BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Partner in crime


__ADS_3

"Sama halnya seperti rencana awal, kita lakukan ini demi kakek mu, namun mungkin saat ini juga demi orang tua ku, mereka tanpa sengaja sudah di libatkan dalam kebohongan ini." ucapnya yang membuat ku menjadi semakin merasa bersalah setelah mendengar ucapannya.


"Maafkan aku, sungguh ini semua salah ku sejak awal," sesal ku lirih.


"Mungkin kita hanya perlu memperpanjang durasi kebohongan ini sampai keadaan agak membaik, lalu kita pikirkan bersama, bagaimanacara kita berpisah tanpa menyakiti orang tua kita," putus Anisa yang terdengar seperti sangat putus asa.


"Tapi ini menikah, apa kita harus berbohong sampai sejauh itu? menikah itu bukan hal main main," aku masih berusaha menyadarkan Anisa, barangkali gadis itu sedang tidak sadar saat mengucapkan semua itu.


"Aku tau mas, aku rasa kita sudah terlanjur basah seperti ini, tidak baik jika melakukan suatu hal hanya setengah setengah, apa lagi niat kita dari awal untuk membahagiakan kakek, ayo kita buat semua ini menjadi sebuah kebohongan yang sempurna," ucap Anisa lagi membuat ku tak bisa berkata kata lebih banyak.


Aku menghirup udara sebanyak banyaknya sampai udara itu memenuhi seluruh rongga dada ku, lalu aku menghembuskannya dengan kasar, oke, sepertinya memang benar apa yang katakan oleh gadis itu, kami sudah terlanjur basah, dan sebaiknya menyelesaikan semua ini.


"Baik, ayo kita hadapi bersama. Setelah ini kita berdua harus bicarakan lebih lanjut tentang rules pernikahan kita," jawab ku.


Aku merasa peraturan pernikahan kami harus di bahas jelas sebelum semuanya melebar dan semakin rumit, dan aku kira Anisa pun pasti akan sepemikiran dengan ku.


"Bagaimana?" todong kakek saat kaki kami berdua baru saja melangkah masuk melewati gawangan pintu masuk rumah sederhana itu.


"Kami siap dan bersedia untuk menikah!" jawab ku sambil melirik ke arah Anisa seraya meminta persetujuan darinya, lalu di jawab dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


Semua orang yang berada di ruangan itu tersenyum lega dan mengucap syukur bersamaan, kecuali kami berdua tentu saja.


Melihat wajah wajah bahagia mereka dengan senyum yang tak lepas dari wajah mereka membuat aku merasa beban di dada ku semakin penuh dan sesak saja.


Harus sampai sejauh dan sejahat itukah aku memberi harapan palsu pada mereka semua, sesal ku.


###


POV Anisa


Mungkin ini keputusan ternekat yang pernah aku ambil di sepanjang hidupku, mungkin orang akan merasa aneh, mengapa aku memutuskan untuk menerima pernikahan ini, padahal jelas jelas mas Bimo saja mengatakan kalau dia tak mencintai ku.


Bukankah terlalu naif jika aku mengatakan semua ini aku lakukan karena semata ingin membahagiakan kakek Surya dan kedua orangtua ku, sementara aku mengesampingkan kebahagiaan ku sendiri.


Lamunan ku harus buyar saat suara bel apartemen terdengar berbunyi beberapa kali.


Ya, saat ini aku sedang berada di apartemen milik mas Bimo yang sedang aku kerjakan.


Aku bergegas menuju pintu, agak aneh memang ada orang bertamu ke apartemen ini, bukankah kata mas Bimo tempat ini belum dia iklankan untuk di jual karena menunggu selesai aku desain ulang.

__ADS_1


Aku mengintip dari door viewer atau lubang intip pintu, memastikan siapa yang datang. Terlihat mas Bimo sedang berdiri di depan pintu dengan sebuah map di tangannya.


Aku lantas membukakan pintu untuknya, hati ku sedikit berdebar, entah lah kadang hati ku ini tak bisa di ajak berkompromi jika bertemu dengan nya, kalau di katakan aku jatuh cinta padanya sepertinya belum sejuh itu, aku juga kebingungan mengartikan tentang persaan yang aku rasakan ini.


"Apa aku mengganggu mu?" Tanya nya datar.


Oh ayolah, dia memang seperti itu, selalu bersikap datar pada ku, terlalu berlebihan jika aku berharap dia bertanya dengan lembut plus tatapan yang teduh, jangan mimpi !


"Tidak, aku hanya sedang menggambar beberapa item yang kemarin terlewat," jawab ku sambil membereskan beberapa kertas yang berserakan di meja ruang tamu apartemen itu dan menutup laptop ku.


"Aku membawa ini, silakan baca dulu," ucapnya menyodorkan map yang sejak tadi di genggamnya ke hadapan ku.


Aku meraihnya dan membuka map itu, terdapat selembar kertas dengan tulisan yang lumayan panjang dan saat ini sedang ku baca kata demi kata, kalimat perkalimatnya.


Aku tidak begitu kaget membaca poin poin yang terdapat di tulisan itu tentang 'aturan main' pernikahan kami.


Dimana tertulis dengan jelas di sana kalau pernikahan kami tanpa melibatkan cinta, tanpa saling mengganggu privasi masing masing, dan hanya berlangsung selama kurun waktu enam bulan saja.


Aku tersenyum getir dalam hati,

__ADS_1


'Oh ayolah mas Bimo, tak perlu kamu tulis seperti ini juga bukankah kemarin kamu sudah mengatakan nya secara langsung dan sangat jelas kalau kamu tidak pernah jatuh cinta pada ku dan tidak akan pernah jatuh cinta pada ku. Aku cukup tau dan mengerti, kok,' batin ku.


Perkataan mas Bimo kemarin memang lumayan menyentil ego dan harga diri ku, tapi bukankah kenyataannya memang seperti itu? Dia juga tak pernah menunjukkan perasaan lain pada ku selain hanya menganggap ku sebagai 'partner in crime' nya saja.


__ADS_2