
"Kalau kamu tetap bersikeras tidak mau memgakui anak ini, maka jangan salahkan aku kalau aku menemui keluargamu dan keluarga istrimu, termasuk istrimu sendiri dan mengatakan semuanya pada mereka!" Ishana menatap Sakya dengan tajam.
Sakya yang sudah berdiri dengan jarak beberapa langkah dari meja tempat mereka sebelumnya, menatap Ishana dengan rahang mengeras.
Tangannya terkepal dengan kuat, bahkan buku-buku tangannya sampai memutih, disertai urat-urat tangannya yang tampak menonjol.
"Semua keputusan ada di tanganmu, akui anak ini adalah anakmu dan aku akan bersikap baik ... atau kamu bisa tidak mengakuinya, tapi itu artinya kamu harus siap untuk kehilangan istri dan calon anakmu yang lain juga."
Sakya mengerang frustasi, ketika ancaman dari Ishana itu terus terngiang-ngiang dalam kepalanya.
Wanita itu mengancam akan membeberkan tentang kehamilannya, juga tentang kejadian malam itu pada keluarganya juga pada mertuanya, termasuk pada Larei.
Dia tidak mungkin membiarkan mereka tahu, apalagi Larei. Hubungan dia dan istrinya baru saja membaik, dia baru saja merasakan rasanya pernikahan normal dengan Larei dan tidak mungkin merusak semua itu.
Namun rasanya, kini dia semakin tidak tahan dengan sikap Ishana yang seenaknya saja, bahkan wanita itu beberapa jam lalu meminta uang padanya dengan alasan untuk kebutuhannya.
"Aku bisa gila kalau gini terus!" geramnya tertahan sambil meremas rambutnya.
Tak lama kemudian, dia menghela napas sedalam-dalamnya, setelah itu dia menegakkan tubuhnya, melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah menunjukan waktu untuk pulang bekerja.
Sakya bangun dari kursi dan mulai membereskan barang-barangnya, dia harus segera pulang agar bisa bertemu dengan istrinya dan bisa membuat dia sedikit lebih tenang.
"Tuan, apa anda sudah mau pulang?" tanya Dendra yang baru saja keluar dari ruangannya.
"Iya, aku mau pulang sekarang," sahut Sakya menghentikan sejenak langkahnya di hadapan asistennya itu.
"Maaf, tapi ini ada berkas yang harus anda periksa," ucap Dendra menunjukkan sebuah map yang ada di tangannya.
"Apa itu harus aku periksa saat ini juga?" tanya Sakya.
"Itu terserah anda, Tuan. Anda juga bisa memeriksanya nanti di rumah."
__ADS_1
"Baiklah, kalau gitu aku bawa saja ke rumah." Sakya mengambil alih berkas di tangan Dendra itu.
"Iya, Tuan."
"Ya udah, aku pulang duluan."
"Baik, Tuan. Selamat jalan," Sahut Dendra dengan sedikit membungkuk.
Sakya mengangguk singkat, lalu melanjutkan kembali langkanya memasuki lift untuk sampai ke lantai dasar bangunan itu.
******
Sakya memasuki rumahnya dan menanyakan keberadaan istrinya pada Mala, asisten rumah tangganya yang sekaligus akan menjadi babysitter untuk anaknya nanti ketika telah lahir.
"Nyonya sedang bersantai di gazebo, Tuan."
Sakya mengangguk singkat, mendengar jawaban dari Mala itu, dia memutuskan untuk tidak menadatangi istrinya terlebih dahulu, tapi dia akan membersihkan diri dulu.
Sementara itu, di lantai satu. Tak lama setelah dia memasuki kamar, Larei memasuki rumah dengan cangkir kosong di tangannya.
"Sakya udah pulang Mbak?" tanya Larei pada Mala yang baru saja berbalik akan pergi ke dapur.
"Sudah, Nyonya. Tadi Tuan langsung ke kamar," sahut Mala.
"Oh, pantesan tadi aku dengar mobilnya."
"Biar saya simpan cangkirnya ke belakang," tawar Mala.
"Oh iya ini, makasih ya Mbak." Larei menyerahkan cangkir kosong yang tadi dipakainya untuk teh itu pada Mala.
"Iya sama-sama."
__ADS_1
Setelah itu, Mala pun pergi menuju ke dapur. Sedangkan Larei menaiki tangga menuju ke kamarnya, mencari keberadaan suaminya.
Ketika memasuki kamar itu, dia tidak mendapati suaminya dan hanya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Karena tahu, jika suaminya pasti tengah mandi, wanita hamil itu pun mendudukkan dirinya di pinggir ranjang, dengan kaki berselonjor, sambil mengusap perutnya.
Suara getaran dari nakas yang berada di sampingnya, membuat perhatiannya teralihkan pada asal suara itu, karena takut ada hal yang penting dia pun mengambil benda pipih yang kini tengah bergetar, pertanda ada telepon yang masuk.
Melihat nomor tanpa nama yang menghubungi suaminya, tanpa pikir panjang, Larei pun mendial logo panggilan berwarna hijau dan menyimpan ponselnya di telinganya.
"Halo!"
Larei mengerutkan kening, karena hanya ada keheningan di ponsel itu, dia melihat layar ponsel, apakah telepon itu masih terhubung atau tidak.
"Halo, maaf ini siapa ya?" ucapnya karena masih belum mendapatkan sahutan dari seberang sana.
Tak lama kemudian, terdengar nada sambungan telepon terputus, membuat Larei heran dan menganggap itu hanya panggilan main-main saja.
Dia berniat akan menyimpan ponsel itu kembali, pada tempatnya semula. Namun, sebuah notifikasi di layar utama membuat niatnya itu urung.
Dia membuka kunci ponsel itu, lalu melihat notifikasi yang menganggu itu lebih detail. Matanya menyorot tajam, ketika membaca isi keseluruhan notifikasi itu.
"Ishana Deandra."
Larei mengeja nama yang tertera sebagai pemilik akun bank yang baru saja mendapat kiriman uang dari akun bank atas nama Sakya.
Dia tentu saja tahu dengan jelas nama itu, meskipun dia hanya tahu nama depannya saja, tapi dia yakin, jika itu nama dari orang yang sama.
"Untuk apa Sakya mengirimkan uang padanya? Dan apakah selama ini mereka masih berhubungan?" tanya Larei pada dirinya sendiri.
Bukan cuma itu, nominal yang Sakya kirimkan pada akun atas nama itu lumayan besar, hingga menghadirkan kian banyak pertanyaan dalam benaknya.
__ADS_1
Pikiran-pikiran negatif pun mulai berdatangan, tentang suaminya dan wanita yang dulu selalu menghubungi pria itu, di awal-awal pernikahan mereka.