BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Angry bird


__ADS_3

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Bimo mengejutkan Rama yang sedang asik menatap layar ponselnya siang itu.


"Ah, tidak ada bos, hanya sedang melihat status wa Anisa, sepertinya dia sedang jatuh cinta, dari kemarin statusnya berbunga-bunga terus," terang Rama sambil memperlihatkan status wa Anisa yang sedang di lihatnya.


Jujur saja, rasanya ingin sekali Bimo melihat nya, namun dia harus jaim dan pura-pura tak peduli di depan Rama, apa jadinya kalau asistennya itu tau dirinya kepo dengan status wa Anisa, bisa-bisa dia curiga, apalagi Rama taunya kalau kekasih Bimo adalah Viona.


Bimo jadi penasaran dan bertanya-tanya dalam hatinya, apa benar apa yang di katakan oleh Rama, dan kalu iya, pada siapa Anisa jatuh cinta,


'Ah, jangan-jangan dia jatuh cinta pada ku, lagi. Bisa gawat urusannya kalau begini!' gumam Bimo dalam hatinya, percaya diri.


Bimo membuka ponselnya, rasanya ingin melihat status apa yang di tulis di story istrinya itu, namun dia urungkan karena sebuah pesan dari Viona membuatnya merasa sangat bahagia dan sangat ingin segera membacanya.


"Tolong jangan hubungi aku dulu untuk ementara waktu, karena aku sedang sibuk, aku akan menghubungi mu jika jadwal ku sedang kosong."


Sungguh pesan yang sangat membuat hati Bimo kecewa dan terluka tentu saja, padahal kemarin dia sudah membuang egonya dan tak memperdulikan harga dirinya seperti biasanya, mengalah dan menghubungi Viona karena rasa rindunya yang tak dapat dia bndung, namun ternyata jawaban dari sang kekasih yang sangat di cintai dan di rindukannya itu begitu sangat mengecewakannya.


Dengan wajah yang kusut dan tak bersemangat akhirnya Bimo menyerah dan pasrah pada keadaan,sungguh dirinya tak ingin terlalu berharap lagi dengan kekasihnya itu, meski cinta itu masih terasa nyata dan memenuhi dadanya.

__ADS_1


"Aku pulang, kau urus semua pekerjaan ku, dan cancel semua pertemuan ku hari ini, lalu reschedule semua nya!" titah Bimo dengan entengnya pada Rama.


Moodnya untuk bekerja kini sudah tak ada lagi, semua hancur hanya karena sebuah pesan dari sang kekasih yang membuatnya merasa malas untuk mengerjakan apapun siang ini.


Di tengah dirinya yang sedang melajukan mobil tanpa tujuan, karena di juga tak ingin pulang ke rumah dimana nanti akan menjadi banyak pertanyaan dari kakeknya, jadi dia lebih memilih untuk menghindar dari rumah,


Entah bagaimana ceritanya Bimo malah mengarahkan mobilnya ke arah apartemen dimana Anisa sedang menyelesaikan pekerjaannya di sana.


"Lho, tumben jam kerja kok datang ke sini, apa sedang ada pekerjaan di luar?" tanya Anisa heran, ketika tiba-tiba saja Bimo datang ke apartemen tempatnya bekerja.


"Ini apartemen ku, berarti aku bebad dong, untuk datang ke sini!" jawab Bimo asal dan sedikit agak tengil.


Setelah menyiapkan semua barang barang yang akan di gunakannya untuk melanjutkan pekerjaannya setelah tadi break makan siang, Anisa lantas naik ke lantai 2 menuju satu-satunya kamar yang ada di unit apartemen itu.


Anisa memang hari ini sedang mendesain kamar itu, sementara yang team yang lainnya masih mengerjakan lantai bawah, semua itu Anisa lakukan agar waktu yang di gunakan lebih efektif dalam pembagian kerja, sehingga pekerjaan bis cepat selesai.


Namun betapa terkejutnya Anisa, sewaktu dirinya hendak memasuki kamar itu, ruangan yang tadi sedang di kerjakannya untuk di desain ulang itu kini terlihat sangat berantakan dan semua barangnya sudah setengah hancur, semua perabotan pun sebagian besar sudah tidak pada tempatnya, kecuali barang-barang yang besar seperti ranjang dan lemari masih berada di tempat sebelumnya, padahal belum ada setengah jam semenjak selesai istirahat siang, Anisa meninggalkan kamar itu untuk membawa dan mempersiapkan semua perkakasnya di lantai bawah.

__ADS_1


"Oh Tuhan, apa yang terjadi di sini?" pekik Anisa, dia juga melihat sosok sang suami yang sedang terduduk di antara barang-barang yan berserakan dan tak beraturan itu, untung saja tak ada barang pecah belah di sana sehingga tak begitu banyak pecahan kaca di kamar itu.


Sebenarnya Anisa tak ingin peduli dengan apa yang di lakukan Bimo, karena Anisa yakin kalau pria yang kini lebih mirip dengan tokoh kartun Angry bird itu lah yang melakukan semua ini, meskipun entah apa sebabnya, Anisa juga tak ingin banyak tanya, salah-salah nanti malah dirinya yng terlibat masalah dengan si Angry bird itu.


Tapi tunggu, ada tetesan darah di lantai, dan itu Anisa yakin kalau itu berasal dari tubuh Bimo.


Tanpa pikir panjang lagi, Anisa spontan bergegas mendekati Bimo di sofa single yang sedang pria itu duduki.


"Kenapa? Apa kau mau protes karena aku menghancurkan semua barang di sini?" belum apa-apa Bimo sudah 'ngegas' duluan.


Anisa menggeleng lalu matanya langsung tertuju pada punggung tangan Bimo yang ternyata benar saja kalau darah itu berasal dari tangan Bimo yang terluka dan masih mengeluarkan banyak darah.


"Apa yang kau lakukan?" Protes Bimo saat Anisa meraih tangan kanannya yang terluka, gadis itu sebelumnya tak banyak mengeluarkan suaranya, hanya saja saat Bimo menarik tangannya dan menolak untuk di periksa oleh Anisa, gadis itu langsung melemparkan tatapan tajamnya.


"Aku tak peduli mas mau mengamuk dengan gaya apapun, bahkan menghancurkan satu gedung ini sekali pun, tapi mas sudah menyakiti diri sendiri, aku tak mau kakek bersedih karena cucu kesayangannya terluka." ucap Anisa yang ternyata berhasil membuat Bimo terdiam dan pasrah dengan apa yang di lakukan Anisa padanya.


Anisa bergegas ke kamar mandi yang berada di kamar itu, untukmengambil handuk kecil dan air hangat guna membersihkan tangan Bimo dari darah yang terus mengucur.

__ADS_1


Maka terjawablah sudah, dari mana Bimo mendapatkan luka itu, ternyata cermin besar yang berada di toilet kamar itu pun tak luput dari amukannya, masih terlihat sisa-sisa percikan darah di sana.


Anisa menghela nafasnya dalam sekali, lalu membawa semua yang di butuhkannya seperti handuk kecil, air hangat dan kotak P3K bersamanya menuju Bimo yang masih belum beranjak dari tempatnya semula.


__ADS_2