BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Trauma


__ADS_3

Ponsel Bimo terus saja berdering, padahal waktu sudah lewat tengah malam, tak usah di tanya lagi, siapa yang menelponnya dengan tak henti-henti itu, jelas saja yang menelponnya itu adalah Viona, siapa lagi!


Dia pasti akan protes dan marah-marah karena selama tiga hari ini Bimo tak datang ke rumahnya, ya... selama 3 hari ini Bimo memang ternyata tak berada di apartemen Viona seperti yang Anisa kira, semenjak kepindahan hari pertama mereka, Bimo langsung mendapat tugas peninjauan cabang hotel di luar kota, dari waktu yang tadinya di perkirakan akan seminggu, ternyata baru 3 hari saja Bimo sudah sangat rindu pada Anisa, sehingga dia memutuskan untuk pulang ke ibukota.


Aneh memang, bukan Viona yang saat ini sedang berbadan dua itu yang dia rindukan, justru Anisa yang malah mengganggu pikiran dan konsentrasinya dalam mengerjakan tugas-tugasnya membuat dia ingin cepat pulang, sementara Viona masih mengira kalau Bimo saat ini masih berada di kuar kota.


Sayangnya saat jam 6 sore tadi dia sampai ke tempat ini, Anisa yang di rindukannya itu justru tak ada di tempat, apartemen terlihat sepi, Bimo hanya bisa menunggu istrinya itu pulang, dia tak ingin menghubungi istrinya itu karena ingin memberinya kejutan akan kehadirannya.


Bimo mengerjakan tugas-tugasnya sambil dia menunggu istri yang di rindukannya itu pulang, sempat terasa kesal karena satu jam berlalu namun sang istri tak kunjung juga pulang, hampir saja dia merasa putus asa dan memutuskan untuk pergi saja dari sana bila tak ingat rasa rindu yang seakan menggunung di hatinya.


Kembali bertemu dengan istrinya, mencicipi lagi masakannya dan sekarang di buatkan kopi sebagai teman begadang dalam melaksanakan tugasnya membuatnya kembali merasakan nikmat hidup yang selama 3 hari ini seakan menghilang.


Tiga hari tanpa Anisa hidupnya terasa kacau, katakanlah hidup Bimo kini bergantung pada istrinya, pilihan baju yang akan di pakainya terasa selalu salah dan tak pas saat baju itu tak di pilihkan dan di siapkan Anisa, makanan yang di makannya terasa tak sesuai seleranya jika itu bukan masakaan Anisa, hidupnya kini benar-benar tersiksa, semua hidupnya bergantung pada Anisa, dan Bimo benci itu, benci untuk mengakui kalau hidupnya tergantung pada Anisa, dan pikirannya tak pernah lepas dari Anisa, di matanya selalu terbayang wajah Anisa, dan di setiap sekat hatinya semua hanya tentang Anisa, sungguh Bimo benci untuk mengakui semua itu.


[Ya Viona, bagaimana?] Bimo mengangkat telpon yang deringnya sudah mulai sangat mengganggunya itu.


[...]


[Oke, aku usahakan untuk cepat pulang kalau semua pekerjaan ku di sini sudah selesai] Bimo masih meyakinkan Viona kalau dirinya saat ini masih berada di luar kota, dan pekerjaannya masih banyak yang belum terselesaikan, lalu mengakhiri pembicaraan mereka karena tak ingin Viona mengganggu waktunya malam ini.

__ADS_1


Bimo menyeruput kopi bikinan istrinya itu, lalu merebahkan punggungnya ke sandaran sofa, sungguh saat ini hatinya bergejolak, pikirannya kalut karena Viona terus saja menagih janjinya untuk menikah siri, sementara hatinya kini sudah tak terarah padanya, di hatinya seperti sudah tak ada lagi nama Viona, karena perlahan namun pasti nama itu semakin tergantikan oleh sosok Anisa yang semakin menguasai semua bagian di hatinya.


"Mas, sudah pagi, apa mas mau ke kantor?" Anisa membangunkan Bimo yang ternyata tertidur di sofa.


"Ah, aku ketiduran di sini!" Gumam Bimo tak menyadari kalau ternyata dia tertidur di sofa saat mengerjakan tugas-tugasnya.


"Aku tidak ke kantor, aku akan mengerjakan tugas-tugas ku dari sini, masih banyak yang harus aku kerjakan, kamu berangkat saja jika mau bekerja," lanjut Bimo mengucek matanya yang masih terasa berat, entah jam berapa dia memejamkan matanya, karena saat hampir adzan subuh seingatnya dia masih mengerjakan laporan dan dokumennya.


Hari ini Bimo ingin di rumah saja, dia belum ingin ke kantor apalagi menemui Viona, sungguh pekerjaan nya masih sangat menumpuk akibat dia pulang dari luar kota sebelum jadwalnya, sehingga pekerjaan yang seharusnya di kerjakan di sana dia kerjakan sendiri di rumah, demi agar bisa cepat bertemu Anisa.


Meskipun ternyata Bimo harus sedikit kecewa karena ternyata Anisa harus meninggalkannya untuk bekerja hari ini, tapi setidaknya dia tidak terpisah jarak yang jauh seperti hari-hari sebelumnya.


Entahlah, hanya melihat wajah istrinya saja membuat Bimo tenang.


"Emh, Nisa!" Panggil Bimo, saat Nisa hampir sampai di pintu utama.


Anisa menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menatap sang suami yang memanggilnya.


"Hati-hati, dan jangan pulang kemalaman!" ucapnya kaku, terdengar agak canggung, namun meskipun sangat berat mengatakan itu, Bimo berusaha membuang gengsinya dan mencoba mengutarakan apa yang ingin dia sampaikan saat ini.

__ADS_1


Anisa mengangguk, tanpa menjawab sepatah kata pun, dia sengaja bergegas mempercepat langkah nya menuju pintu dan keluar dari ruangan itu sesegera mungkin, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena merasa malu, di perhatikan sebegitunya oleh Bimo membuat Hati Anisa menghangat dan berbunga-bunga.


'Wait, dia bilang jangan pulang kemalaman, apa itu berarti dia akan menunggu ku di apartemen dan tidak ke rumah Viona?' Gumam Anisa tak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya itu padanya barusan.


Kembali Anisa mengingat-ingat dan mencerna ucapan suaminya, sepertinya memang dirinya tak salah dengar, dia meminta dirinya untuk pulang cepat, senyum Anisa pun mengembang lebar.


Anisa mulai menebak-nebak kalau perkataan suaminya itu merupakan bentuk perhatian Bimo terhadap dirinya, dan mungkin saja di mulai dari perhatian-perhatian kecil seperti itu, Anisa akan mempunyai peluang untuk mendapatkan hati Bimo.


'Ah sudahlah, sadarlah hati, jangan terlalu berharap!' Anisa menyadarkan hatinya untuk tidak terlalu berharap, karena ketika itu tidak seperti yang di harapkan akan membuat sakit hati yang teramat dalam.


**


"Ceria dan bersemangat sekali wajah mu pagi ini, apa karena akan bertemu dengan ku?" Goda Alan dengan percaya diri nya yang tinggi.


"Haishh,,, mana ada. Setiap hari aku selalu bersemangat, apalagi saat akan bekerja, agar energinya positif dan menghasilkan karya yang bagus," kelit Anisa memyembunyikan rasa bahagia yang sejak tadi membuat nya seakan mendapat mood booster di pagi hari karena perhatian Bimo.


"Baiklah, hari ini aku akan bertemu klien di luar, kamu aku tinggal di sini, silahkan bekerja dengan tenang dan nyaman," ujar Alan.


Anisa mengangguk, memang lebih tenang baginya jika bekerja hanya bersama timnya dari pada harus di tunggui oleh Alan di sana, bagaimana pun meski hubungan mereka telah lama berakhir, terkadang rasa marah itu suka datang begitu saja saat dirinya melihat wajah Alan.

__ADS_1


Kenangan buruk tentang bagaimana pria itu menghianati dirinya dengan berselingkuh bersama sahabat dekatnya sendiri menyisakan trauma yang sepertinya sulit di hilangkan, membuatnya tak percaya lagi dengan apa yang di namakan pertemanan, sehingga sampai sekarang Anisa tak pernah lagi mempunyai teman atau sahabat dekat akibat kejadian itu.


Terkadang Anisa ingin protes pada Tuhan atas semua yang di alami nya selama ini, seakan dirinya hanya mengalami kepahitan dalam urusan cinta dan tak pernah beruntung merasakan cinta yang tulus untuk dirinya.


__ADS_2