Baik, tapi ganti ponsel ku yang kamu rusak tadi!" ucapnya setelah beberapa lama terdiam akhirnya dia setuju meski mengajukan sebuah syarat.
Tentu saja Bimo akan langsung setuju dengan persyratan kecil yang di ajukan oleh Anisa, jangankan hanya sebuah ponsel, sepuluh bahkan segudang ponsel akan dia berikan demi kesembuhan kakeknya.
Bimo menggenggam tangan Anisa mendekati ranjang tempat Surya berbaring lemah,
"Kakek, lihat lah, aku membawa kekasih ku untuk menjenguk kakek di sini, ayo lah sembuh kek, berjanjilah untuk setuju dioperasi, agar kakek bisa lebih mengenal kekasih ku," bujuk Bimo.
'What,,,kekasih? Apa apaan ini, permainan gila apa lagi yang pria gila ini mainkan?' jerit Anisa dalam batinnya.
Berhasil,,, Surya terlihat seperti tertarik dengan apa yang di katakan Bimo, terlihat dari sorot mata Surya yang kini terus memperhatikan Anisa yang bahunya dipeluk Bimo agar lebh meyakinkan kakeknya bahwa meka benar benar sepasang kekasih, padahal jelas jelas wajah Anisa kini terlihat sangat tegang dan kebingungan.
__ADS_1
"Sini nak, mendekat!" panggil Surya pada Anisa agar gadis itu duduk di dekatnya, di kursi yang tadi bekas Bimo duduk, sementara Bimo berdiri di sampingnya karena memang hanya ada satu kursi saja di sana, sambil tangannya tetap merangkul bahu Anisa yang membut gadis itu sedikit merasa risih namun tak bisa berbuat apa apa karena kini mereka sedang bersandiwara sebagai sepasang kekasih, begitu kira kira kondisi yang dapat Anisa simpulkan sekarang ini.
"Siapa nama mu, nak?" tanya Surya lembut,
"Anisa kek, namanya Anisa!" sambar Bimo menjawab pertanyaan kakeknya yang di tujukan untuk Anisa.
"Bimo, diamlah, kakek hanya ingin berbicara dengan kekasih mu, kakek bosan berbicara dengan mu!" protes Surya.
"Sudah berapa lama kamu menjadi kekasih cucu ku?"
"Tiga tah---" Bimo kembali menyambar pertanyaan yang seharusnya di jawab Anisa.
"Bimo, jika ku terus menyambar pertanyaan ku, lebih baik kau keluar, biarkan aku mengobrol dengan kekasih mu berdua saja!" tegas Surya.
"Iya kek, maaf" cicit Bimo, dia akan memilih untuk diam dari pada di suruh keluar, akan sangat bahaya jika dirinya meninggalkan Anisa di dalam ruangan itu tanpa dirinya, bisa bisa salah bicara dan malah membuat kondisi kakeknya lebih drop, pikirnya.
"Berapa usia mu Anisa? Kamu terlihat masih sangat muda sekali, dan bagimana aku bisa memanggil mu Anis atau Anisa atau?" tanya Surya lagi
"Panggil Nisa saja kek, usia saya 22 tahun," jawab Anisa, tiba tiba hatinya merasa sangat teduh dan iba melihat keadaan Surya yang sedang terbring lemah seperti itu di ranjang, atau mungkin dia sedang membayangkan jika yang terbaring di sana itu adalah Umar ayahnya jika suatu hari saat Ayahnya nanti sudah sangat tua, sehingga hatinya langsung terenyuh.
"Kamu masih sangat muda sekali, kalau kalian sudah berpacaran selama 3 tahun ini, kenapa kau tak pernah memperkenalkan kekasih cantik mu ini pada kakek, dasar anak nakal?" Surya terlihat menatap tajam ke arah cucunya.
"Ah,, itu karena keinginan saya kek," ucap Anisa yang sepertinya bisa membaca kalau Bimo kebingungan memberi alasan, karena pria itu hanya terdiam sambil menggaruk tengkuknya.
"Iya kek, mas Bimo sebenarnya sudah sejak lama ingin memperkenalkan saya dengan kakek, tapi saya ingin fokus kuliah dulu, dan sekarang setelah saya lulus, saya baru berani bertemu kakek," jawab Anisa.
"Kenapa harus menunggu lulus segala?" Surya mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan alasan yang di berikan Anisa yang terkesan mengada ada itu.
__ADS_1
"Saya ingin mas Bimo bangga ketika memperkenalkan saya pada keluarga dan teman temannya, saya merasa tidak ada yang pantas di banggakan dari diri saya, saya dari keluarga sederhana, wajah dan penampilan juga hanya seperti ini adanya, setidaknya setelah saya menyelsaikan kuliah dengan baik, saya tidak terlalu memalukan untuk di perkenalkan mas Bimo," jawab Anisa, entah rangkaian kata dari mana datangnya, tiba tiba dia bisa ber ide menjawab seperti itu , sehingga membuat Surya merasa terkesan dengan jawaban yang di berikan Anisa, Surya merasa kalau kekasih cucunya ini memang sangat istimewa, dia tak malu mengakui dirinya yang dari keluarga biasa saja, dan gadis ini juga mementingkan pendidikannya, itu semua sudah menjadi nilai plus tersendiri bagi Surya.
"Sayang, kamu itu selalu istimewa di mata ku, aku tak pernah merasa malu mengakui mu sebagai kekasih ku, jangan selalu merasa insecure seperti itu!" ucap Bimo mengelus pucuk rambut Anisa.