BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Jangan geer


__ADS_3

Siang ini aku sudah bersiap hendak ke rumah sakit, namun saat aku membuka pintu pintu hendak keluar dari rumah, langkah ku tertahan, ku lihat ibu sedang mengobrol dengan Bimo di kursi teras.


"Ah, ini dia anaknya, sepertinya sudah siap," ucap ibu ku sambil menunjuk ke arah ku.


Aku tersenyum kaku, karena merasa bingung dengan kehadiran Bimo yang tiba tiba saja sudah mengobrol akrab dengan ibu ku.


"Ayo berangkat!" ajak Bimo, yang lantas berpamitan dengan ibu ku lalu mengajak ku segera pergi bersamanya.


Sebentar sebentar,,, rasa rasanya kemarin Bimo tak mengatakan akan datang menjemput ku, atau aku melupakan sesuatu?


Tapi rasanya kami memang benar benar tak ada janjian sedikit pun, lalu apa saja yang tadi Bimo obrolkan dengan ibu, ah,,, jangan jangan Bimo berkata yang tidak tidak atau berbohong tentang hubungaan kami seperti yang dia lakukan pada kakeknya, bisa gawat ini, racau ku dalam hati.


"Baik nak Bimo, hati hati di jalan dan sampaikan salam saya pada kakek mu," ucap ibu, pake acara titip titip salam segala rupa lagi, sok kenal banget, deh!


Bimo mengangguk. Dengan terpaksa akhirnya aku mengalah pergi bersama Bimo, karena tak ingin berdebat di depan ibu, aku mengekor langkah Bimo setelah sebelumnya berpamitan juga dengan ibu ku.


"Kenapa datang menjemput ku? aku bisa pergi naik motor ku!" protes ku saat kami baru sama sama duduk di mobil sedan mewah milik Bimo.


"Tak apa sekalian lewat, lagian kakek akan curiga jika kau datang naik motor," ucapnya yang lalu menjelaskan kalau kakeknya kini sudah pulang ke rumah tadi pagi, jadi dia takut kakeknya curiga kalau kami tidak datang bersama sama.


Ah, ku pikir--- bikin geer saja! Rupa rupanya karena itu, aku sedikit gondok karena ku pikir dia datang ke rumah menjemput ku itu karena mengkhawatirkan ku, mengingat semalam aku pulang larut, ternyata alasannya karena demi sandiwara agar terlihat lebih paripurna saja di depan kakek.


"Lagi pula aku tak bisa menghubungi mu untuk memberitahukan kepulangan kakek pada mu." ucapnya lagi memberi ku alasan yang logis, seakan ingin mengatakan pada ku 'Jangan geer, deh!'


"Oh itu, aku belum sempat membeli ponsel baru," jawab ku, yang bahkan baru ingat kalau aku belum membeli pengganti ponsel ku yang rusak, sejak kemarin aku kan, di rumah sakit sampai malam, mana sempat beli, sekarang ini juga sudah harus pergi ke rumahnya Bimo lagi.


Di tengah perjalanan Bimo menghentikan mobilnya di sebuah toko ponsel terkenal.


"Ayo, mumpung kelewatan, kamu beli dulu, di jaman sekarang ini ponsel itu penting, apa lagi buat kamu yang senang pergi sendirian naik motor, jadi kalau ada apa-apa gampang ngabarin,!" ucapnya serius.

__ADS_1


"ish, kenapa anda malah menyumpahi ku seperti itu?" jujur saja aku itu serba salah mau memanggil Bimo dengan sebutan apa, tuan atau apa, sementara kalau memanggilnya dengan sebutan kamu juga kadang rasanya agak risih mengingat dia umurnya jauh di atas ku.


"Bukan menyumpahi mu, itu namanya jaga jaga!" ujarnya ngeles.


Aku masuk ke gerai itu di temani Bimo, aku memilih dan membeli ponsel yang memang satu tipe persis seperti punya ku yang rusak, Bimo hanya memperhatikan ku tanpa protes atau komentar apapun.


"Aku pikir anak anak seusia mu biasanya memilih ponsel yang canggih, keren dan kekinian, tapi kamu malah memilih ponsel yang seperti itu," selorohnya sambil sesekali melirik kesibukan ku yang sedang membongkar ponsel baru ku dan memasukan sim card ku yang lama yang aku simpan di dompet, di sela keseriusannya mengemudi.


"Seusia ku? Memangnya usia anda berapa?" tanya ku tiba tiba tergelitik ingin tau.


"30" jawabnya santai.


"Seharusnya aku memanggil mu Om!" seloroh ku setengah mengejek.


Tuh kan benar usianya jauh di atas ku, perbedaan usia kami 8 tahun.


"Kalau boleh aku minta, kamu panggil aku mas Bimo saja seperti biasa kamu memanggil ku di depan kakek, terdengar lebih nyaman di telinga ku," ucapnya.


"Hemh,," jawab ku hanya dengan dehaman saja.


"Kok hemh, kamu keberatan?" tanya nya, wajah bingungnya dengan kening yang berkerut malah membuat aku gemas dengan mas mas yang satu ini.


Entahlah rasanya kok aku jadi tergoda gitu, padahal semenjak aku di hianati Alan, aku tak pernah tertarik untuk masalah yang menyerempet suka sukaan atau sejenis itu lah.


"Iya mas, aku gak keberatan," jawab ku berpura pura sok santai, padahal jantung ku ini tak santai sama sekali.


"Lalu aku manggil kamu dengan sebutan apa?" dia bertanya balik.


Demi Tuhan aku ingin menjawab, 'Panggil sayang saja, seperti panggilan yang biasa mas gunakan kalau di depan kakek,' tapi itu hanya bisa terucap dalam hati ku saja hehe.

__ADS_1


"Panggil Nisa saja!" jawab ku, mulutku tak sampai hati mengutarakan keinginan di hati ku.


Mas Bimo terlihat mengangguk anggukan kepalanya tanda mengerti.


Akhirnya kami sampai di rumah mewah mas Bimo, ini kali ke dua aku menginjakan kaki di rumah mewah itu.


Rasanya hati ku kembali kesal saat mengingat perlakuan mas Bimo waktu pertama kali kami bertemu di rumah ini, gara gara itu juga aku kehilangan pekerjaan ku.


"Kenapa?" tanya mas Bimo yang sepertinya melihat perubahan mimik wajah ku.


"Kalau ingat rumah ini aku merasa kesal mas, gara gara ketemu kamu di rumah ini aku jadi pengangguran sekarang," Omel ku kesal.


Namun Bimo justru malah tersenyum tipis, membuat kekesalan ku menguap begitu saja saat melihat senyumannya yang menggoda iman.


"Maaf, waktu itu aku sedang banyak masalah dan emosi, jadinya kamu yang jadi pelampiasan kemarahan ku," ujarnya enteng.


"Hais,,,mohon maaf, tapi kesalnya bikin orang jadi pengangguran!" cicit ku.


"Kamu bisa bekerja di tempat ku, aku kebetulan baru beli apartemen yang akan ku desain ulang, untuk ku jual lagi, aku serahkan pada mu untuk mendesainnya, kalau pekerjaan mu oke, aku bisa pertimbangkan untuk mendesain properti ku yang lain," ucapnya membuat ku senang bukan kepalang.


"Benarkah? Apa mas Bimo serius?" Tanya ku antusias.


"Iya, anggap saja ini juga sebagai permintaan maaf ku," jawabnya membuat ku meloncat loncat kegirangan tanpa ku sadari.


"Wah wah,,, ada kabar bahagia apa, nih? Kok kakek gak di kasih tau?" Kakek Surya yang datang menyambut kedatangan ku dengan duduk di kursi roda dan di dorong oleh asisten rumah tangga yang waktu itu pernah bertemu dengannya.


"Eh, nona ini yang kemarin kesini dan---" belum selesai bi Nani merampungkan kalimatnya, Bimo sudah menyambar ucapan asisten rumah tangga nya itu.


"Iya, yang kemaren datang bersama ku ke rumah ini," terlihat mas Bimo sedikit membelalakan matanya ke arah bi Nani, yang sepertinya kebingungan.

__ADS_1


Sementara aku hanya diam saja memperhatikan mereka semua.


__ADS_2