BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Sebatas Sahabat


__ADS_3

Betapa dirinya sangat menginginkan makan berdua dengan Anisa dan mengungkapkan perasaan yang selama ini di pendamnya, dia tak akan rela kalau Anisa kembali jatuh di pelukan Alan untuk kedua kalinya, namun rasanya itu akan sangat tidak mungkin terjadi, mengingat Bimo ternyata ingin bergabung bersama mereka berdua, menghancurkan harapan Rama.


Namun kesempatan baik sepertinya berpihak pada Rama, karena di detik-detik mereka akan pergi menemui Anisa, mendadak Bimo harus menelan kekecewaan karena tiba-tiba Viona ternyata datang menemui dirinya di hotel.


"Sayang, aku membawakanmu makan siang!" ucap Viona yang tiba-tiba saja muncul dari balik pintu.


Bimo yang tak menyangka akan kedatangan Viona itu hanya bisa diam sambil tergugu, ada semburat ras kecewa yang lumayan dalam karena dirinya gagal untuk bertemu Anisa yang sudah 2 hari ini tak di temuinya.


"Sayang, apa aku mengganggu acara mu? Sepertinya kamu tak senang aku datang kesini?" ujar Viona saat meolihat penyambutan Bimo yang seperti tak antusias dengan kehadirannya di sana.


Padahal dulu kalau Viona datang menemuinya Bimo akan sangat bahagia dan selalu menyambutnya dengan sukacita.


Bukannya tak menyadari, tentu saja Viona sangat merasakan perubahan sikap yang terjadi pada kekasihnya itu, hanya saja Viona tak tahu pasti apa yang menyebabkan sikap Bimo berubah sebegitu drastisnya.


"A-emh- tidak, tadinya aku hanya akan makan siang dengan Rama, tapi tidak jadi, aku di sini saja dengan mu, Rama, kau urus semuanya, pastikan semuanya beres!" Titah Bimo pada Rama menyembunyikan kegugupannya di hadapan Viona.


"Bim, kenapa aku merasa kalau kamu berubah, dan kita menjadi semakin asing, aku tak menemukan lagi kebahagiaan dari wajah mu saat sedang bersama dengan ku, apa ada sesuatu yang aku lewatkan saat aku di luar negeri? Apa ada kejadian yang membuat kamu berubah seperti ini?" Kata Viona seraya membuka beberapa bungkus makanan yang dia bawa untuk santapan makan siang dirinya dan Bimo.


"Ah, aku merasa tak ada yang berubah, aku masih menjadi aku yang dulu, kamu terlalu sensitif, apa mungkin bawaan orang hamil seperti itu?" Bimo malah balik bertanya.


Mungkin kini raganya sedang bersama Viona, namun hati dan pikirannya terpusat pada Anisa yang hendak makan siang dengan Rama.


**


Sementara di tempat lain, Rama mendatangi restoran yang letaknya tak jauh dari hotel tempat nya bekerja.


"Hai kak!" Sapa Anisa ramah.

__ADS_1


"Oh, akhirnya,,, kita bisa makan berdua, hampir saja gagal makan berdua dengan mu," cicit Rama yang lantas di balas dengan raut bingung yang di tunjukkan oleh Anisa.


"Gagal? Kak Rama ada acara lain?"


"Bukan begitu, hampir saja gagal makan berdua dengan mu, karena tadi si bos minta nimbrung ke sini, untung saja kekasih si bos datang tepat pada waktunya tadi, jadi kita bisa makan berdua saja." Seringai Rama.


"Owalah, memangnya kenapa kalau ada mas-- eh ada pak Bimo?" Hampir saja Anisa keceplosan hendak memanggil sebutan mas Bimo di depanRama.


"Tak ada masalah sih, hanya saja,,, ah sudah lah, bagaimana tentang tawaran si bos mengenai mendesain ulang apartemennya itu, kamu setuju, kan?"


"Emh, aku tadi pagi baru menyampaikannya pada Alan, untungnya dia tak keberatan jika pengerjaan ruang kerjanya aku serahkan pada tim ku, "


"Ah, syukurlah. Terus terang saja aku tak percaya dengan orang itu, aku takut jika ini hanya sebagai alasan baginya untuk mendekati mu lagi, dan menyakiti mu lagi." Ucap Rama tulus.


"Itu tak akan mungkin kak, sepertinya aku tak akan mungkin jatuh ke lubang yang sama, aku hanya ingin berusaha bersikap profesional dan menunjukkan padanya kalau aku sudah melupakan masa lalu antara aku dan dia." Elak Anisa.


Mendengar pertanyaan seperti itu Anisa hanya bisa terdiam, dia tak tau harus berkata apoa, sementara tak mungkin baginya mengatakan kalau dirinya sesungguhnya adalah istri sah dari Bimo, meskipun sangat ingin dia katakan pada semua orang agar seluruh dunia tahu kebenarannya.


"Hanya kebetulan saja, tak ada yang aneh atau istimewa," elak Anisa seolah tak ingin membahas lebih jauh tentang dirinya dan Bimo.


"Aku hanya ingin memperingatkan untuk hati-hati dengan Viona, dia sangat posesive terhadap calon suaminya," Rama memperingatkan.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan sepasang mata ternyata memperhatikan gerak-gerik mereka berdua sedari tadi.


Di meja lain yang jaraknya agak jauh dari meja yang di tempati oleh Rama dan Anisa, ternyata Alan juga sedang duduk di restoran yang sama dengan mereka, mengunci tatapannya yang tajam dari kejauhan.


Alan tersenyum miring,

__ADS_1


"Oh begitu cara main mu Rama!" Gumamnya.


Kedua tangan Alan mengepal erat, dia mulai menerka-nerka tentang pemunduran Anisa dari pengerjaan mendesain ruang kantornya, dia mengira kalau ini adalah ulah Rama yang memang dia tahu sejak awal menaruh hati pada mantan kekasihnya itu, dan tak pernah suka jika dirinya kembali dekat dengan Anisa.


Sejujurnya Alan merasa keberatan mengijinkan Anisa menyerahkan pekerjaannya pada timnya, hanya saja dalam hal ini Alan harus bersikap seolah menerima dan mendukung keputusan Anisa, apalagi mantan kekasihnya itu mengatakan akan mendapat pekerjaan lain, dirinya harus terlihat mensuppot sepenuh hati.


Untuk saat ini dia butuh mendapat kepercayaan dari Anisa kalau dirinya kini telah berubah, dia harus mengambil hati mantan kekasih nya itu agar dia bisa kembali masuk dengan mudah ke kehidupannya, untuk saat ini paling tidak hubungannya bisa lebih baik saja itu sudah lebih dari cukup.


"Nisa, sebenarnya ada hal yang sejak lama ingin ku sampaikan, hanya saja sepertinya aku selalu tak pernah punya kesempatan untuk menyampaikan semua itu pada mu." Rama mulai membuka cerita.


Anisa mendengarkan dengan seksama apa yang akan di sampaikan oleh Rama padanya.


"Aku-- aku menyukai mu sejak dulu saat kita masih sekolah," kata-kata yang sekian lama tersimpan dan terkubur di hati Rama pun akhirnya Rama ungkap.


Anisa menarik nafas dalam, "Aku tau, kak." ucapnya datar.


"Kamu tau? Apa itu maksudnya berarti selama ini kamu sebenarnya tau kalau aku menaruh perasaan pada mu?" Tanya Rama yang lalu di angguki oleh Anisa.


"Aku tau kak, sikap kakak dari dulu sudah memperlihatkan itu dengan jelas." Kata Anisa yang tak merasa kaget dengan pengakuan perasaan yang di lakukan Rama padanya, dia memang sudah lama tahu bahkan sejak mereka masih di bangku sekolah, kakak seniornya itu sering menunjukkan dengan jelas ketertarikannya pada dirinya, hanya saja Anisa yang memang tidak mempunyai perasaan apaun pada Rama hanya bisa mengabaikan semua itu dan bersikap seolah dirinya tak tau dengan kode-kode yang sering Rama tunjukkan padanya dulu.


"Lantas sikap acuh mu dengan perhatian ku selama ini apa itu berarti kamu ingin menunjukkan kalau kamu tak punya perasaan apapun pada ku? Atau secara kasarnya kamu menolak ku dengan cara mu?" Wajah Rama terlihat kecewa.


"Kak, aku hanya ingin persahabatan kita rusak jika melibatkan perasaan, aku senang dan nyaman menjadi sahabat kakak, dan aku tak mau persahabatan ini menjadi hancur karena cinta," urai Anisa.


"Apa kamu tak pernah punya perasaan lain pada ku seperti apa yang aku rasakan pada mu?" Rama ingin memastikan sekali lagi tentang apa yang dirasakan Anisa selama ini padanya.


"Aku hanya menganggap kakak sebatas sahabat baik, kakak yang baik, itu saja, maaf!" Sesal Anisa.

__ADS_1


Meski terasa agak perih, namun Rama menerima keputusan Anisa dan menghargai perasaan Anisa yang hanya menganggapnya sebatas sahabat saja itu, mungkin dirinya pu harus mulai merubah perasaannya untuk melihat Anisa sebagai seorang sahabat bukan sebagai wanita yang di cintainya secara diam-diam.


__ADS_2