
Anisa sedang di dapur dan mempersiapkan makan malam, saat Bimo pulang ke apartemennya sore menjelang malam itu.
"Mas, aku pikir mas tak kembali ke sini, aku pulang cepat tapi mas tak ada di sini," cicit Anisa.
"Aku ke kantor menemui seseorang yang--- menyebalkan!" Ketus Bimo, sekuat tenaga dia berusaha tak menunjukkan rasa marahnya di hadapan Anisa, namun apa daya saat wajah menyebalkan Alan terbayang kembali di ingatannya, rasa marah itu kembali tersulut dan membara di hatinya.
"Seseorang yang menyebalkan? Siapa?" Anisa mengernyit.
"Akh,,, sudahlah, tak usah di bahas, aku jadi ingin marah jika mengingat orang itu, bajingan!" umpatnya.
"Siapa? Aku?" Anisa menunjuk dadanya sendiri,
"Orang itu, bukan kamu!" Kesal Bimo.
"Aku ada apartemen yang harus di desain ulang, apa kamu bisa mengerjakannya untuk ku?" ucap Bimo berusaha meminta agar Anisa bekerja padanya dan meninggalkan pekerjaannya yang sekarang yang membuat hatinya terbakar cemburu buta.
"Tapi aku sedang mengerjakan pekerjaan lain, dan itu sedang berjalan." Tolak Anisa yang tak mengira jika apa yang sedang di lakukan dan di katakan Bimo itu hanya sebatas agar istrinya itu tak lagi dekat-dekat dengan mantan kekasihnya.
"Kenapa? Aku bisa membayar mu 3 kali lipat dari bayaran yang kamu dapat dari pekerjaan mu yang sekarang ini."
"Mas ini bukan tentang bayaran, tapi----"
"Lantas kalau bukan tentang bayaran, tentang apa? Sepertinya kamu berat sekali melepas pekerjaan mu yang sekarang ini, bukannya kamu bisa menyerahkan pekerjaan ini pada tim mu saja, bukankah mereka juga terlatih dan hebat!" Pancing Bimo.
"Mas, pekerjaan ku ini di bidang jasa, tentu saja bukan hanya masalah uang yang aku utamakan, tapi juga kepuasan konsumen, aku tak mau mengecewakan klien dengan tiba-tiba meninggalkan pekerjaan yang bahkan baru saja di mulai, itu akan sangat mencoreng nama ku nantinya dan tak akan ada yang mau lagi memakai jasa ku." Terang Anisa panjang lebar.
"Aku yang akan memberi mu pekerjaan jika tak ada orang lain yang mau memberi mu pekerjaan," tepis Bimo.
__ADS_1
"Mas, mungkin itu bisa mas lakukan sekarang-sekarang ini, namun setelah 3 bulan kedepan, atau bahkan setelah mas menikah dengan mbak Viona, itu bisa saja tak mungkin lagi, bukankah mbak Viona itu tak suka jika mas terlibat langsung dengan pekerja wanita?" Anisa kembali mengingatkan tentang 3 bulan tersisa untuk hubungan mereka dan mengingatkan kembali juga tentang pernikahan yang belum juga terlaksana antara dirinya dan Viona, membuat Bimo merasa semakin kesal.
"Anisa, apa kau masih menganggap ku ini sebagai suami mu?" Bentak Bimo hilang kendali.
"I-iya," angguk Anisa takut-takut saat Bimo tiba-tiba membentaknya.
"Bukankah kau yang bilang kalau istri harus patuh pada suami, dan jika tak ada ridho ku maka kau tak bisa melakukan pekerjaan mu?"
Anisa kembali mengangguk pelan dan masih terlihat takut-takut, sungguh dia tak tau apa yang menyebabkan suaminya itu sebegitu marahnya, padahal bukankah dia kemarin mengijinkan dan membebaskannya dalam bekerja, katanya kemarin yang penting dirinya nyaman dan bahagia, tapi kenapa sekarang tiba-tiba jadi berubah seperti itu, tak mungkin kan, jika suaminya itu berkepribadian ganda?
"Baiklah katakan apa mau mu mas, kamu ingin aku bagaimana?" Anisa masih berusaha untuk tetap tenang dalam menghadapi suaminya yang kini seperti sedang menahan amarah namun entah apa penyebabnya itu sungguh Anisa tak tahu.
"Aku mau kamu tak mengerjakan lagi pekerjaan mu yang sekarang, lalu kerjakan pekerjaan yang ku berikan pada mu." Tegas Bimo.
"Kenapa, apa alasan mas menyuruh ku melepaskan pekerjaan ku yang sekarang, aku sudah menanda tangani kontrak dengannya, dan buikannya mas juga sudah memberi ku ijin untuk mengambil pekerjaan itu." Debat Anisa.
Baginya pekerjaan jasa seperti dirinya ini pelayanan adalah nomor satu dan paling utama, karena jika sampai dia mengecewakan kliennya sekali saja maka tamatlah kariernya, karena dia akan di anggap tidak bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
Maka dari itu Anisa ingin menjaga image dalam pekerjaannya denagn baik, terlebih dia masih sangat baru dalam menjalani pekerjaan ini, akan dengan sangat gampangnya klien mengganti dirinya dengan orang lain yang lebih berpengalaman dan lebih lama berkecimpung di bidang ini di banding dengan dirinya.
"Alasannya karena aku memerlukan tenaga mu juga untuk menggarap apartemen milik ku, apa kamu akan lebih mementingkan pekerjaan orang lain di banding suami mu sendiri? Dan untuk masalah kontrak yang sudah kamu sepakati dengannya, aku akan membayar biaya finalty nya jika dia menuntut itu." Bimo keukeuh dengan pendiriannya yang tak ingin di bantah sama sekali.
"Aku akan membicarakannya dengan klien ku itu, semoga dia bisa menerimanya dan mengerti," Anisa mengalah, dia sungguh tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan suaminya itu.
Katakanlah Anisa bodoh, Anisa bucin, Anisa terlalu naif, karena dia selalu saja mengalah pada Bimo dan selalu mengiyakan apapun yang di minta dan dikatakan oleh Bimo, seakan-akan dalam hidupnya itu tak pernah ada kata tidak dan tak pernah mengenal penolakan jika itu berkaitan Bimo.
"Aku tak menerima penolakan, katakan padanya aku akan membayar biaya finalty berapa pun yang dia minta!" Ucap Bimo dengan arogannya.
__ADS_1
"Baiklah mas, ayo makan dulu, kamu pasti belum makan malam," ajak Anisa.
Baru saja Bimo duduk di meja makan dan bersiap menyantap hidangan, Viona menelponnya, sekali, dua kali, sampai ke tiga kalinya akhirnya Bimo menerima panggilan telepon dari kekasihnya itu.
Wajah Bimo terlihat pias, raut kecemasan begitu nampak di wajahnya,
[Ya, aku segera ke sana, kebetulan aku sudah sampai tadi siang, hanya saja aku langsung ke kantor tadi untuk menemui investor,] Bimo mengakhiri pembicarannya di telepon dengan Viona.
"Aku harus pergi!" pamit Bimo yang bergegas bangkit dari tempat duduknya, padahal dia belum memakan sesuap pun makanan yang di hidangkan oleh Anisa.
Sepertinya Bimo sangat terburu-buru, entah apa yang terjadi dan entah apa yang di katakan Viona padanya sehingga langsung membuat Bimo langsung meninggalkan Anisa berikut masakan yang selalu di sukainya itu.
"Tapi mas belum makan?"
Ingin sekali rasanya Anisa mencegah Bimo pergi, namun sayangnya dia tak punya nyali untuk mengatakan apa yang ada di hatinya itu, boro-boro menahan dan melarangnya pergi, sekerdar bertanya apa yang terjadi dan bertanya kemana Bimo pergi saja tak sampai hati terucap dari bibirnya.
Anisa hanya bisa mengiya kan seperti biasanya, tanpa banyak bertanya atau bicara apapun pada suaminya itu.
"Jangan tunggu aku, sepertinya aku tak pulang malam ini," kata Bimo sesaat sebelum dirinya pergi.
**
Mobil Bimo memasuki pelataran parkir rumah sakit elite ibukota. Pria itu berjalan di lorong rumah sakit dengan perasaan tak menentu, menuju ruangan rawat vvip dimana Viona di rawat.
"Sayang, lama sekali kamu datang ke sini, aku menunggu mu, kamu tak pulang-pulang, padahal aku sedang mengandung dan keadaan ku sedang lemah seperti ini, sepertinya bayi dalam perut ini ingin dekat-dekat dengan ayahnya!" oceh Viona.
Sang artis terkenal itu di rawat di rumah sakit karena terus-menerus muntah sampai pingsan dan hanya bisa tergeletak lemah tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
__ADS_1