
***
POV Anisa
"Aku akan menikah lagi!" Ucapan suami ku itu tak urung membuat hati ku bagai tersayat pilu, bagaimana bisa dia mengatakan hal se gila itu, sementara kami baru tiga bulan menikah.
Aku tau kalau pernikahan kami tidak di dasari cinta, tapi,,,bukankah pernikahan itu sakral dan bukan untuk di permainkan?
"Tapi mas, kita baru---"
"Viona hamil, aku harus segera menikahinya sebelum perutnya semakin membesar," ujarnya terlihat agak berat saat menyampaikan itu pada ku.
Mulut ku tiba-tiba menjadi bisu karena tergugu dengan perkataan suami ku itu, dan aku garis bawahi, bahkan selama tiga bulan pernikahan kami, mas Bimo tidak pernah menyentuh ku sama sekali.
Ingin rasanya aku marah, tapi pada siapa? Toh dia pasti akan berkata kalau itu kehidupannya, dan aku tidak berhak atas itu.
Ingin juga rasanya aku menangis, tapi menangisi apa? Pernikahan ini hanya pura-pura, mas Bimo juga bukan benar-benar suami ku.
Tapi kenapa sakit yang ku rasakan begitu nyata? Seakan aku benar-benar sebagai istri yang sedang tersakiti dan di dzolimi suaminya.
Oh hati, sadarlah,,,, itu semua bukan urusan mu,tak perlu terlalu mendalami peran, atau memang ternyata hati ku ini sudah terpaut pada suami pura-pura ku ini?
Nafasku seakan terhenti, bagaimana bisa pernikahan ini menjadi semakin rumit, belum saja urusan aku dan dia selesai sampai kami benar-benar bercerai, malah datang lagi masalah baru dalam rumah tangga palsu kami ini.
"Nisa, aku mungkin akan lebih sering tinggal bersama Viona setelah kami menikah karena kehamilannya memerlukan perhatian extra dari ku, apa kamu bersedia untuk pindah ke apartemen agar tidak menimbulkan kecurigaan pada kakek?" Ucap mas Bimo lagi melanjutkan ucapannya yang tadi, bahkan kali ini lebih terdengar menyakitkan bagi ku.
Aku diminta untuk pindah ke Apartemen guna menjadi tameng dalam menutupi hubungan mereka, marah, panas dan sakit memang rasanya hati ini, kenapa? Kenapa harus selalu aku yang berkorban untuk kepentingannya, egois!
Pertama demi kebahagiaan kakeknya dan menyelamatkan nama baiknya aku di minta menikah dengannya, lalu sekarang demi kekasih dan bayi yang di kandungnya aku juga harus berkorban lagi menutupi semuanya.
Tapi jika di runtut dari awal, yang paling pantas di persalahkan hanyalah diri ku sendiri, mungkin aku terlalu naif dan terlalu bodoh, sehingga mau saja melakukan semua itu, kalau dari awal aku menolak juga, ini semua tak akan terjadi, namun kembali lagi itu semua telah terjadi, aku harus bisa bertanggung jawab atas keputusan yang aku ambil sendiri.
__ADS_1
"Baik mas, nanti aku coba bicara dengan kakek," jawab ku singkat.
"Nis, terimakasih." Mata mas Bimo menatap ku dalam, entah apa arti dari tatapannya itu, ada sorot asing yang tak bisa ku artikan dari tatap matanya itu, seperti sesal, sedih, atau--- ah, entahlah mungkin aku hanya mengada ada, bukan kah seharusnya dia saat ini seharusnya sedang merasa bahagia bahagianya karena akan mendapatkan bayi dari wanita yang di cintainya.
"Selamat mas, atas kehamilan mba Viona." Ujar ku sekuat tenaga mencoba mengatakan itu dengan tegar, meski jujur perih sekali rasanya.
"Nis, maafkan aku, sudah menyeret mu dalam masalah-masalah ku yang tidak sederhana ini, maafkan aku memaksa mu berada di tengah kehidupan ku yang rumit ini, aku yang salah, semua ini salah ku," kata mas Bimo seraya meraih kedua tangan ku ke dalam genggaman nya.
Darah ku tiba-tiba berdesir hebat, bagaimana bisa aku merasa se grogi ini hanya karena genggaman tangan seorang Bimo.
"Mas, ini sudah menjadi takdir ku, aku hanya ingin menjalaninya sampai finish, hanya tinggal 3 bulan lagi bukan?" ucap ku mengingatkannya tentang perjanjian pernikahan kami yang hanya akan berlangsung selama 6 bulan saja.
Aku menarik tangan ku dari genggaman mas Bimo, aku tak mau perasaan ku yang jelas-jelas menaruh hati padanya semakin tumbuh dan berbunga dengan perlakuannya ini, sementara aku harus realistis kalau mas Bimo tidak akan mungkin aku dapatkan, apalagi sekarang dia akan menjadi ayah dari seorang bayi tak berdosa, tentu saja aku tak mungkin tega merebutnya meski dia suami sah ku.
Namun saat aku berhasil melepaskan tangan ku dari genggaman tangannya, mas Bimo justru malah memeluk ku erat, erat sekali sampai aku sesak dan tak bisa bernafas rasanya.
"M-mas!" Panggil ku.
"Tolong, biarkan aku seperti ini sebentar saja!" bisiknya.
Mas Bimo mengendurkan pelukannya, namun tak melepaskannya, dia tetap mendekap ku yang kini bagai patung bernyawa.
Tak ada kata yang terucap dari kami berdua, hanya terdengar isakan dari pria bertubuh kekar yang sedang mendekap ku ini.
Ah, yang benar saja. Mas Bimo menangis? Apa telinga ku tak salah dengar? Tapi tunggu, bahu ku terasa dingin dan basah. Dia menangis, mas Bimo menangis, tapi kenapa?
Ingin sekali aku bertanya padanya, tapi bibir ku lagi-lagi terkunci rapat, ya sudah biarkan saja, kalau memang dengan menangis seperti itu dia bisa menghilangkan segala kesedihannya.
***
POV Author
__ADS_1
Mungkin bagi sebagian orang akan terasa aneh, laki laki kok menangis?
Tapi bukankah laki-laki juga manusia, dia juga bisa melepaskan segala emosi yang tertahan lewat tangisannya.
Seperti halnya Bimo saat ini yang diam-diam terisak dalam pelukan sang istri. Entah mengapa Bimo merasa sangat emosional saat dia mendengar ucapan Anisa yang mengingatkannya tentang pernikahan mereka yang hanya tinggal 3 bulan lagi saja.
Mendengar hal itu kenapa hatinya seakan tak rela kehilangan sosok sebaik dan setulus Anisa, yang bahkan masih bisa mengucapkan selamat pada dirinya atas kehamilan wanita yang merebut suaminya dan jelas-jelas sudah menodai pernikahan mereka, meski ini hanya pernikahan pura-pura.
Tak ada yang tau jika Bimo memang se rapuh itu, harus menerima kenyataan menjadi anak yatim piatu semenjak kecil dan hanya mendapatkan kasih sayang hanya dari kakeknya, membuat Bimo selalu memendam semua masalahnya sendirian, baik itu masalah sekolah, masalah pekerjaan, termasuk masalah pribadinya, dia tak ingin kakeknya terbebani jika dia menceritakan masalahnya pada Surya.
"Sekali lagi, terimakasih Nis," ucap Bimo sambil mengurai pelukannya, hatinya kini telah sangat lega setelah memeluk istrinya itu, bahkan energi positif yang di miliki Anisa kini seakan tertular padanya, sungguh Anisa bisa membuatnya tenang meski hanya dengan pelukannya saja.
"Nisa!" Panggil Bimo lagi saat Anisa hendak beranjak dari sofa.
Cup !
Bimo mengecup kening Anisa dengan dalam, membuat sekujur tubuh Anisa kini meremang semua.
"Tidurlah di sana biar aku yang tidur di sini." Tunjuk Bimo ke arah kasur, karena sesuai perjanjian mereka bergantian tidur di sofa dan Kasur dan kali ini memang seharusnya giliran Anisa tidur di sofa.
"Hem," Anisa mengangguk dan langsung berlari ke arah kasur lalu menyelimuti seluruh tubuhnya sampai kepala menyembunyikan wajahnya yang kini sangat merah dan terasa panas karena perlakuan Bimo tadi.
Sementara Bimo hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah menggemaskan istrinya yang seperti anak kecil itu.
**
"Kek, aku dan Nisa ingin belajar mandiri, kami ingin menjalani rumah tangga berdua di apartemen, setiap weekend kami akan menginap di sini," Bimo membuka pembicaraan dan mengutarakan maksudnya pagi itu pada sang kakek.
"Anisa, apa kamu merasa tidak betah di sini?" Surya justru malah melempatkan pertanyaannya pada cucu mantunya.
"Ah, tidak kek. Nisa betah, dan sangat betah tinggal di sini, semua orang baik sama Nisa, hanya saja, benar kata mas Bimo, kami ingin merasakan belajar hidup mandiri." Anisa yang di todong pertanyaan seperti itu jelas saja menjadi tak enak hati, dia takut kalau Surya berpikiran yang tidak-tidak padanya.
__ADS_1
"Hemh, sebenarnya kakek berat melepas kalian berdua, hanya saja kalian memang sudah punya keluargaa sendiri dan memang sudah sewajarnya kalau kalian ingin mempunyai kehidupan sendiri, baiklah kakek ijinkan, semoga saja dengan jalan seperti ini kalian bisa segera mendapat momongan, dan kalian bisa memberi kakek cicit yang banyak!" ucap Surya dengan harapnya.
Ucapan Surya sontak saja membuat Bimo dan Anisa hanya bisa saling melempar pandangan menanggapi ucapan Surya, terlebih Bimo yang merasa sangat tersindir dengan ucapan kakeknya itu.