
Saat waktu baru menunjukkan pukul dua dini hari, tidur Larei terganggu karena suara rintihan seseorang. Dia mendudukkan dirinya, melihat ke sampingnya.
"Sak, kamu kenapa?" tanyanya, tapi tidak mendapatkan sahutan dari suaminya, hanya terdengar rintihan dari pria itu.
Dia kemudian turun dari ranjang dan berputar ke arah tempat Sakya tidur, keningnya mengerut saat melihat tubuh Sakya yang tampak menggigil.
Secara perlahan, dia pun berjongkok di sampingnya, lalu menyentuh kening pria itu. Merasakan suhu tubuh Sakya yang begitu panas, matanya terbelalak kaget.
"Dia demam," gumamnya terbesit kekhawatiran dalam hatinya.
"Sakya bangun dulu, ayo kita ke ranjang biar lebih nyaman," ucapnya berusaha membangunkan Sakya, sambil melepaskan selimut dari tubuh Sakya.
"Sakya," panggilnya lagi, sambil menepuk pipinya secara perlahan.
Secara perlahan mata Sakya terbuka, dia menatap Larei dengan sayu dan mata merahnya.
"Ayo pindah dulu ke ranjang, agar kamu lebih nyaman," ucap Larei dengan lembut.
Dia berusaha membantu Sakya untuk bangun, hingga pria itu pun mulai berdiri, lalu kembali mendudukkan dirinya di ranjang.
Beruntung tempat tidur pria, tepat di samping ranjang. Hingga dia tidak perlu berjalan untuk menaiki ranjang.
Setelah itu dia keluar dari kamar, dia ingat jika di dapur ada tempat penyimpanan obat. Dia berencan mencari obat demam, berharap dengan itu bisa menyembuhkan demam suaminya, tapi ternyata, di sana ada beberapa obat untuk demam, membuat dia jadi bingung.
"Sedang apa Rei?"
Larei yang tengah serius melihat-lihat obat, langsung menengok ke arah suara yang bertanya padanya.
"Sakya demam Pa," sahutnya pada mertuanya.
"Aku lagi nyari obat untuknya, saat ini tidak bisa menghubungi dokter karena masih sangat larut malam," sambungnya lagi.
Fahar mengangguk paham, dia kemudian mendekat pada tempat obat itu, sedangkan Larei menggeser tubuhnya membiarkan mertuanya mengambil obat.
"Ini obat yang biasa dia minum kalau lagi demam, biasanya kalau minum obat ini dia langsung mendingan," ucap Fahar memberikan satu strip obat pada Larei.
"Baiklah akan aku berikan langsung padanya," sahut Larei sambil mengambil alih obat di tangan mertuanya.
"Papa, sedang apa?" tanya Larei.
__ADS_1
"Papa mau ngambil minum," sahut mertuanya.
"Oh, ya udah kalau gitu aku ke kamar lagi, Pa."
"Iya, pergilah," sahut Fahar mengangguk.
Larei pun kembali ke kamarnya, tapi sebelum itu dia mengambil air terlebih dahulu, karena di kamarnya tidak ada air minum.
Ketika sampai, dia mendudukkan dirinya di samping Sakya yang masih memejamkan mata dengan erat, tapi tubuhnya menggigil.
"Sak, minum dulu obatnya." Dia kembali menepuk pipi Sakya dengan pelan untuk membangunkannya.
Sakya kembali membuka matanya, Larei pun dengan sigap membantunya untuk duduk terlebih dahulu.
Setelah itu dia memberikan obat yang telah dia keluarkan dari cangkangnya, beserta air minumnya. Sakya menerima obat itu tanpa bersuara lalu meminum air putih hingga gelasnya kosong.
"Sekarang tidurlah lagi," ucap Larei sambil membantunya untuk kembali tidur.
Sakya kembali memejamkan matanya, Larei kemudian berdiri dan menyimpan gelas itu ke nakas.
Larei memastikan Sakya tidur dengan nyaman dan memakaikan selimut hingga ke leher. Dia kemudian membereskan bekas tidur pria itu, lalu memasukkannya ke ruang ganti.
Dia berusaha melepaskan diri dari Sakya, karena suhu tubuh pria itu benar-benar panas dan itu membuatnya tidak nyaman, tapi suara lemah dari Sakya menghentikan gerakannya.
"Biarkan seperti ini Rei, tolong usap rambutku," ucapnya dengan nada lemah, tatapan matanya yang sayu membuat Larei tidak tega untuk menolaknya.
"Baiklah, tapi kamu harus tidur lagi." ucap Larei dengan pasrah berbalik hingga mereka saling berhadapan.
Sakya semakin mengeratkan pelukannya, mencari posisi yang nyaman hingga dia menenggelamkan kepalanya di dada Larei.
Meskipun risih dengan posisi seperti itu, tapi Larei hanya bisa menghela napas dengan pelan, menenangkan dirinya jika saat ini pria itu tengah sakit, jadi dia harus bersabar.
"Usap kepalaku Rei," ucap Sakya lagi yang nyaris seperti bisikan.
Secara perlahan, Larei pun mulai menggerakkan tangannya, menuruti keinginan pria itu dan mengusap rambutnya yang hitam dan tebal itu.
Hawa panas dari tubuh Sakya, membuat tubuh Larei terasa panas juga, tapi dengan telaten dia terus mengusap rambut Sakya hingga napas pria itu kembali teratur.
Secara perlahan, rasa kantuk pun mulai menyerang Larei kembali, hingga akhirnya secara perlahan dia pun menyusul Sakya ke alam mimpinya dengan posisi yang masih sama.
__ADS_1
...*******...
Larei mengerjakan matanya beberapa kali, tubuhnya tidak dapat bergerak dengan bebas karena belitan di pinggang, serta beban di dadanya.
Ketika melihat ke arah dadanya, wajah suaminya yang masih dalam buaian itu, membuat dia lagi dan lagi kembali menghela napas.
Rasa panas yang sebelumnya menyentuh kulitnya kini sudah berkurang, digantikan oleh rasa lengket dan basah akibat keringat yang keluar dari tuguh Sakya.
"Sak, sesak nih, perut aku juga keram karena terlalu lama kamu peluk," ucap Larei berusaha membangunkan pria itu.
Sakya bergumam, mengucapkan maaf kemudian mulai melepaskan dirinya dari Larei dan menjauh dengan mata yang masih terpejam.
Larei akhirnya bisa bernapas lega karena bisa terlepas dari Sakya, dia kemudian mulai mendudukkan dirinya dan meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, juga mengusap perutnya yang sedikit keram.
Karena hari sudah pagi, dia pun turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi, membersihkan diri, setelah itu turun ke bawah tanpa membangunkan Sakya.
"Pagi, Ma. Pa." Larei mendudukkan dirinya sambil menyapa kedua mertuanya yang sudah siap untuk sarapan.
"Pagi, Nak. Kata Papa, Sakya sakit?" tanya Haira dengan wajah khawatirnya.
"Iya, Ma. Tapi semalam udah aku kasih obat dan sekarang udah agak mendingan," sahut Larei menenangkan mertuanya itu.
"Syukurlah kalau gitu, sekarang kamu sarapan dulu saja, apa kamu akan ke butik?"
"Tidak, Ma. Aku mau di rumah aja hari ini, biar bisa ngurusin Sakya," sahut Larei menghadirkan senyum di wajah Haira.
"Baiklah kalau gitu, tadinya kalau kamu mau ke butik tidak apa-apa. Biar mama yang ngurusin Sakya."
"Tidak perlu repot-repot Ma, biar aku aja yang ngurusin Sakya," sahut Larei tersenyum.
"Ya udah kalau gitu." Angguk Haira.
"Sekarang sarapanlah dulu, tadi mama udah minta bibi untuk membuat sup untuk Sakya. Biasanya kalau lagi sakit, dia suka makan sama sup."
"Iya makasih, Ma." Angguk Larei.
Mereka pun memulai sarapan dengan tenang, bagitu pun dengan Fahar yang dari tadi sudah sibuk dengan sarapannya, tidak ikut berbincang dengan istri dan menantunya karena dia harus segera berangkat ke kantor.
Ketika selesai sarapan, Larei meminta sup yang sudah selesai dimasak oleh art di sana, lalu membawanya ke kamar untuk langsung diberikan pada Sakya, agar pria itu bisa minum obat lagi.
__ADS_1