BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Bertemu Dia


__ADS_3

POV Anisa


Aku tau aku tak boleh cemburu dengan apa yang aku lihat tadi, akujuga tak pernah melupakan kalau di antara kami sudah sepakat tentang hal itu.


Tapi mengapa rasanya hati ku ini tetap saja tak bisa untuk di ajak sepakat dalam menerima semua ini, apalagi saat ku tau kalau kekasih mas Bimo adalah Viona, seorang model dan artis terkenal dimana sepertinya seluruh penduduk di negeri ini juga mengakui kecantikannya, bahkan termasuk aku juga salah satunya, aku akui dia sangat cantik, tubuhnya seksi, apalah artinya jika di bandingkan dengan ku yang benar katanya kalau aku hanyalah seorang gadis lusuh.


Satu-satunya hal yang membuat Anisa lebih beruntung jika di bandingkan dengan Viona, itu hanyalah karena status dirinya yang sebagai istri sah Bimo meski di sembunyikan, sementara Viona hanya berstatus sebagai kekasihnya saja.


Eh, tapi apa status sebagai istri Bimo bisa di katakan sebagi keberuntungan buat ku? Hanya pernikahan palsu, dimana mungkin aku bisa memiliki buku nikah dengannya, tapi mungkin aku tak akan pernah bisa memiliki hatinya yang telah terisi oleh kekasih cantiknya itu.


Aku membelokkan motor ku ke tempat favorit ku, dimana lagi kalau bukan pasar loak, hanya tempat penjualan barang- barang bekas dan antik itulah yang biasanya selalu bisa membuat hatiku merasa tenang saat pikiran ku sedang kacau seperti ini.


Aku bisa menghabiskan waktu seharian kalau sudah berada di sana, sungguh tempat itu surga untuk mata dan hati ku.


Aku memarkirkan motor kesayangan ku di area parkir yang tak terlalu luas itu. Tempat ini sebenarnya tdak bisa di katakan pasar, karena para penjual barang bekas dan antik ini berada di sepanjang jalan yang berisi lapak orang yang ingin menjual atau barter mulai dari barang berkualitas rendah sampai barang berkualitas tinggi dengan harga miring ada di sana, hanya saja biasanya kebanyakan barang-barang bekas pakai yang ada di sana, kalau sedang beruntung, aku juga pernah mendapatkan barang-barang antik yang susah sekali di temui, dan itu rasanya melebihi dari mendapat lotre.


Mataku terus saja 'jelalatan' melihat barang-barang yang sungguh sangat menarik perhatian ku, rasanya sulit mata ini untuk menghindar dari semua barang yang di jajakan di lapak para penjual di kuos dan di pinnggiran trotoar jalan itu.


Sesekali aku juga menghentikan langkah ku untuk melihat barang yang membuat ku penasaran dan ingin melihatnya lebih dekat.


Namun tiba-tiba aku tersentak saat sebuah tangan menepuk bahu ku dari belakang.


"Anisa!" Panggilnya, membuat hati ku tiba-tiba mencelos mendengar suaranya yang masih saja tersimpan dalam memori ku.

__ADS_1


Dengan ragu-ragu aku memutar tubuh ku menoleh pada sumber suara, benar saja, ternyata dia Alan, pria yang pertama kali membuat ku berbunga-bunga saat dia mengenalkan cinta, sekaligus pertama kali mengajarkan ku bagaimana rasanya terluka karena di hianati.


Rupanya dia juga masih sering mendatangi tempat ini seperti dulu, pikiran ku jadi melayang ke beberapa waktu dulu saat kami masih berpacaran, kami sangat senang menghabiskan waktu bersama di tempaat ini.


"Eh, hai!" aku balas ku sedikit kaku, karena sebenarnya rasanya aku ingin sekali pergi dari sana dan tak ingin terlibat percakapan lebih jauh dengannya., tapi ketika kembali ku pikir lagi, jika aku menghindarinya, itu sama saja aku menunjukan kepadanya kalau aku masih belum move on darinya.


Oke, sepertinya aku hanya harus bersikap biasa saja, dan menunjukkan padanya kalau aku baik-baik saja tanpanya.


"Lama tak bertemu, bagaimana kabar mu?" Tanya Alan, tdengar seperti basa basi yang cukup basi di telinga ku.


Untuk apa di menanyakan kabar ku, apa dia kepo tentang bagimana kabar kehidupan ku setelah dia sakiti dan hianati habis-habisan?


"Baik, selalu baik seperti biasanya, bagaimana dengan mu, mana Luna?" tanya ku sok cuek.


"Hmmh, ku pikir kalian sudah menikah." celoteh ku dengan nada datar juga.


"Hey, ku dan dia tidak terikat hubungan apappun, semenjak kejadian hari itu, aku dan dia sudah pernah saling bertemu lagi." terang Alan, dan aku hanya menganggukan kepala saja tanpa berkomentar apa pun, lagi pula aku juga bingung, rasanya tak ada hal apapun dari ceritanya yang harus aku komentari.


"Nisa, maafkan aku atas kejadian saat itu, aku benar-benar merasa bersalah." sesalnya.


"Ah, sudah lah, itu sudah lama berlalu, lagi pula aku sudah melupakan semuanya." elak ku.


Sungguh aku tak ingin mengungkit semua tentang cerita perih yang selalu aku anggap itu sebagai mimpi buruk ku, beruntung sekarang aku sudah terbangun dan terbebas dari mimpi buruk itu.

__ADS_1


Alan sepertinya cukup mengerti kalau aku tak ingin membicarakan hal itu, maka dengan cepat dia mengalihkan pembicaraan ke topiklain.


Rupanya dia masih menerti dan peka dengan mimik wajah ku yang terkesan enggan membahas masa lalu.


"Apa kesibukan mu saat ini?" Alan mencoba membahas hal lain.


"Saat ini aku lagi menganggur, tapi minggu aku baru saja selesai mendesain apartemen," jawab ku dengan bangganya.


Memang aku sangat bangga dengan pekerjaan pertama ku itu, meskipun yang memberi pekerjaan itu suami ku sendiri, tapi aku melakukannya dengan profesional.


"Waw, hebat sekali! Sebenarnya aku juga ingin mendesain kantor ku, apa kamu mau melakukannya untuk ku?" Puji Alan yang di akhir kalimatnya malah menawarkan pekerjaan pada ku, seraya menyodorkan selembar kartu namanya pada ku.


"Emhh,, sudah sukses rupanya, sudah punya kantor sendiri," Goda ku sambil membaca kartu nama yang di sodorkan Alan pada ku.


"Bagaimana, apa kamu mau mendesain kantor ku? Nanti aku kirim desain yang aku inginkan ke email mu, oh iya, email mu masih yang lama, kan?" Alan kembali mempertanyakan kesanggupan ku.


"Kirimkan saja, nanti kalau aku sanggup mengerjakannya, pasti aku kerjakan." Jawab ku basa basi karena tak enak juga kalau aku harus langsung menolaknya, mungkin nanti aku akan mencari alasan untuk menolaknya setelah dia mengirimkan desainnya pada ku.


Aku tingal menolaknya dengan alasan kalau aku tak bisa mengerjakan yang ini dan yang itu, beres, kan?


"Aku yakin kamu pasti sanggup mengerjakannya, tapi aku tak yakin apa aku sanggup membayar mu!" seloroh Alan menggoda ku, yang ku jawab hanya dengan senyuman saja.


Tak terasa matahari sudah tak terlihat lagi, langit pun sudah mulai menghitam, Aku segera berpamitan pada Alan untuk pulang, aku bahkan lupa kalau harus menyiapkan makan malam untuk mas Bimo.

__ADS_1


Ya, bagaimana pun dia masih berstatus suami ku, sudah menjadi kewajiban ku sebagai istri, melayani kebutuhannya, setidaknya itu yang ibu ku ajarkan pada ku.


__ADS_2