
"Sayang, kamu itu selalu istimewa di mata ku, aku tak pernah merasa malu mengakui mu sebagai kekasih ku, jangan selalu merasa insecure seperti itu!" ucap Bimo mengelus pucuk rambut Anisa.
Sumpah demi apapun, Anisa saat ini merasa sedang menjadi kekasih Bimo yang sesungguhnya, karena tiba tiba jantungnya seperti bermasalah, sepertinya yang harus di rawat dan di operasi jantungnya itu bukan kakek Surya, melainkan dirinya.
Yang benar saja, hanya mendengar gombalan pria asing yang bahkan namanya baru saja dia tahu itu jantungnya langsung seperti sesang berdisko, menggedor gedor dinding dada nya.
'Oh,,, tolong kerjasamanya wahai jantung dan hati ku, ini hanya pura pura, demi menyelamatkan nyawa kakek itu,' ucap Anisa pada hatinya.
Dokter masuk dan memeriksa kembali keadaan kakek Surya sebelum keputusan akhir antara di operasi atau tidaknya di lakukan, namun kabar baik sepertinya datang pada Bimo, karena dokter mengatakan kalau kondisi kakek Surya sudah kembali stabil.
"Sayang terimakasih, karena kehadiran mu keadaan kakek menjadi kembali stabil!" Bimo spontan memeluk Anisa karena merasa idenya yang membawa Anisa untuk berpura pura menjadi kekasihnya itu telah berhasil membuat kakeknya kembali mempunyai semangat hidup.
'Ah tidak,,, dia memanggil ku dengan sebutan sayang lagi, panggilan nya membuat keadaan jantung ku tidak stabil, tolong!' jerit Anisa dalam batinnya, sementara dia hanya bisa diam saja tak berbicara sepatah kata pun, merasakan detak jantung dan perasaannya yang kinibterasa sedang gonjang ganjing tak karuan.
"Kau membuat kekasih mu tidak bisa bernafas, Bimo!" tegur Surya yang melihat Anisa hanya bisa diam dengan wajah pias dalam pelukan cucunya.
"Oh,,, maafkan aku, aku terlalu bahagia mendengar keadaan kakek yang membaik," Bimo mengurai pelukannya di tubuh Anisa.
Entahlah, mungkin pria itu juga tak menyadari apa yang sedang di lakukannya, dia juga tak peduli dengan apa yang akan dilakukannya di kemudian hari tentang sandiwaranya bersama gadis bernama Anisa yang baru di kenalnya se hari yang lalu itu, yang terpenting saat ini adalah kesehatan kakek nya membaik, tentang bagaimana kelanjutan hubungan pura puranya, dia rasa pasti bisa di atur dan di akali.
"Mana nomor rekening mu? Aku akan mentransfer uang sebagai ganti rugi ponsel mu yang rusak, sesuai janji ku," ucap Bimo.
__ADS_1
Anisa menyebutkan beberapa angka nomor rekeningnya, lalu tak lama kemudian Bimo menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan bukti kalau dia sudah mentransfer uang sejumlah dua puluh juta rupiah.
Anisa terbelalak dan menghitung jumlah angka nol di belakang angka 2 di layar ponsel yang masih menghadap padanya itu.
"Tunggu,,tunggu,,! Sepertinya ada kesalahan,!" ucap Anisa.
"Kenapa? Apa jumlahnya kurang?" tanya Bimo.
Anisa menggeleng, lalu matanya menyapu seluruh ruangan lobi rumah sakit, dan mqtanya langsung terkunci pada sebuah mesin ATM yang berada di sana, Anisa lalu menarik tangan Bimo untuk mengikuti langkahnya.
"Ikut aku sebentar!" ucapnya.
Bimo menurut saja, lagi pula tadi juga gadis itu telah membantunya dan mengikuti segala permainannya, tanpa protes dan bermain peran sangat apik di depan kakeknya.
"Ini, kamu kelebihan mentranfer uang pada ku, ponsel ku harganya hanya 2,5 juta saja,!" Anisa menyodorkan setumpuk uang setelah dia ambil uang yang di perlukan nya.
Bimo melongo, bagaimana bisa ada manusia se polos itu, di kasih uang malah dikembalikan.
"Ambil saja, aku ikhlas, lagian ponsel apa yang kau beli dengan seharga itu?" Bimo enggan menerima sodoran uang dari Anisa.
"Ada lah, ini buktinya, meski murah, tapi masih bisa buat telpon, kirim pesan, browsing, foto, video, kebutuhan ku cuma Itu dari sebuah ponsel, dan ponsel seperti ini sudah bisa memenuhi kebutuhan ku itu," Anisa mengacungkan ponsel miliknya yang kini layarnya sudah tak berbentuk akibat ulah Bimo yang tak sengaja menubruknya tadi di lobi hotel.
__ADS_1
"Ya sudah, sisa uangnya anggap saja sebagai permintaan maafku karena kemarin kau kehilangan pekerjaan gara gara aku," sesal nya.
"Santai aja, itu bukan sepenuhnya salah mu, mungkin memang bukan rejeki ku untuk bekerja di sana, lagi pula, aku tak mau bekerja di perusahaan yang hanya mementingkan keuntungan, tanpa ada rasa kemanusiaan pada pekerjanya,"
"Tapi,,," Bimo seolah kehabisan kata.
"Ya sudah anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih karena kau membantu bersandiwara di depan kakek," Bimo tak kehabisan akal agar Anisa mengambil uang itu dan dia tidak merasa hutang budi.
"Haish,,, kalau aku tau bakal di ajak membohongi kakek mu, aku tak akan mau, kasihan dia, sudah tua, sakit, di tipu cucunya lagi, aku jadi merasa bersosa!" ucap Anisa penuh sesal.
"Aku tak punya pilihan lain!" lirih Bimo , yang sepertinya merasa tertampar dengan ucapan Anisa yang berbalit canda itu.
"Oke, kalau kamu ingin berterima kasih pada ku, bagaimana kalau kamu traktir aku makan, aku lapar, karena tadi belum sarapan," cengirnya sambil menunjuk kantin rumah sakit yang tak jauh letaknya dari lobi.
Bimo menghela nafas panjang dan akhirnya mengalah mengambil kembali uang yang di sodorkan di hadapannya itu, lalu menuruti keinginan gadis itu, karena jujur saja dirinya oun merasakan lapar juga.
Bimo hanya terdiam memandanginmakanan yang terhidang di meja. Seumur hidupnya baru pernah dia memakan makanan yang di beli tak di resto mahal atau buatan chef ternama dari hotel berbintang.
"Kenapa hanya di tonton, soto ayamnya enak banget lho!" kata Anisa dengan mulut yang penuh dan seperti sangat menikmati makanannya.
"Kau boleh memakan bagian ku juga kalau kau mau, melihat mu makan aku kenyang!" ucap Bimo menggeser mangkuk berisi soto ayam yang berada di hadapannya ke kedapan Anisa, sungguh dia belum bisa memakan makanan yang tidak biasa dia makan, rasanya lebih baik kelaparan dari pada makan makanan kantin rumah sakit yang ternyata di luar ekspektasinya, dia pikir dirinya akan bisa memakan makanan di sana, tapi ternyata dia masih belum berani memakannya, salah salah nanti perutnya menolak dan malah jadi penyakit, pikirnya.
__ADS_1
"Ya elah, mubazir ini, di luar sana banyak yang kelaparan, kalau gak mau harusnya gak pesen tadi, aku jadi makan dua porsi gini, kan?" oceh Anisa sambil lantas menyambar mangkuk soto bagian Bimo yang tak di makan oleh si empunya.
Sejujurnya saat melihat Anisa makan, air liur Bimo sudah mau menetes karena selain perutnya yang memang juga terasa lapar, cara Anisa menikmati makanannya itu membuat dirinya menjadi serasa sedang ikut menikmati soto ayam itu, sayangnya Bimo tak berani memakannya, nanti saat sampai hotel, dia akan menyuruh chefnya masak soto ayam, pikirnya