
###
POV Anisa
Tak terasa pernikahan ku dengan mas Bimo sudah hampir berjalan satu bulan lamanya, tepatnya 25 hari, haha,,,sedetail itu aku menghitungnya? jelas lah, setidaknya masih ada lima bulan lima hari atau sekitar 155 hari kesempatan ku untuk menjadi seorang istri sebelum akhirnya menyandang status janda.
Boleh jujur gak? Sebenarnya aku sudah mulai tertarik dengan mas Bimo, hanya saja aku sengaja menepis agar perasaan itu tak semakin tumbuh subur di hati ku ini.
Mungkin aku mulai jatuh cinta pada suami ku, gak salah-salah banget kan, sebenarnya kalau aku jatuh cinta pada suami sendiri,? yang membuat semua nya menjadi seolah salah dan keliru itu karena yang merasakan nya cuma aku, ya,,,aku sadar kalau saat ini aku sedang mengalami apa yang namanya cinta bertepuk sebelah tangan, tapibukankah aku juga tak bisa merecanakan kepada siapa dan kapan aku jatuh cinta.
Perasaan itu datang begitu saja tanpa permisi dan tanpa aba-aba, lantas aku bisa apa? Aku hanya ingin mnikmati rasaku ini saja, toh aku juga tak meminta apa lagi memaksa untuk dia balik mencintai ku juga.
Ya, mau bagaimana lagi, tiap hari satu rumah, satu kamar bagaimana aku tak tergoda coba, melihat wajah tampannya yang terlelap setiap malam?
Oh iya, sampai saat ni aku memilih untuk tidur di sofa, bukan karena apa apa, bukan karena ke geeran takut di apa-apain mas Bimo, tapi jantungku tidak aman kalau dekat dekat denganya, dag dig dug tak karuan, makanya aku memilih tidur di sofa, dan mas Bimo juga sepertinya tak peduli, tak pernah menanyakan hal itu juga pada ku.
__ADS_1
Kami memang jarang sekali berinteraksi kecuali masalah pekerjaan dan di depan kakek, ya,,,paling membahagiakan bagi ku itu kalau kami sedang berada di depan kakek, karena sikap mas Bimo akan berubah menjadi sosok suami yang sangat sweet sekali pada ku.
Biarlah aku menikmati perasaan ini sendirian,toh aku juga tak pernah berharap dia membalas cinta ku, anggap saja aku ini pengagum rahasianya, atau aku lagi nge fans sama artis, walaupun tak mungkin di miliki, tapi sah-sah saja untuk di sukai, kan?
Walaupun pernikahan kami seperti pernikahan aspal atau asli tapi palsu, di mana pernikahan kami benar benar di catat di negara dan sah secara agama, namun perasaan kami palsu, aku selalu bersikap selayaknya istri sungguhan, menyiapkan sarapan untk mas Bimo, menyiapkan baju untuk kerjanya, yang tak aku kerjakan mungkin hanya melayaninya dalam urusan ranjang saja, selebihnya aku melakukan semua seperti istri pada umumnya, aku tetap merasa kalau pernikahan ini sepertipernikahan normal pada umumnya, hanya saja minus sentuhan fisik.
"Apa kalian tak ingin berbulan madu? Setelah melaksanaan pernikahan kalian sepertinya masih saja sibuk bekerja, sempatkanlah untuk berlibur berdua," ucapan kakek tadi padi saat kami sedang sarapan dan aku pamitan untuk bekerja meski ini hari minggu, kalau mas Bimo sih, jangan di tanya, dia tak akan pernah protes apapun yang aku lakukan selama itu tidak membuat kakek curiga tentang kepalsuan kami.
Aku akui kalau aku ini memang 'workaholic' atau gila kerja, seperti hari ini meski para team ku libur, aku tetap melakukan pekerjaan ku meski sendirian.
Mengerjakan sesuatu yang kita senangi memang 'vibes' nya terasa beda, tak ada beban di dalamnya hanya ada kesenangan saja.
Biasanya hari minggu begini aku menemani kakek jalan jalan di taman atau memasak cemilan untuk kakek dan mas Bimo yang sangat senang sekali menonton film, kalau aku jujur saja tak begitu hoby nonton, jadi lebih memilih di dapur menyiapkan camilan untuk mereka dari pada ikut bergabung menonton bersama mereka.
Namun kali ini aku memang harus mengerjakan pekerjaan ini, meskipun semalam aku begadang sampai pagi karena menyelesaikan gambar meja dan rak yang akan aku buat di apartemen itu hari ini.
__ADS_1
Beginilah aku, jika sudah bekerja, selalu tak ingat waktu, sampai tak aku sadari kalau waktu sudah menujukan pukul 10 malam dan aku masih asik bekerja sampai tanpa ku sadari ternyata mas Bimo sudah ada di apartemen itu dan menonton ku bekerja, entah sejak kapan dia duduk di sudut ruangan sambil memperhatikan ku yang sedang sibuk sendiri.
"Mas! Kenapa ngagetin, sih!" pekik ku, karena sumpah saat itu aku benar-benar merasa sangat kaget dengan kehadiran dia yang tiba-tiba.
"Apanya yang ngagetin orang aku dari tadi di sini, aku juga tadi buka pintu kenceng, kamu ja yang terlalu fokus denagn pekerjaan mu itu," protesnya.
Mungkin iya, aku terlalu fokus dengan pekerjaan ku, jadi meski mas Bimo masuk dengan membuka pintu dengan keras pun aku tak mendengarnya, apalagi di dalam ruangan itu bising dengan suara bor yang aku gunakan untuk memasang paku di kaki meja dan rak yang sedang aku garap dan hampir selesai itu.
"Hehe, maaf aku tak dengar dan tau kalau mas ada di sini, ak jadi kaget sendiri," aku hanya nyengir kuda karena merasa malu sendiri.
"Kakek menyuruh ku untuk menyusul mu, karena khawatir kalau kamu kenapa-kenapa, lagi pula ini sudah malam, jadi aku di minta untuk melihat dan menjemput mu disini." kata mas Bimo yang memupuskan anganangan ku yang berharap kalau mas Bimo datang ke sini karena menghawatirkan ku.
Ternyata dia datang ke sini menyusul ku karena di suruh kakeknya.
Ah,,, sudah lah, ayolah,,, apa sih yang aku harapkan darinya jelas jelas dari awal dia sudah mengatakan dengan jelas kalau dia tak akan pernah jatuh cinta pada ku karena aku bukan tipenya, kenapa dengan bodohnya masih saja aku mengharapkan mas Bimo tertarik dan jatuh cinta padaku.
__ADS_1
Hey, halooo! Sepertinya aku harus lebiih sadar diri lagi kalau di bukan untuk ku, kalau aku bertepuk sebelah tangan.
Ibarat pepatah, aku itu bagai pungguk yang merindukan bulan, hey hati ku,,, sadarlah!