
Pikirannya tiba tiba blank, tak dapat berpikir apapun, bahkan tak bisa menebak nebak apa yang kakeknya tengah lakukan di sana.
Sungguh Bimo merasa kebingungan antara tetap menemui kakeknya di dalam sana atau tidak usah menemuinya?
Namun dia juga tau bagaimana sifat kakeknya, tak mungkin dia bisa melarikan diri begitu saja dari Surya, Akhirnya Bimo mengalah, dia memutuskan untuk turun dan menemui kakeknya di dalam sana, apapun yang terjadi, dia harus siap menghadapinya, bukan saat yang tepat untuk menjadi seorang pengecut, pikirnya.
Langkah kaki Bimo agak terseok, setengah di paksakan untuk masuk ke halaman rumah yang ketiga kalinya ini dia dambangi, halamaan rumah yangvteduh dan asri itu seketika terasa panas dan gersang akibat suasana hati Bimo yang tak karu karuan.
Duh, benar saja, Yoyo sopir yang biasa mengantar jemput kakeknya pergi ke mana pun terlihat duduk di teras yang beberapa hari yang laalu menjadi tempat duduknya saat berkunjung ke rumah ini.
"Tuan,!" Yoyo mengangguk seraya memberi hormat dan tersenyum ke arah Bimo yang mendekat ke arahnya.
"Mana kakek?" tanya Bimo.
Pertanyaan Bimo di jawab dengan runjukkaan ibu jari Yoyo yang di arahkan ke dalam rumah yang pintunya setengah terbuka itu.
Bimo menarik nafas panjang, mempersiapkan apapun yang akan terjadi padanya, dan berharap ini bukan sesuatu hal yang buruk yang dapat berakibat fatal pada kesehatan kakeknya.
Dari celah pintu yang agak terbuka itu dapat dia lihat kakeknya yang sedang berbincang hangat dengan ibunya Anisa dan seorang pria yang asing dan belum pernah Bimo temui sebelumnya, rapi kalau boleh Bimo menebak nya sepertinya itu ayahnya Anisa.
Baru saja hendak melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu, suara panggilan Anisa memenghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Mas,!" sapa Anisa dengan suara yang agak kencang namun bukan berteriak.
Bimo menolehkan wajahnya, "Nis,,," hanya sepatah kata itu saja yang dapat keluar dari mulut Bimo.
"Kok ada di sini, bukannya tadi mas Bimo sedang berada di kantor ?" heran Anisa, karena tadi saat terakhir berbincang dengannya di telepon Bimo mengatakan kalau dirinya sedang berada di ruangan kantor nya.
Bimo lantas menarik tangan Anisa hendak mengatakan padanya tentang kakeknya yang kini berada di dalam rumahnya sedang berbincang dengan kedua orangtua gadis itu dan entah apa yang mereka bicarakan.
Namun suara panggilan kakek Surya dari dalam ruangan menghentikan niat Bimo untuk mengajak Anisa berbincang sebentar sekedar menyamakan suara jika ada pertanyaan yang menyerempet tentang mereka.
"Nah, itu anak anak kita sudah datang, kalian sini masuk!" seru Surya.
Anisa melirik ke arah Bimo, dia kaget saat mendapati ternyata ada kakek nya Bimo di dalam rumahnya dan sedang mengobrol dengan bapak dan ibunya.
Bimo melirik ke arah Anisa yang terlihat gugup, tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya setelah ini, tatapan mata Bimo seolah mengatakan, 'Tenang lah, ada aku,'
"Duduk sini, dannlepaskan dulu pegangan kalian, memangnya kalian hendak menyebrang!" seloroh Surya.
secara refleks Bimo dan Anisa pun melepaskan tautan tangan mereka, yang langsung di sambut gelak tawa Umar dan Tati, menertawakan tingkah mereka yang terlihat lucu, seperti sedang terciduk berbuat yang tidak tidak, wajah mereka pun terlihat pucat seperti tak di aliri darah.
"Kalau saya dan istri menyerahkan sepenuhnya keputusan di tangan putri kami, jika Nisa setuju, kami tak akan menghalang halangi kebahagiaan nya, bukan begitu, bu?" ucap Umar melirik ke a rah istrinya, yang lalu di jawab dengan anggukan dan senyuman Tati.
__ADS_1
"Eh tunggu dulu, keputusan apa yang bapak maksud, sebenarnya ada apa ini?" tanya Anisa panik.
"Jadi kedatangan kakek ke sini untuk melamar mu, nak. Kakek yakin, kalau kakek tidak bergerak secepat ini cucu kakek ini tak akan melangkah untuk melamar mu," terang Surya mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah itu yang tentu saja sudah di bicarakan denagn kedua orang tua Anisa sebelum pasangan palsu itu datang.
"Apa, melamar?!" Kaget Anisa dan Bimo secara bersamaan.
Sungguh ini di luar skenario, dimana tadinya mereka baru saja merencanakan akan memberi tahu Surya kalau hubungan mereka kandas di tengah jalan, tapi ternyata Bimo harus kalah start dengan kakeknya yang lebih duluan melamarkan Anisa untuknya.
"Tapi kek, kenapa kakek tidak membicarakan nya dulu dengan ku?" bisik Bimo di telinga kakeknya.
"Bukankah kalian ini sudah 3 tahun bersama, apa lagi yang kalian tunggu, usia mu juga sudah 30 tahun, mau nunggu sampai kapan lagi, kakek ingin kalian menikah bersamaan dengan ulang tahun kakek," Pinta Surya.
"Menikah?" Beo Anisa lirih namun masih dapat di dengar oleh semua orang yang ada di ruangan itu, jantung Anisa rasanya tiba tiba berhenti mendengar ucapan kakek Surya.
"Kamu pintar sekali menyembunyikan hubungan mu dengan nak Bimo, bahkan ibu baru bertemu dengan nak Bimo kemarin, inu tak ingin memaksa mu, hanya saja,,, tidak baik berpacaran terlalu lama, takutnya banyak setan yang menggoda iman kalian," ungkap Tati mengemukakan isi hati dan ketakutan nya, meskipun dia percaya sepenuhnya dengan sang putri yang akan menjaga dirinya dan nama baik keluarganya, namun tak dapat di pungkiri pergaulan anak zaman sekarang, dimana pergaulan bebas sudah di anggap menjadi sebuah kewajaran.
"Bapak juga setuju dengan pendapat ibu, bukankah menikah itu ibadah, dan sebaiknya di segerakan?" Timpal Umar yang sukses membuat Anisa mengeluarkan keringat dingin di sekujur tubuhnya dan bibirnya seakan kelu tak dapat berkata kata.
"Bagaimana Bim?" Surya menepuk lengan sang cucu yang sepertinya malah terlihat melamun.
"Kek, apa ini tidak terlalu terburu buru, bahkan Bimo saja belum berkenalan secara resmi pada kedua orang tua Anisa," Kilah Bimo beralalsan.
__ADS_1
"Bim, kakek ini sudah tua, keinginan kakek yang belum terlaksana itu hanya ingin melihat mu menikah, anggap saja ini permintaan terakhir kakek!" Surya terdengar begitu memelas.