BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Cewek Tangguh


__ADS_3

Mas Bimo masih menunggui ku yang belum bersedia pulanh dengan alasan kalau pekerjaan ku hanya tinggal sedikit lagi selesai.


"Mas boleh tinggalin aku kalau mas bosan, aku bisa pulang sendiri, tenang saja!" ucap ku pada Mas Bimo yang sedang asik dengan gadgetnya entah apa yang membuatnya betah berlama-lama memelototi layar pipih di tangan nya itu.


Hihi, sepertinya aku cemburu, andai saja yang di tatapnya itu aku, ngarep lagi kan ?


"Apa kau sengaja ingin aku di marahi kakek, karena tak membawa mu pulang bersama ku?" jawabnya, dengan mata yang tatapannya masih terkunci pada layar.


"Ya sudah, 15 menitan lagi selesai, kok!" ucap ku.


Namun tak di sangka-sangka Mas Bimo menaruh ponselnya di meja lalu menghampiri ku yang sedang memasangkan kaki meja.


"Mas mau ngapain?" tanya ku saat dia ikut memegangi kaki meja yang akan aku paku itu.


"Membantu mu, bukankah akan lebih cepat selesai jika di kerjakan bersama sama, aku lapar!" katanya lagi,


Duh, mana bisa aku mengerjakan pekerjaan ku jika dekat dekat dengan nya, ini bisa kacau! Batinku.


Kami memasang kaki meja itu bersama, meski tangan Mas Bimo tidak terlalu mahir dalam pekerjaan kasar seperti ini, tapi dia cukup mau mengimbangi ku kok, mungkin dia tak ingin harga dirinya sebagai pria di permalukan jika tak mampu mengerjakan pekerjaan pria seperti ini.


"Apa tak ada pekerjaan lain yang lebih cewek gitu, untuk kau pilih sebagai pekerjaan?" tanya nya tiba-tiba, mungkin dia merasa aku terlalu aneh di matanya dimana seorang wanita mengerjakan pekerjaan kasar seperti ini


Sementara kalau buat ku pribadi ini hal yang biasa saja, apalagi teman di lingkungan ku juga banyak cewek-cewek yang mengerjakan pekerjaan seperti yang aku tekuni ini.


Intinya ini tentang pekkerjaan yang sesai dengan hati, sesuai dengan hoby, jadi buatku tak ada batasan pekerjaan itu harus di kerjakan wanita atau pria, selama aku mampu dan senang melakukannya itu akan terasa ringan dan menyenangkan, aku kan, cewek tangguh.


"Kenapa memangnya? terus, pekerjaan yang lebih cewek itu seperti apa? model, sekretaris?" tanya ku.

__ADS_1


Namun wajah Mas Bimo tetiba menjadi berubah ketika aku menyebutka perumpamaan model dan sekretaris, sepertinya dia agak melamun dan memikirkan sesuatu, entah apa.


###


POV Author


Begitu mendengar Anisa yang tiba-tiba menyebut kata model, Bimo langsung terdiam, dia spontan saja teringat pada Viona sang kekasih.


"Aku permisi sebentar," ucap Bimo yang lalu menjauh dari tempat Anisa mengerjakan pekerjaannya.


Bimo terlihat mengotak atik ponselnya, sepertinya dia sedang berusaha menghubungi Viona, dia tak bisa menahannya lagi, dia sangat merindukan kekasihnya itu, biarlah dia yang mengalah duluan menghubungi Viona, bukankah dalam suatu hubungan terkadang kita harus mengalah?


Meskipun selama ini yang selalu mengalah dan berkorban dalam hubungan mereka itu hanya Bimo saja seorang.


Wajah Bimo terlihat agak muram ketika ternyata Viona tak mengangkat panggilan teleponnya.


"Mas, ayo!" Suara Anisa mengagetkan Bimo yang sedang melamun memikirkan sedang apa gerangan sang kekasih nun jauh di sana.


"Ah iya, kamu naik mobil ku saja, biar motormu di sini saja dulu," ucap Bima.


"Lho, terus besok aku berangkat ke sininya gimana, dong?" cicit Anisa terlihat seperti agak keberatan karena harus meninggalkan motornya di sana.


"Besok kamu berangkat bareng aku," ucap Bimo datar, berbanding terbalik dengan suasana hati Anisa yang seolah ramai bersorak sorai sambil joget-joget karena saking bahagianya karena bisa berdua-duaan dengan suami gantengnya itu, malam ini dan juga besok pagi saat berangkat kerja.


Anisa akhirnya mengalah dan mengangguk patuh, kemudian dia memasuki mobil mewah sang suami.


"Kok kesini mas?" protes Anisa karena Bimo malah memarkirkan mobilnya ke sebuah restoran mewah yang di sepanjang umur Anisa, dia belum pernah masuk ke tempat itu.

__ADS_1


"KIta makan malam dulu, aku dari tadi sudah bilang dari tadi kan, kalau aku laper," ucap Bimo yang tak pernah makan di tempat sembarangan.


"Memangnya tadi mas gak makan, di rumah?" Tanya Anisa lagi, mengingat ini sudah sangat larut malam tapi suaminya itu belum makan gara-gara menghampirinya ke apartemen tempatnya bekerja.


Bimo menggelengkan kepalanya, dia memang tak ikut makan malam di rumah nya tadi, entah mengapa karena tau yang masak bukan Anisa diamenjadi malas untuk makan malam di rumahnya, padahal sudah semenjak dia kecil dia sudah terbiasa memakan masakan bi Nani, dan itu tak pernah ada masalah.


Hanya saja semenjak dia beberpa hari ini menikmati hasil masakan sang istri, masakan bi Nani seolah menjadi tak cocok lagi di lidahnya yang tergolong rewel itu.


"Maaf, pasti gara-gara menjemput ku ya, Mas Bimo jadi telat makan malam begini," lirih Anisa terdengar seperti merasa bersalah.


"Santai aja kali, kamu juga belum makan malam, kan? Anggap saja kita lagi dinner," seloroh Bimo dengan di akhiri tawa renyah di akhir kalimatnya.


'Nyessss' mencelos rasanya hati Anisa melihat senyuman manis suaminya itu.


Bimo memesan steak sapi untuk makan malamnya, sementara Anisa masih membolak balikan buku menu, jiwa iritnya menjerit, semua makanan di sana harganya dia atas rata-rata dan tak masuk di akal Anisa, jika dia bisa menikmati pecel lele suda komplit di warung tenda hanya dua puluh ribu satu porsi sudah lengkap dengan es jeruk, di sana dia tak menemukan makanan yang harganya bersahabat, rata-rata makanan di sana harganya di atas 300 ribu rupiah hanya untuk makan malam berdua pasti menghabiskan uang lebih dari setengah juta, baginya itu terlalu pemborosan.


"Kamu mau makan apa?" Tanya Bimo yang melihat Anisa hanya terus membolak balikan buku menu itu lembar demi lembar dan tak ada yang di pilihnya.


"Boleh gak, kalau aku cuma nemenin makan mas saja, aku menginhinkan makanan lain, tapi tidak ada menunya di sini," kilah Anisa beralasan.


"Apa yang kamu mau, bilang saja, aku kenal dengan chef di sini, aku bisa menyuruhnya untuk memasak makanan yang kamu inginkan." tawar Bimo.


Tentu saja Bimo kenal dengan chef di sana, restoran mewah itu salah satu anak perusahaan dari Mahesa grup.


"Ah, tidak-tidak! ku memang menginginkanmakanan di tempat lain,bukan di sini, mas makan saja, aku temani, nanti giliran mas yang temani saya makan, oke?" oceh Anisa sengaja berkelit, padahal dia tak enak hati jika hanya untuk makan malam merek berda saja harus menghabiskan uang yang banyak, itu terlalu berlebihan menurutnya.


"Oke, terserah kamu saja, lah!" meski agak kecewa karena merekaa tak makan bersama, namun akhirnya Bimo mengalah juga.

__ADS_1


__ADS_2