Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Bercerita


__ADS_3

'Wanita yang aku kira Ishana, waktu itu," terang Sakya.


"Aku sangat penasaran dengan orang itu, kenapa kamu tidak mau menceritakan apa yang terjadi pagi itu?" tanya Isam menatap Sakya dengan wajah yang teramat penasaran.


"Kalian pasti akan kaget saat aku mengatakannya," sahut Sakya menatap satu per satu sahabatnya itu dengan serius.


Melihat ekspresinya yang seperti itu, semakin membuat rasa penasaran Isam dan Gamya kian meningkat.


"Siapa emangnya?"


"Lareina," sahut Sakya singkat, padat, dan jelas.


"Apa! Jangan bilang kalau itu si Larei dari trio judes," ucap Isam dengan mata melotot tak percaya.


Sakya mengangguk dengan yakin, Isam menatap Gamya begitu pun sebaliknya, mereka tentu saja tahu, siapa ketiga wanita itu.


Jika dulu mereka selalu jadi bahan pembicaraan para wanita-wanita di sekolah mereka karena rupa mereka yang lumayan di atas standar dan banyak dari wanita-wanita yang ingin berpacaran dengan mereka.


Namun, itu tidak berlaku bagi ketiga wanita itu, mereka justru selalu menampilkan wajah tidak ramah pada mereka, ketika mereka berpapasan, seolah mereka adalah musuh.


"Iya benar-benar dia, bahkan dia udah hancurin harga diri aku pagi itu!" geram Sakya ketika mengingat kembali apa yang terjadi, di pagi setelah mereka menghabiskan malam panas itu.


"Emang apa yang dia lakukan pada saat itu?" tanya Gamya penasaran.


Sakya pun mulai menceritakan apa yang terjadi padanya pagi itu, Isam yang mendengar cerita dari sahabatnya itu, sontak menyemburkan tawanya.


"Jadi si saki dia hajar tanpa ampun, bahkan dikatain barang rongsokan," ucap Isam dengan tawa puasnya.


Saki adalah panggilan Sakya untuk aset kebanggaannya itu.


Pria itu tidak memedulikan raut kesal dari sahabatnya, juga tatapan tajam yang seolah ingin menelannya itu. Apa yang Sakya ceritakan merupakan hal yang lucu teramat menurutnya.


"Terus aja tertawa," peringat Sakya sambil mengambil botol parfum miliki Isam yang ada di atas meja.


Siap untuk meluncurkan botol parfum itu pada si empu yang masih terus tertawa, hingga akhirnya sahabatnya itu pun berhenti tertawa karena tidak ingin babak belur oleh keganasan Sakya.


"Oke, oke, aku berhenti," ucap Isam dengan sisa-sisa tawanya.

__ADS_1


"Mungkin gak sih, kalau keanehan kamu itu memang ada hubungannya dengan Larei?" tanya Gamya sambil berpikir.


"Entahlah," sahut Sakya mengangkat bahunya acuh, tapi kemudian dia kembali ingat sesuatu lagi.


"Tapi, aku mulai merasa keanehan ini ketika aku tidak sengaja bertemu dengannya lagi, saat aku sedang makan siang dengan Ishana," sambung Sakya.


"Emang bisa ya, kayak gitu. Aku merasa itu adalah hal yang tidak mungkin," ucap Isam, tidak setuju dengan kemungkinan yang sahabatnya itu sebutkan.


"Iya juga sih," sahut Gamya yang jadi merasa ragu dengan apa yang dia ucapkan tadi.


"Kenapa tidak mungkin, itu mungkin saja. Mungkin dia meminta dukun untuk mengirimkan guna-guna padaku," ucap Sakya.


"Itu lebih tidak mungkin lagi kayaknya, sekarang jaman modern jarang orang yang akan percaya dengan dukun dan semacamnya," ucap Isam.


"Mungkin juga ini adalah karma untukmu dari Tuhan, dan isyarat agar kamu bisa segera bertaubat dan meninggalkan kebiasaan burukmu itu," ucap Gamya yang tidak terlalu Sakya hiraukan.


Aku yakin, jika dia mengguna-guna aku, hingga aku jadi seperti ini.


Sakya bermonolog dalam hatinya, dia yakin jika semua itu karena Larei yang mengguna-gunanya.


"Kamu juga Sam, kamu sebaiknya segera mengakhiri kebiasaanmu itu," ucap Gamya beralih pada Isam yang hanya memutar matanya.


"Aku hanya mengingatkan kalian saja," sahut Gamya berdecak kesal.


"Sudahlah, lupakan dulu masalah itu, sekarang kita makan dulu yuk. Penghuni di perutku sudah bersorak minta di isi," ucap Isam mengalihkan pembicaraan.


"Kalian makan berdua saja, aku mau pulang aja," ucap Sakya sambil bangun dari sofa, lalu memakai maskernya kembali.


"Kamu gak ikut kita aja makan bareng?" tanya Isam.


"Tidak, aku mau langsung istirahat," sahut Sakya lagi sambil berjalan pergi meninggalkan kedua sahabatnya itu.


Badannya terasa lemas, jadi dia memutuskan untuk istirahat di rumahnya saja, biar bisa tenang, karena kalau tetap di apartement sahabatnya, dia pasti tidak akan menemukan ketenangan.


Sakya mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, suasana kini sudah mulai gelap dengan jalan yang hanya disinari oleh lampu-lampu kendaraan yang berlalu lalang.


Selama di perjalanan itu dia terus memikirkan, tentang Larei, masih beranggapan jika wanita yang saat ini tengah mengandung anaknya itu telah mengguna-gunanya.

__ADS_1


"Benar, semenjak ketemu sama dia lagi, aku jadi seperti ini pasti memang ada hubungannya dengannya," gumam Sakya dengan kesal.


Tak lama kemudian, akhirnya mobilnya itu pun telah memasuki kawasan perumahan yang mewah, dengan rumah mewah dan megah berjejer di sepanjang jalan yang dilewatinya.


Dia memasukkan mobilnya itu ke gerbang yang telah terbuka, begitu kendaraan beroda empat miliknya yang mulai mendekati rumahnya.


Setelah mobilnya berhenti dengan sempurna, dia pun turun dari mobilnya itu dan memberikan kunci kendaraan pribadi itu, pada penjaga rumah untuk memasukkannya ke garasi.


Tidak lupa juga, dia membawa serta paperback kecil yang berisi obat dari rumah sakit tadi. Ketika memasuki rumah, dia langsung disambut oleh pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang wanita yang tidak lain adalah mamanya.


"Kamu ke mana aja, kenapa baru pulang, Papa kamu aja pulangnya udah dari tadi?"


"Sakya habis dari rumah sakit dulu Ma, terus mampir dulu bentar ke apartement Isam," ucap Sakya, menghentikan sejenak dirinya di depan mamanya itu.


"Terus gimana kata dokter, apa ada hal yang serius?" tanya Haira.


Mama dari pria itu menatapnya dengan serius, menanti jawaban darinya dengan khawatir.


"Sakya baik-baik saja Ma, kata dokter tidak ada masalah dengan kesehatanku," terang Sakya.


"Terus, kenapa kamu bisa merasakan hal-hal yang aneh itu?" tanya Haira masih dengan raut khawatirnya.


"Dokter juga tidak mengerti Ma, dia bilang jika dia baru kali ini menangani hal yang seperti ini," ucap Sakya mengangkat bahunya.


"Apa mau coba periksa ke rumah sakit lain?" saran Haira mengusap lengan anaknya itu.


"Tidak perlu Ma, toh aku juga tidak merasakan apa-apa lagi, hanya itu aja."


"Baiklah kalau gitu, oh iya kita makan malam dulu yuk," ajak Haira.


"Mama sama Papa makan duluan aja ya, Sakya mau istirahat dulu di kamar," tolak Sakya.


"Baiklah kalau gitu kamu istirahat dulu aja, Mama mau nemanin Papa makan," ucap Haira.


"Iya Ma."


Sakya mengangguk, dan setelah itu dia pun berjalan menuju ke kamarnya, tanpa mengganti baju atau pun membersihkan dirinya terlebih dahulu, dia langsung menjatuhkan dirinya ke kasur empuk yang besar miliknya.

__ADS_1


Dia memejamkan mata, berusaha tertidur dengan nyaman, meskipun tubuhnya terasa lengket oleh keringat


__ADS_2