BENCI UNTUK MENCINTA

BENCI UNTUK MENCINTA
Wedding day


__ADS_3

Ingin rasanya Rama menghampiri mereka berdua dan menanyakan apa yang sedang mereka lakulan, namun saat mengingat si bos sontoloyo nya yang menyuruhnya untuk mengambil cincin di detik-detik acara pernikahan akan segera di mulai, membuat Rama mengurungkan diri untuk menghampiri Anisa dan Alan, karena bisaa di pastikan dirinya akan kehilangan pekerjaan jika sampai telat memberikan cincin nikah itu tepat waktu pada bosnya.


Rama memilih untuk pergi berlalu memalingkan pandangannya tak lagi melihat ke arah pasangan yang membuat hatinya merasa sedikit kesal, masih ada rasa cemburu di sana, namun Rama tak bisa berbuat banyak saat ini, tugas yang di berikan Bimo padanya bukan main-main, apalagi dirinya pun harus menjadi saksi pernikahan dari pihak Bimo saat pernikahan nanti.


Entahlah, Rama juga sampai tak habis pikir mengapa hal sepenting cincin perkawinan sampai bosnya itu abai, padahal Rama merupakan saksi bagaimana Bimo memperjuangkan cintanya pada Viona selama ini, lantas saat semuanya sudah berada di genggaman tangannya, Vimo seolah ogah-ogahan menikah dengan kekasih tercinta nya itu.


"Apa permainan cinta orang kaya seperti itu ya?" Gumam Rama seraya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum miris, saat di perjalanan ke apartemen Viona tempat di adakannya upacara pernikahan siri bosnya itu.


"Ah, lama sekali kau, hampir saja penghulu itu pulang karena terlalh lama menunggu mu,!" Bisik Bimo.


"Rama, kau ini bagaimana sih, bukannya sudah di tugaskan Bimo sejak seminggu yang lalu untuk mengambil cincin nya, malah ada acara lupa segala, hampir saja pernikahan ku batal karena keteledoran mu itu !" Maki Viona kesal.


Sementara Rama hanya bisa pasrah saja saat di jadikan tumbal dan kambing hitam atas keteledoran bosnya itu, Rama tau sepertinya Bimo memberi alibi dengan sengaja mempersalahkan dirinya karena tak ingin di persalahkan calon istrinya yang cemburuan dan posesif itu.


Prosesi ijab kabul nikah siri antara Bimo dan Viona akhirnya selesai di laksanakan, kini hanya tersisa orang tua Viona, dan Rama saja, sementara tpenghulu sudah pulang sejak acara berakhir tadi, memang tak ada lagi yang datang selain itu, saksi dari pihak Viona hanya kedua orang tuanya, sementara saksi dari pihak Bimo hanya di wakilkan oleh Rama sang asisten, tak ada lagi yang lain.


"Sorry Ram, apa kau marah gara-gara tadi? Nanti ku beri bonus tambahan karena sudah menjadi tameng ku tadi," cengir Bimo saat melihat wajah Rama seperti tak senang sambil mengotak atik ponselnya sejak tadi.

__ADS_1


"Tak apa bos, sudah biasa!" Jawab Rama tanpa megalihkan pandangannya pada layar ponselnya itu di balkon ruang tengah karena dia sedang menikmati rokok elektriknya.


"Lantas ada apa dengan wajah kusut mu itu?" Kepo Bimo.


"Aku tadi melihat Anisa sedang makan di mall dengan Alan, tapi dari tadi aku hubungi ponselnya tak bisa di hubungi, perasaan ku jadi tak enak, Alan itu berengsek, aku takut terjadi sesuatu pada Anisa," adu Rama pada Bimo yang langsung tersentak kaget saat mendengar aduan asistennya itu.


Wajah Bimo bahkan langsung menegang dengan kedua tangan yang langsung terkepal sempurna dan rahang yang mengras.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Bimo langsung merogoh ponselnya dari saku celana, mencari nama 'istri' di pencarian dan menghubunginya, namun sialnya apa yang di katakan Rama benar adanya, dia pun tak dapat menghubungi ponsel istri rahasia nya itu.


Bimo membuka sebuah aplikasi, lantas dia mulai melacak dimana keberadaan istrinya melaui nomor ponsel Anisa yang masih aktif namun tak kunjung bisa di hubungi.


"Ada apa bos?"Kaget Rama.


"Tak usah banyak tanya ayo ikut aku, kau hanya perlu mengangguk dan jangan protes jika aku mengatakan apa pun pada Viona!" Bimo menarik lengan kemeja Rama agar asistennya itu mengikuti langkahnya menuju ke dalam ruangan menghampiri Viona yang sedang bercengkerama dengan kedua orang tuanya.


"Viona, maaf. Aku harus mengurus sesuatu yang sangat penting dan tidak bisa di tunda, aku harus ke luar kota saat ini juga bersama Rama, ini sangat urgent, aku harap kamu mengerti." Tanpa menunggu persetujuan dari Viona Bimo langsung menarik paksa Rama yang terbengong-bengong agar segera keluar dari sana.

__ADS_1


"Ta-tapi sayang, ini hari pernikahan kita, mana bisa kamu meninggalkan ku begitu saja!" Protes Viona berusaha mencegah kepergian Bimo yang beberapa jamyang lalu sudah sah sebagai suaminya itu.


"Maafkan aku Vio, tapi ini benar benar penting dan menyangkut hidup dan mati ku, aku akan mengabari mu dan pulang secepatnya jika semua urusan sudah selesai." Bimo seakan tak bisa di tahan lagi kepergiannya oleh siapa pun, karena apapun yang Viona katakan tak dapat menghentikan langkah Bimo untuk pergi meninggalkan Viona di hari pernikahan mereka.


Viona tertegun bagaimana bisa tepat di hari pernikahannya yang seharusnya menjadi hari terbahagia bagi dirinya dan bimo, tapi pada kenyataannya Bimo malah pergi meninggalkannya hanya demi pekerjaan, dan keluar kota pula, bahkan mungkin Bimo juga akan melewatkan malam pengantin mereka.


Meski sebenarnya malam pengantin bagi mereka tak seistimewa pengantin yang lain karena kegiatan malam pengantin sudah biasa mereka lakukan selama ini, bahkan Bimo tak mempermasalahkan sama sekali saat pertama kali mereka melakukan hubungan suami istri Viona sudah tak virgin lagi saat itu.


Hanya saja di hari pertama mereka menjadi suami istri yang sah Viona ingin melewatinya berdua bersama Bimo memulai hari dengan menikmati status baru mereka.


Namun apa daya dirinya hanya bisa menelan kekecewaan karena ternyata dirinya dan pernikahan mereka tidak lebih penting dari pada pekerjaanya.


"Bos, ada apa ini, mau kemana kita sebenarnya?" Tanya Rama saat mereka kini berada di basemant apartemen hendak memasuki mobil mewah Bimo yang terparkir di sana.


"Kau boleh ikut dengan ku asal jangan banyak tanya, tapi kalau kira-kira kau terlalu banyak bertanya dan ingion tahu, lebih baik kau pergi dan aku pergi sendirian!" Bimo memasuki mobilnya dengan tergesa.


"Ta-tapi bos---Ahhh!" Kesal Rama yang pada akhirnya ikut masuk ke dalam mobil bosnya itu karena ternyata dirinya penasaran juga, hal apa sebenarnya yang menyebabkan bosnya itu sampai meninggalkan Viona di hari pernikahannya, karena seingatnya tak ada pekerjaan urgent apapun apalagi sampai ke luar kota, sungguh kelakuan bosnya itu sangat mencurigakan, pikir Rama.

__ADS_1


"Bos, kita benar-benar menuju arah ke luar kota?" Tanya Rama saat dirinya menyadari kalau bobil yang di kendarai Bimo semakin menjauh dari pusat kota, dan menuju ke perbatasan kota.


"Ya, bukankah tadi aku sudah mengatakannya saat berpamitan pada Viona kalau kita akanke luar kota," jawab Bimo asal, membuat Rama seakan malas bertanya lagi dan dia pun kembali duduk diam dan mengunci rapat mulutnya, tak berani bertanya apa pun lagi pada bosnya yang sejak tadi wajahnya terlihat tegang itu.


__ADS_2