Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Pertanyaan Aneh Sakya


__ADS_3

Suara ketukan di pintu kamar Larei dan Sakya, membuat Larei yang semula tengah duduk di ranjang sambil berbalas pesan dengan kedua sahabatnya yang ingin bertemu, menjadi terhenti.


Dia melangkahkan kakinya ke arah pintu dan membukanya, ternyata itu adalah mertua perempuannya yang menanyakan keberadaan Sakya.


"Gimana Sakya, apa udah mendingan?"


"Sekarang udah agak mendingan Ma," sahut Larei tersenyum.


"Baguslah kalau gitu." Haira tersenyum dengan lega.


"Masuk, Ma." Larei sengaja membuka pintu kamarnya dengan lebar, agar mertuanya itu bisa masuk.


Haira mengangguk, lalu mulai memasuki kamar dan berdiri di samping ranjang, tepat di samping Sakya yang ternyata sudah membuka matanya.


Sementara Larei duduk di sisi lainnya di ranjang itu, dengan posisi menghadap ke arah Sakya.


"Gimana kabarmu?" tanya Haira pada anaknya.


"Udah baikan Ma," sahut Sakya dengan suara yang masih parau.


"Baguslah, tadinya mama mau bawa kamu ke rumah sakit kalau kamu masih belum mendingan juga."


"Aku hanya demam Ma, minum obat juga sudah cukup untuk apa ke rumah sakit."


"Bagus deh kalau kamu tidak merasakan hal apa pun lagi."


Sakya merubah posisinya menjadi duduk, dia kemudian mengangguk singkat mendengar ucapan mamanya itu.


"Sebentar lagi waktunya makan siang, Rei. Kita makan siang di bawah ya," ucap Haira beralih menatap Larei.


"Iya, Ma." Angguk Larei.


"Ya udah, kalau gitu mama ke bawah duluan ya," pamit Haira.


"Iya, Ma. Bentar lagi aku nyusul ke bawah," sahut Larei.


Haira mengangguk, lalu berbalik dan pergi dari kamar, ketika meninggalkan kamar, dia tidak lupa menutup pintu kamar itu.

__ADS_1


"Aku ikut makan di bawah ya, bosen juga diam terus di kamar," ucap Sakya.


"Tapi badan kamu gimana?"


"Aku udah mendingan, cuma masih agak lemes aja, nanti kamu bisa 'kan bantu aku berjalan."


"Ya udah, sekarang aja kalau gitu. Bentar lagi juga waktunya untuk makan siang," ucap Larei yang kembali berdiri dan memutari ranjang.


"Ayo, tapi aku mau ke kamar mandi dulu."


Larei mengangguk, lalu mulai memapah Sakya untuk berjalan ke arah kamar mandi, dia membiarkan suaminya itu berjalan memasuki kamar mandi dengan langkah pelan, sedangkan dirinya menunggu di depan pintu.


Tidak membutuhkan waktu lama, pria itu keluar dari kamar mandi dan mereka pun menuju lantai bawah dengan langkah yang sangat hati-hati.


"Sekarang usia kandunganmu udah empat bulan 'kan?" tanya Sakya memulai percakapan di tengah perjalanan mereka.


"Lebih," sahut Larei singkat.


"Hemmmm, apa dia baik-baik saja?"


"Tentu."


"Tidak ada."


"Baguslah kalau gitu," ucap Sakya dengan mengangguk.


Sakya menghirup udara sebanyak-banyaknya, ketika hidungnya mencium aroma tubuh Larei, aroma vanila yang bercampur dengan wangi mawar, membuat dia merasa tenang ketika menciumnya.


Karena saat ini jarak mereka sangat dekat, bahkan menempel karena Larei yang memapah dirinya, dia jadi bisa menghirup aroma yang selalu disukainya itu.


Bahkan semalam, ketika dia memeluk tubuh Larei dan menghirup aromanya selama itu, membuat dia yang semula tidak tenang menjadi lebih tenang dan rileks.


Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan hadir dalam benaknya, apakah dia dan Larei akan bisa bersama selamanya dan saling mencintai. Seperti cerita romansa dalam film, dimana si pemeran utama yang menikah karena terpaksa, tapi pada akhirnya mereka saling mencintai dan hidup bahagia.


Seandainya dia bisa mengatur plot hidupnya sendiri, mungkin dia akan membuat Larei mencintanya begitu pun sebaliknya.


Cinta? Apakah dia sudah mulai mencintai wanita yang saat ini berada di sampingnya itu, entahlah. Dia sendiri pun tidak jelas dengan perasaannya, tapi yang pasti, saat ini pria itu merasa nyaman berada di dekat Larei, merasa senang melihat wanita itu tersenyum, meskipun bukan untuknya.

__ADS_1


"Rei, bagaimana kalau aku memiliki perasaan padamu?"


Mendengar pertanyaan itu, secara refleks Larei menghentikan langkahnya yang secara otomatis, langkah Sakya pun terhenti dan dia langsung menatap Larei.


Larei pun menatapnya, hingga akhirnya mereka saling menatap satu sama lain dengan jarak yang sangat dekat, bahkan mereka dapat merasakan hembusan napas mereka menerpa permukaan kulit wajah mereka.


Untuk beberapa saat, tidak ada pergerakan ataupun suara di antara pasangan itu, mereka hanya diam dengan tatapan yang masih terkunci satu sama lainnya.


Larei akhirnya memutus kontak di antara mereka dan kembali melanjutkan langkahnya yang baru sampai di anak tangga paling bawah itu, dia tidak mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan Sakya.


Semudah itu dia membicarakan tentang perasaan, apa dia pikir itu adalah hal yang main-main apa. Gumam Larei dalam hatinya.


Dia memang menganggap apa yang Sakya bicarakan itu, hanyalah omong kosong belaka. Bukan tanpa alasan dia beranggapan seperti itu, karena mereka dari dulu tidaklah dekat dan waktu pernikahan mereka pun baru hitungan jari.


Jadi rasanya sulit dicerna, jika Sakya menanyakan hal seperti itu. Terlebih lagi sikapnya yang tidak terlalu baik pada pria itu, benar-benar jauh berbeda dengan wanita-wanita yang selama ini menjadi wanitanya.


Melihat reaksi Larei yang seperti itu, Sakya paham, jika tidak wanita itu akan mempercayai atau menganggap ucapannya itu. Jadi akhirnya, dia memilih diam kembali.


Mereka akhirnya sampai di meja makan, Larei dengan telaten membantu Sakya untuk duduk di kursi, setelah itu dia duduk di sampingnya.


"Kok kamu turun, Sak?" tanya Haira menatapnya dengan heran.


"Aku bosen di kamar terus, Ma."


"Oh." Angguk Haira paham.


"Papa gak pulang dulu?" tanya Sakya.


"Tidak, dia sibuk katanya. Kita mulai aja makannya, keburu makanannya dingin."


Sakya dan Larei pun mengangguk mendengar ucapan Haira, Larei mulai menyiapkan makanan untuk Sakya terlebih dahulu sebelum untuknya.


"Apa kamu bisa makan sendiri?" tanya Larei.


"Bisa, tapi kalau kamu mau nyuapin aku, boleh kok," sahut Sakya dengan tersenyum.


"Manja banget sih, Sak. Udah sembuh juga, makan sendiri aja. Larei juga harus makan, emang kamu mau dia kelaparan apa," sahut Haira membuat Sakya mencebik.

__ADS_1


"Perusak suasana," gumam Sakya, mulai mengambil piring yang sudah terisi oleh makanan itu.


Mendengar gumaman Sakya itu, Haira memutar matanya malas. Sedangkan Larei hanya menggeleng dan mulai mengambil makanannya.


__ADS_2