
Dua hari setelah hari pernikahan, Bimo kembali ke apartemen Viona setelah sebelumnya dia mengantarkan Anisa pulang terlebih dahulu, setelah mereka melewati bulan madu yang tertunda itu.
Tampak jelas raut tak rela dari wajah Bimo saat harus berpisah dari istri pertamanya itu, sungguh seperti mimpi kini dirinya mempunyai dua orang istri saat ini, entahlah bagaimana dia akan melewati hari-harinya setelah ini dengan menjalani kehidupan sebagai pria berpoligami.
Apartemen Viona tampak sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan di sana, kamar pengantin yang tampak masih berantakan akibat amukan Viona 2 hari yang lalu bahkan masih tampak utuh, belum ada yang menyentuhnya sama sekali.
"Kemana dia?" Gumam Bimo, memeriksa semua ruangan mencari keberadaan istri keduanya yang tak dia temukan di ruangan mana pun.
Berulang kali Bimo mencoba menghubungi ponsel istri keduanya itu, namun Viona tak juga mengangkat panggilan darinya, membuat Bimo menjadi agak sedikit kesal, andai saja dirinya tau kalau Viona tidak ada di rumah, mungkin dia akan memilih untuk tinggal di apartemen Anisa saja tak perlu buru-buru datang ke tempat Viona yang ternyata tak ada di rumah itu.
Namun baru saja Bimo memutuskan untuk pergi dari apartemen yang sepi tanpa penghuni itu, tiba-tiba saja Viona pulang.
"Dari mana saja kamu ini, tengah malam begini baru pulang?" Tegur Bimo.
"Dari mana kata mu? Haloooo bukannya harusnya aku yang bertanya pada mu dari mana saja kamu selama 2 hari ini,?!" Teriak Viona yang sepertinya sedang mabuk berat itu.
"Hey, kau mabuk?" Pekik Bimo saat tercium bau alkohol yang begitu menyengat saat Viona berbicara padanya.
"Apa peduli mu, aku mau mabuk kek, mau apa kek, bukan kah yang kau pedulikan hanya pekerjaan, kerja, kerja, dan kerja! Pergi sana urus saja semua pekerjaan mu tak usah memperdul;ikan aku!" Ceracaunya semakin menjadi menumpahkan semua kekesalan dan kemarahannya pada Bimo yang selama 2 hari ini di pendamnya.
"Kau sedang hamil, kau akan membunuh bayi mu jika kau mabuk-mabukan seperti ini!" protes Bimo.
__ADS_1
"Hamil? Siapa yang hamil? Kau tertipu, aku tidak hamil, aku melakukan itu semua karena aku ingin kau menikahi ku!" Cicit Viona.
Efek alkohol membuatnya mengatakan hal-hal yang seharusnya tak dia katakan.
"Apa maksud mu?" Geram Bimo saat mendengar pengakuan Viona yang membuatnya sangat kaget itu.
"Kau--- kau telah tertipu, aku tidak hamil, tidak ada bayi di sini, tapi aku berhasil, aku telah membuat mu menikahi ku, akan ku katakan pada dunia kalau aku adalah istri dari Bimo Mahesa pemilik Mahesa hotel pewaris tunggal Mahesa grup, hahaha!" Viona tertawa-tawa sambil menunjuk nunjuk dan memukuli perutnya sendiri bak orang kehilangan akal karena tak bisa menguasai mabuknya.
Wajah Bimo mengeras, dengan rahang yang tiba-tiba mengencang, ingin rasanya kepalan tinjunya melayang ke arah Viona jika saja dia tak ingat kalau lawan bicaranya itu seorang perempuan yang sudah dia pacari selama bertahun-tahun dan baru saja dia nikahi dua hari yang lalu itu.
Tak ingin emosi terlalu jauh, Bimo memutuskan untuk meninggalkan apartemen Viona dengan hati yang sangat kesal dan penuh marah.
Hancur tak bersisa sudah perasaannya untuk Viona, yang tega menipunya dengan tindakan yang sangat menjijikan hanya demi di nikahinoleh dirinya, kini Bimo seakan tersadar dan baru tahu bagaimana sifat asli dari Viona yang pernah menjadi ratu di hatinya itu, ternyata tak ubahnya bak seorang penyihir jahat.
"Mas, kenapa balik lagi ke sini?" Kaget Anisa uang tiba-tiba mendapati suaminya sudah berada di sampingnya dan memeluk dirinya pagi ini.
Entah jam berapa Bimo pulang ke apartemen nya, Anisa terlalu lelah berbulan madu selama 2 hari dan dia tertidur sengan lelapnya tadi malam.
"Aku pulang ke tempat istri ku, masa gak boleh?!" Goda Bimo yang semua rasa kesalnya akibat ulah Viona langsung hilang saat dirinya berhadapan dengan istri kecilnya itu.
Entah sihir apa yang di pakai Anisa sehingga selalu jisa membuat Bimo tenang dan nyaman saat berada di dekatnya.
__ADS_1
"Maksud ku, bukannya semalam mas pamit mau ke tempat mbak Viona ?"
"Tolong jangan bahas itu, aku hanya ingin menghabiskan waktu ku dengan mu," Bimo mendekap erat tubuh mungil Anisa hingga tenggelam dalam pelukannya.
"Tapi, kasihan dia mas, kamu harus adil, dia juga istri mu, dan calon ibu dari anak mu," Anisa tetap berusaha mengingatkan Bimo, karena tak ingin suaminya menjadi pria yang tidak adil dan berdosa pada Viona yang juga berstatus istrinya.
"Tidak perlu adil-adilan, mulai saat ini aku milik mu utuh tak perlu berbagi dengan siapapun dan aku juga tak ingin membaginya dengan siapapun." Ucap Bimo membuat Anisa menggeliat dan berusaha keluar dari pelukan suaminya karena merasa kaget dengan apa yang di ucapkan suaminya itu.
"Apa maksudnya itu, mas?" Heran Anisa.
"Maksudnya aku akan segera menceraikan Viona, bahkan hari ini juga, agar aku menjadi milik mu utuh, tak perlu berbagi dengan siapapun juga." terangnya.
"Ta-tapi---"
Cup,,,,
Ciuman Bimo membungkam bibir Anisa yang ingin mengajukan banyak pertanyaan padanya.
"Tolong untuk tidak usah bertanya apapun dahulu, aku pasti menjelaskannya pada mu, hanya saja untuk saat ini biadkan aku menyelesaikan masalah ku dengan Viona sendiri." Urai Bimo sesaat setelah ciuman mereka terlepas, dan Anisa hanya bisa terdiam patuh pada ucapan Bimo.
Sungguh batapapun rasa penasaran itu seperti akan membunuhnya saat ini, tapi dia percaya pada Bimo kalau suaminya itu pasti tidak akan bertindak gegabah, dan dia hanya perlu memberi suaminya kepercayaan dan dukungan atas apa pun yang akan dia lakukan.
__ADS_1