Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Melahirkan


__ADS_3

Sakya yang melihat air yang tiba-tiba saja keluar dari balik dress yang Larei kenakan itu, sontak membulatkan matanya dengan lebar.


"Rei, kamu mau melahirkan?" tanyanya dengan gerakan cepat mendekati Larei dan merangkul tubuhnya.


"Bukannya, perkiraan dokter masih seminggu lagi!" lirih Larei yang sudah memegang tangan Sakya dengan erat.


"Ayo kita langsung ke ruang bersalin saja," ucap Sakya yang langsung membawa Larei dengan hati-hati.


Beruntung saat ini dia sudah berada di rumah sakit, juga sudah di sekitar ruangan tempat persalinan, jadi dia bisa mengurus administrasi setelah Larei di ruang bersalin nanti.


"Aku gimana, Sak."


Langkah Sakya langsung terhenti ketika mendapat cekalan dari belakangnya, dia langsung menengok dan melayangkan tatapan tajamnya.


"Urus urusanmu sendiri, bukankah aku sudah menurutimu tadi."


"Tapi, aku tidak mungkin pulang sendiri," ucap Ishana masih menggenggam pergelangan tangan Sakya dengan erat.


"Aku gak peduli, tadi aku udah nurutin mau kamu. Sekarang aku mau ngurusin istriku dulu!"


"Tapi–"


"Stop!" teriak Larei membuat Sakya segera mengalihkan kembali perhatian padanya.


"Kalian bisa lanjutkan, drama kalian itu nanti, aku udah gak tahan," ucap Larei dengan napas yang yang sudah tak beraturan.


"Sabar ya, tarik napas, terus keluarkan secara perlahan," ucap Sakya dengan segera menghempaskan tangan Ishana dan kembali membawa Larei pergi.


"Sus, tolong! Istri saya mau melahirkan," ucap Sakya ketika melihat suster yang tidak jauh dari posisinya.


Suster itu dengan sigap mengambil sebuah kursi roda, lalu membantu Larei untuk duduk dengan hati-hati sambil memberikan intruksi agar Larei mengatur napasnya.

__ADS_1


"Sakit, Sak!" Larei menggenggam tangan Sakya dengan erat.


"Sabar ya, kamu pasti bisa melewati ini dengan baik," ucap Sakya berusaha menenangkan, dia mengusap pipi Larei yang basah tanpa menghentikan langkah mereka.


Sementara itu, di belakang mereka Ishana menatap tajam ke arah mereka dengan tangan terkepal kuat.


"Apa saya boleh masuk, Sus?" tanyanya pada Suster ketika mereka sampai di depan ruangan bersalin.


"Anda bisa mengurus masalah administrasi terlebih dahulu, setelah itu anda bisa menyusul ke dalam," terang suster itu.


Sakya pun mengangguk patuh dengan ucapan suster itu, dia kemudian berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Larei.


"Kamu tunggu sebentar ya, nanti aku nyusul ke dalam," ucap Sakya dengan lembut.


"Iya, jangan lama-lama." Angguk Larei dengan lemah.


"Tidak akan lama kok."


Setelah diperiksa oleh dokter kandungan yang sudah ada di sana, ternyata Larei sudah mengalami pembukaan lengkap.


"Suami saya mana, Dok?" tanya Larei disela-sela mengedannya.


"Suami Ibu belum datang, mungkin belum selesai mengurus administrasi," sahut Dokter itu dengan ramah.


"Kalau tidak merasa ingin mengedan, jangan dipaksakan ya, tahan aja dulu."


Larei hanya mengangguk, sambil menarik napas dan mengeluarkannya secara perlahan.


Beberapa menit kemudian, Sakya kembali datang, dia segera berdiri di samping Larei menggenggam tangan Larei.


"Kamu ke mana aja sih, lama banget gak tau apa aku udah mules dari tadi," omel Larei.

__ADS_1


"Maaf, tadi aku ngurus administrasi dulu," ucap Sakya dengan napas yang terengah-engah.


Dia berlari untuk sampai ke meja tempat mengurus administrasi dan kembali lagi ke sana dengan lari, hingga dia hampir kehabisan napas.


"Ayo coba ngeden lagi, Bu." Intruksi dokter yang langsung Larei turuti.


Sementara Sakya, mendaratkan beberapa kecupan di keningnya yang sudah dibasahi oleh keringat itu, tidak lupa juga kata-kata penyemangat untuk Larei yang terus diucapkan di samping telinga wanita.


"Akhhhhh! Huh huh!"


"Kenapa lama banget, sih anak kamu keluarnya," ucap Larei dengan napas tak beraturan.


"Sebentar lagi dia juga pasti keluar," ucap Sakya dengan sabar.


"Semua ini gara-gara kamu, akhir-akhir ini bikin aku kesal jadi aku lahiran sekarang, padahal belum waktunya, seharusnya dia lahir 10 harian lagi." Larei terus menggerutu sambil berusaha mengatur napasnya.


"Iya, semua salah aku, maafkan aku ya Sayang. Nanti setelah anak kita lahir, kamu bisa menghukum aku sepuasnya."


Sakya mengangguk-nganggukkan kepalanya, dengan sebelah tangan digenggam dengan erat oleh istrinya itu, sedangkan satu tangannya mengusap pucuk kepala Larei.


"Aku pasti akan menghukummu, akhhhhh!"


Sakya kembali mengangguk patuh mendengar ucapan dari wanita yang saat ini tengah berjuang untuk melahirkan anaknya itu.


Dia dapat melihat raut kesakitan yang begitu kentara dari wajah Larei, hal itu membuatnya merasa sedih. Dia yakin wanita itu terus berbicara, untuk mengalihkan rasa sakit yang saat ini tengah dirasakannya.


Melihat perjuangan Larei saat ini, dia semakin merasa sedih karena dia membuat wanita itu menangis beberapa saat lalu, sedih karena dia mengecewakan wanita yang tengah berjuang antara hidup dan mati itu.


Bunyi nyaring dari tangisan yang baru saja menghirup udara itu, membuat Sakya mengucapkan syukur yang tiada henti dalam hatinya.


"Anak kita telah lahir, Sayang. Terima kasih untuk perjuanganmu," ucap Sakya dengan penuh rasa haru ketika anaknya itu telah dokter simpan di dada Larei.

__ADS_1


Larei menatap anaknya dengan lembut, dia kemudian mengusap pipi kemerahan itu dengan sangat hati-hati menggunakan jari telunjuknya.


__ADS_2