
Larei segera mengembalikan ponsel yang tadi digenggamnya itu, ke tempat semula ketika mendengar kamar mandi yang sudah sepi, disusul oleh suara pintu terbuka.
Wanita itu kembali duduk di tepi ranjang, sambil memainkan ponsel miliknya, berusaha untuk bersikap tenang, meskipun hatinya terasa berkecamuk.
"Lagi apa?"
Larei mendongak, menatap Sakya yang kini tengah berdiri di depannya dengan sikap seperti biasanya, seolah tidak ada yang tengah dia sembunyikan darinya.
"Cuma balas chat dari Ivanka sama Tari aja," sahut Larei dengan wajah tenangnya seperti tidak ada yang mengganggu pikirannya.
Sakya mengangguk, dia kemudian berjongkok dan memberikan usapan serta kecupan di perutnya.
"Apa kabar anaknya Papa? Kamu baik-baik saja 'kan?"
"Baik, Pa." Larei mewakili calon anaknya menjawab ucapan Sakya itu.
"Baguslah kalau gitu, kalau Mamanya gimana?" Sakya mendongak menatap Larei.
"Aku baik-baik saja, kamu sendiri gimana? Apa kamu baik-baik saja!?"
Larei sengaja menanyakan hal itu dengan menekankan katanya, berharap pria itu akan peka dan mengatakan maksud dari apa yang dilihatnya barusan.
__ADS_1
"Aku selalu baik-baik saja, apalagi ketika berada di dekatmu," sahut Sakya sambil terkekeh.
"Pergilah pakai bajumu," ucap Larei sambil berdiri.
Entah kenapa tiba-tiba saja dia merasa kesal, mengingat jika pria itu masih berhubungan dengan Ishana, apalagi sampai mengirimkan uang untuknya.
Apalagi melihat pria itu yang terlihat biasa saja, seolah tidak ada yang tengah dia sembunyikan, membuat dia, rasanya ingin menanyakan tentang apa yang baru saja dilihatnya, tapi berusaha dia tahan.
"Baiklah, kalau gitu aku pakai baju dulu," sahut Sakya dengan tenang.
Pria itu sama sekali, tidak menyadari perubahan pada istrinya dan dengan santainya berdiri lalu melangkah memasuki ruang ganti.
Saat ini, dia bisa saja menanyakan masalah itu pada Sakya, tapi dia tidak yakin jika pria itu akan mengatakan yang sebenarnya.
Mengingat bagaimana akhir-akhir ini pria itu bersikap aneh seolah tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Hal itu embuat dia yakin, jika apa yang baru saja dilihatnya ada hubungannya dengan sikap aneh pria itu.
"Kalau itu pilihanmu, maka aku pun akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."
"Segigih kamu menyembunyikan kebenarannya dariku, maka segigih itu pula aku akan mencari tahu apa yang kamu sembunyikan itu."
__ADS_1
Larei sudah bertekad dalam hatinya, jika dia akan mencari tahu apa yang tengah berusaha Sakya sembunyikan darinya itu. Namun, dia memutuskan untuk bersikap seolah dia tidak tahu apa pun.
Meskipun dalam hati, dia takut, jika pikiran negatifnya menjadi nyata, tapi dia tidak mungkin hidup terus dalam kebohongan dan rasa penasaran.
Baginya lebih baik dia mengetahui kebenaran yang menyakitkan, daripada hidup dalam kebohongan dan rasa ingin tahu yang lambat laun akan menggerogoti hatinya.
Mau seperti apa nantinya, dia akan pikirkan lagi masalah itu, setelah dia mengetahui kebenarannya, meskipun kebenaran itu adalah Sakya yang mengkhianatinya.
Larei berjalan keluar dari dalam kamarnya, dia mencari nomor seseorang lalu menghubungi nomor itu.
"Halo, aku butuh bantuamu ...."
Larei berbicara sambil berjalan menuju sofa yang ada di ruang keluarga yang terletak tidak jauh dari kamarnya itu.
Di rumah itu memang memiliki dua ruang keluarga, satu di lantai bawah dan satu lagi di lantai atas yang berada di depan kamarnya.
Setelah sembungan telepon itu terputus, dia menyimpan ponselnya ke meja yang ada di depannya, lalu menyadarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Keluarga kita akan baik-baik saja 'kan, Nak," gumamnya diiringi helaan napas panjang, dengan tangan yang bergerak mengusap perutnya secara perlahan.
Saat ini dia tidak bisa gegabah, dia harus berhati-hati dalam bertindak agar tidak ada penyesalan di kemudian hari, entah pernikahan itu akan bertahan atau tidak, dia akan memikirkannya setelah mengetahui kebenaran yang sebenar-benarnya.
__ADS_1