
###
POV Bimo
Aku tak tau mengapa aku bisa se nekat itu membuat sandiwara gila yang benar benar tak pernah terpikirkan sebelumnya, aku juga juga tak tau kenapa gadis itu yang aku jadikan partner berbohong ku di depan kakek, mungkin karena saat itu yang terlihat oleh mata ku ya, sosok dia. Lagi pula sat itu aku sangat kalut, yang ku pikirkan hanya kesembuhan dan kesehtan kakek saja.
Bukannya aku tega atau bahkan jahat karena berbohong masalah sebesar ini pada kakek, tadinya ak hanya mencoba aja, barangkali jika aku bisa membuat semang hati kakek, kesehatnnya kan membaik, dan bagaikan sulap, ternyta usaha ku tak sia sia, kondisi kakek normal kembali dan dokter menyatakan kondisi kakek sudah melewati masa kritisnya.
Sebetul nya aku juga agak agak tidak percaya, sepenting itukah, seberarti itu kah bagi kakek momen dimana aku mengenalkan kekasih ku, sampai sangat berpengaruh pada kondisi kakek, yaaa walaupun itu hanya kekasih pura pura.
Andai saja kemarin itu Viona yang aku perkenalkan, tapi ya sudah lah, aku juga tak ingin menyesali hal itu, nyatanya dengan aku mengenalkan Anisa pada kakek semua berangsur baik, bukankah itu yang lebih penting?
Membahas tentang Viona, aku sebenarnya sangat kecewa dengan keputusannya yang tiba tiba mengambil pekerjaan di Singapore selama satu tahun tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan ku, rasa rasanya hubungan kami yang sudah berjaln selama 2 tahun ini seakan tak ada artinya sama sekali, belum lagi aku juga harus seolah menjomblo, padahal kan aku juga ingin memamerkan pada semua orang kalau aku juga punya kekasih, tapi ya,,, kembali lagi mungkin ini resiko berpacaran dengan publik figure, walaupun kadang aku bertnya tanya, apakah dia masa malu berpacaran dengan ku, sampai sampai hubungan kami harus di rahasiakan selama bertahun tahun seperti ini.
Untuk saat ini ku akan membiarkan Viona melakukan apapun yang ingin dia lakukan, kalau di tanya apa semua itu lakukan karena aku marah? Ya, jawabannya iya benar, ku marah dengan keputusan sepihaknya Viona, dan aku merasa sangat tidak di hargai sebagai kekasihnya, aku tak akan menghubunginya, tak akan menemuinya, aku ingin memberinya pelajaran kalau aku tidk bisa lagi dia perlakukan seenaknya, aku ini lki laki, kelak saat berumah tangga aku adalah nakhodanya, jika makmum ku tak mau menghormati dan menuruti aturan ku, bukankah aku akan menjadi pria yang tak ada harga dirinya dan akn terus di sepelekan olehnya?
"Bimo, kemana Anisa,? Kakek ingin bertemu dan mengobrol lagi dengan nya, gadis itu menyenangkan, membuat kakek jadi merasa semakin sehat jika berbincang dengan nya,"
Permintan kakek itu membuat ku cukup kelabakan, sungguh aku tak menyangka kalau sandiwara yang aku ciptakan kemarin itu akan berkepanjangan,
__ADS_1
"Ah itu, Nisa sedang bekerja kek!" bohong ku sedikit gelagapan.
"Kalau begitu, kakek ingin menelpon nya, tolong kamu hubungi dia sekrang, bilang nanti sepulang dia kerja, suruh mampir ke sini, ada yang ingin kakek bicarkan dengannya,"
Aduh, matilah aku, mana bisa aku menelpon nya, aku saja tak tau nomor teleponnya, bodoh sekali aku tak menanyakan hal itu, tadinya aku pikir tak akan menjadi se rumit ini.
Tadinya rencana ku, setelah kakek sehat kembali, aku akan mengatakan pada kkek kalau hubungan ku dengan gadis itu telah kandas karena satu dn lain hal, untuk alasannya bisa aku pikirkan nanti, tapi nyatanya saat ini sat aku lihat kakek sepertinya sangat mengiba dan memohon untuk sekedar mengobrol dengan gadis bernama Anisa itu, aku sepertinya harus mengabulkan keinginannya, tatapan kakek yang mengiba adalah kelemahan ku, aku tak kuasa untuk menolaknya.
"Ponselnya tidak bisa di hubungi, kek. Mungkin masih sibuk bekerja" dusta ku lagi.
Benar kata orang, sekli kita berbohong, maka akan terus berkata bohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.
"Kakek istirahat dulu biar pulih, nanti sore, sepulang kantor Bimo akan bawa Nisa ke sini menemui kakek!" janji ku seperti menjanjikan anak kecil sebuah permen, meskipun aku tak yakin, kemana aku harus mencari keberadaan gadis itu.
Kakek mengangguk patuh dengan apa yang aku katakan padanya, kini tinggal aku yang harus kebingungan mencari cara menemukan gadis itu, atau kalau tak ketemu juga aku tetap harus mencari alasan untuk di berikan pada kakek, kenapa aku gagal membawa Anisa kepadanya.
Melihat sketchbook yang tergeletak di meja kerja ku, aku jadi teringat dengan tempat kerja Anisa yang beberapa hari lalu dia hubungi untuk memecatnya, perusahaan itu pasti mempunyai data tentang Anisa yang pernah menjadi karyawannya itu.
Dengan menggunakan kekuasaan ku dan sedikit intimidasi juga ancaman kerja sama yang terjalin di antara kami, akhirnya aku mendapatkan data diri mengenai gadis bernama lengkap Anisa Permata itu, memang ini seharusnya melanggar aturan dan tidak di benarkan, tapi ya,, benar apa yang sempat di katakan Anisa kemarin di lobi rumah sakit, perusahaan itu memang tak berpihak pada karyawan nya, dan hanya mementingkan uang juga keuntungan, buktinya mereka memberi ku data lengkap tentang mantan karyawan nya, meski itu jelas melanggar aturan.
__ADS_1
Puluhan kali aku hubungi nomor telepon yang aku dapatkan dari data Anisa yang di kirim perusahaan itu lewat email, namunvtak juga terhubung, padahal ini sudah hampir waktu pulang kantor.
Akhirnya aku nekat dan memberanikan diri mencari alamat Anisa yang tertera di data itu, setelah semua pekerjaan aku serahkan pada Rama, asisten pribadi ku karena aku harus pulang lebih awal.
Bukannya aku tak bisa menyuruh seseorang untuk mencari keberadaan Anisa, hanya saja aku tak mau kebohongan antara aku dan gadis itu di ketahui oleh orang lain, siapa pun itu, karena itu akan sangat beerbahaya jika sampai kakek ku tau, jadi aku memutuskan untuk mencari tahu dan mengurus masalah ini sendiri.
Mobil ku ku lajukan dengan sangat pelan ketika suara mbak gugel di aplikasi pencarian alamat itu berteriak teriak memberi tahu bahwa alamat yang aku tuju berada di depan sebelah kiri jalan.
Aku injak rem mobil ku bertepatan dengan suara mba gugel memerintahkan aku untuk berhenti, aku palingkan pandangan ku ke sebelah kiri, terlihat sebuah rumah sederhana dengan halaman di penuhi tanaman hias berjajar rapi di sekitar teras rumahnya.
Sempat ragu saat ingin turun dan menghampiri rumah itu, namun saat melihat motor matik yang kemarin sempat aku tumpangi untuk menembus kemacetan saat aku akan ke rumah sakit, kini aku benar benar yakin kalau ini adalah benar, alamat yang aku cari, aku masih ingat motor scoopy warna abu abu itu, bahkan nomor kendaraan nya pun aku masih mengingatnya.
Aku mengetuk pintu rumah yang walau pun kecil namun terlihat bersih dan rapi itu, terlebih suasana asri yang di timbulkan dari tanaman hijau yang menyegarkan mata itu, dapat di simpulkan kalau pemilik rumah ini sangat rajin merawat rumahnya.
"Kamu? Ada apa, kamu darang ke sini? Dan dari mana kamu tau alamat ku?"
Seorang gadis mengenakan celana pendek rumahan dengan t-shirt sederhana terlihat kaget mengetahui kedatangan ku ke rumahnya.
"Aku ada perlu dengan mu, apa kau ada waktu ?" tanya ku pada nya.
__ADS_1