
"Shhh, aw!"
Sakya yang tengah serius melihat acara di televisi sambil bersandar pada sandaran ranjang, segera mengalihkan perhatian pada Larei yang meringis.
"Kenapa? Apa perutnya sakit?" tanyanya karena melihat Larei yang tengah memegangi perutnya, sambil meringis itu.
Bukannya menjawab apa yang suaminya pertanyakan, Larei malah menatapnya sambil tersenyum. Kemudian dia mengambil tangan Sakya dan mengarahkan ke perutnya.
"Apa kamu bisa merasakannya juga?" tanya Larei dengan wajah yang berbinar.
Sakya yang dapat merasakan permukaan perut Larei yang bergerak itu, mengangguk antusias dengan wajah berbinar pula. Anaknya yang saat ini tengah berada di perut Larei tengah bergerak dengan aktif.
"Ini pertama kalinya dia bergerak dengan begitu aktif, biasanya hanya gerakan-gerakan halus, aku sampai sedikit kaget tadi."
Larei menjelaskan keadaannya dengan tangan yang mengusap perutnya secara perlahan dan hati-hati, matanya menatap lurus Sakya yang masih senang tiasa mengusap perutnya juga dengan raut bahagianya.
"Benarkah," sahut Sakya beralih menatap Larei.
Larei mengangguk sebagai jawaban, tak lama kemudian Sakya pun kembali menunduk, dia menyapa anaknya yang kini sudah tidak bergerak itu.
"Sehat selalu ya, Nak. Mama sama Papa nungguin kamu di sini. Tinggal beberapa bulan lagi kita akan bertemu."
Larei terdiam mendengar obrolan Sakya dengan calon anaknya itu, seutas senyum terbit di bibirnya melihat Sakya yang terlihat sangat menantikan kehadiran anak mereka.
Keraguan dalam dirinya agar membuka hati untuk Sakya, secara perlahan mulai tergoyahkan oleh sikap dan prilaku Sakya belakangan ini.
Pria itu benar-benar melakukan ucapannya, menunjukkan cintanya dengan hal-hal kecil dan sederhana. Namun, itu bisa membuat Larei merasa menjadi wanita yang istimewa.
Sakya mengangkat kembali wajahnya, menatap intens mata Larei yang tengah menatapnya pula.
"Bolehkah aku menciumnya?" tanyanya meminta persetujuan.
__ADS_1
Ini adalah pertama kalinya dia bisa berbicara dengan calon anaknya, juga dapat merasakan pergerakan dari dalam sana karena sebelumnya dia memang jarang menyentuh perut Larei karena takut istrinya tidak suka, jadi dia hanya bisa menyentuh perutnya ketika Larei tengah terlelap.
Larei mengangguk sebagai jawaban, mendapat lampu hijau, Sakya pun langsung melakukan apa yang diinginkannya. Dia beberapa kali memberikan kecupan, di permukaan perut istrinya yang terbalut oleh baju tidur berbahan satin itu.
"Terima kasih, karena dulu kamu memutuskan untuk mempertahankannya." Sakya menatap Larei dengan dalam.
Dia merasa senang, karena ketika tahu hamil, wanita di depannya itu memutuskan untuk mempertahankan anak mereka, meskipun hadirnya jabang bayi itu akibat dari buah kesalahannya.
Tangannya bergerak membereskan anak rambut yang menghalangi sebagian wajah Larei dan menyampirkannya ke belakang telinganya.
"Tidak ada alasan untukku tidak mempertahankannya, meskipun saat itu aku belum siap. Namun aku sadar, dia pun memiliki hak untuk hadir di dunia ini," sahut Larei dengan tatapan terpaku pada bola mata.
Mendengar hal itu, Sakya merasa terenyuh, dia merasa beruntung karena dia tahu tentang kehadiran anaknya itu, hingga dia bisa menikahi Larei, wanita yang secara perlahan dicintainya.
Keraguan dalam dirinya akan perasaannya terhadap Larei, kini sudah terjawab. Dia dengan yakin mengakui, jika saat ini dia sudah mencintai wanita di depannya, istrinya, calon ibu dari anak-anaknya kelak.
Untuk beberapa saat tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara pasangan itu, Sakya masih mendaratkan kedua tangannya di kedua pipi Larei, memberikan usapan dengan lembut.
Beberapa detik kemudian, Sakya mendaratkan bibirnya di bibir Larei, awalnya hanya sebuah kecupan, tapi lama kelamaan berubah menjadi ******* halus.
Sakya melakukannya dengan penuh kelembutan, membuat Larei ikut terhanyut dalam permainannya itu, dalam hati dia merasa senang karena Larei tidak menolak, malah membalasnya.
Satu tangan Sakya menahan tengkuk Larei memperdalam cium*n itu, sedangkan satu tangannya kini audah turun ke pinggang, memeluknya dengan posesif dan sesekali memberikan usapan lembut di pinggangnya itu.
Sementara itu, kedua tangan Larei kini sudah melingkar di leher Sakya, mengusap leher bagian belakangnya dan meremas rambut pria itu dengan mata terpejam.
Entah berapa menit mereka terus berperang lidah, saling memebelit dan memangut, hingga Sakya langsung menghentikan kegiatannya itu, setelah sadar jika Larei hampir kehabisan napas.
Mereka menghirup udara sebanyak-banyaknya, ketika permainan itu usai, Sakya mengusap bibir Larei yang basah oleh saliva mereka.
"Tidurlah ini sudah malam," ucap Sakya dengan suara lembut.
__ADS_1
"I–iya." Angguk Larei dengan gugup.
Dia seolah baru tersadar dari apa yang mereka lakukan itu, hingga membuat dia merasa gugup dan tidak berani menatap Sakya lagi. Dia hanya menunduk, menghindari kontak mata dengan Sakya,
Melihat Larei yang terlihat canggung seperti itu, membuat Sakya mengulum senyum. Dia kemudian mengapit dagunya dengan lembut membuat Larei mendongak, hingga tatapan mereka kembali bertemu.
"Kenapa?" Sakya pura-pura tidak mengerti apa yang terjadi pada Larei.
"Tidak, kenapa-napa." geleng Larei.
"Baiklah, ayo kita tidur."
Larei mengangguk dan mulai merebahkan tubuhnya, begitu pun dengan Sakya yang melakukan hal yang sama dengannya, dia mematikan televisi terlebih dahulu dengan remot yang berada di nakas.
Kini jadilah, mereka tidur dengan posisi saling berhadapan, Sakya beringsut merapatkan tubuhnya dengan Larei, lalu menarik wanita itu ke dalam dekapannya.
"Selamat malam," ucapnya sambil mendaratkan kecupan hangat di kening Larei.
"Iya, selamat malam juga." Angguk Larei dengan wajah terbenam di dada Sakya.
Dia memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh Sakya yang memenuhi indra penciumannya.
Nyaman … Itulah yang selalu dirasakannya ketika dalam posisi seperti itu. Berada dalam hangatnya dekapan Sakya, dia merasa nyaman dan lebih rileks, tidak ada lagi perasaan risih dan sebagian ketika di posisi itu seperti sebelumnya.
Sakya turut memejamkan mata dengan tangan yang memeluk Larei dengan posesif, dia merasa bahagia karena akhir-akhir ini Larei tidak lagi memasang tembok yang kokoh untuknya.
Dia berharap, ini adalah awal dari hubungan yang akan semakin membaik, dia berharap istrinya itu bisa memiliki perasaan yang sama dengannya. Namun, bila Larei tidak memiliki perasaan itu, dia akan dengan senang hati menunggu hingga perasaan itu hadir.
"Meskipun nanti cinta ini tak terbalas, cukup kamu berada di sampingku seperti ini. Maka bagiku itu lebih dari cukup."
"Dengan hadirnya kamu, adalah sebuah kebahagiaan untukku dan aku harap, aku pun bisa memberikan kebahagiaan untukmu, meskipun aku tidak bisa menjanjikan hal itu."
__ADS_1
Sakya menatap wajah tenang Larei yang berada di dadanya, dia kemudian memberikan beberapa kecupan di keningnya, setelah itu dia pun mulai menyusul Larei mengarungi mimpi.