Benih Salah Alamat Sang Casanova

Benih Salah Alamat Sang Casanova
Kejutan dari Larei


__ADS_3

"Maaf karena aku sudah menyembunyikan hal ini darimu, tapi aku benar-benar tidak ada hubungan apa pun lagi dengan Ishana," ucap Sakya dengan bersungguh-sungguh.


"Aku mengikuti semua kemauannya, murni karena aku tidak ingin sampai dia melakukan apa yang dia katakan. Aku sangat takut, dia memanfaatkan kehamilannya untuk membuat aku terlihat buruk di hadapanmu."


"Aku tidak pernah memikirkan, jika apa yang aku lakukan, ternyata menjadi boomerang untuk kehidupanku sendiri."


Larei masih diam dengan posisinya, menatap ke dalam mata dan mimik wajah Sakya, berusaha mencari sebuah kebohongan dari setiap kata yang pria itu ucapkan.


"Aku ngerti kalau kamu masih butuh waktu untuk mempercayai semua ucapanku ini, aku tidak akan memaksamu untuk langsung percaya aku akan memberikanmu waktu—"


"Kenapa kamu baru datang sekarang?" sela Larei.


Sakya menatapnya dengan alis yang mengerut, belum mengerti maksud dari ucapannya itu.


"Aku sudah menunggumu untuk melakukan tindakan beberapa waktu yang lalu, tapi aku harus sedikit kecewa karena kamu lambat."


"Hah, maksudnya," ucap Sakya yang masih belum memahami arah perkataan Larei.


Larei menatap Sakya semakin intens, ingatannya kembali pada kejadian dua minggu lalu, sesaat setelah dia melahirkan.


...*********...


Flashback


"Apa yang terjadi antara kamu dan Sakya, kenapa kamu meminta sepupu kamu untuk mengawasinya, apa dia melakukan sesuatu di belakangmu?"


Larei menatap papinya, lalu menghela napas sedalam-dalamnya. Dia sudah menduga sepupunya yang dia mintai pertolongan untuk menjadi mata-mata Sakya, pasti sudah mengadukan apa yang dia suruh itu pada papinya.


"Aku hanya curiga kalau dia selingkuh dengan mantan pacarnya."


"Terus, apa kamu udah nemuin bukti jika dia benar-benar selingkuh? Kalau dia memang selingkuh, apa yang akan kamu lakukan sekarang?" cerca Aditya dengan rentetan pertanyaan.


"Kamu yakin dia selingkuh?" Kini giliran Davira yang menatapnya dengan serius.


Larei menatap kedua orang-tuanya, secara bergantian dia kemudian menggeleng.


"Kalau boleh jujur saat ini, aku ingin mengikuti kata hatiku. Yaitu memilih percaya pada Sakya," ucap Larei dengan yakin.

__ADS_1


Ya, saat ini dia memang memilih untuk percaya pada pria itu terlebih dahulu, karena dari hasil pengamatan sepupunya, Sakya tidak pernah menemui wanita itu, hanya tadi saja Sakya menemuinya.


Ada keyakinan juga dalam hatinya, jika Sakya tidak pernah bermaksud mengkhianatinya, meskipun gerak-gerik pria itu seperti orang yang tengah selingkuh, tapi Larei masih tidak mempercayai itu dan memilih percaya pada Sakya.


"Kamu yakin dengan keputusanmu itu, Papi sama Mami tidak ingin kamu menjalani pernikahan yang menyakiti hatimu," ucap Davira dengan khawatir.


Larei tersenyum pada maminya, memahami kekhawatiran yang wanita itu rasakan.


"Bukannya Papi pernah bilang, tidak ada pernikahan yang tidak memiliki masalah, setiap pernikahan memiliki masalah masing-masing, begitu pun dengan setiap orang."


"Untuk kali ini aku memilih percaya pada Sakya, karena hati aku juga mendorongku untuk percaya. Demi mempertahankan hubungan ini, juga demi anak kami yang baru lahir ini."


Larei tersenyum pada kedua orang-tuanya, kemudian mengalihkan pandangan ke arah anaknya yang baru saja dia lahirkan itu, sambil memberikan usapan lembut pada kepala anaknya.


"Terus, apa rencanamu sekarang?" tanya Aditya.


"Saat ini aku membutuhkan kalian, untuk memberikan dia sedikit pelajaran. Sekaligus mengujinya, apakah saat ini dia benar-benar selingkuh, atau dia juga korban di sini."


Larei tersenyum pada kedua orang-tuanya dengan menampilkan deretan giginya, lalu mengatakan apa rencananya pada pasangan paruh baya itu.


...*******...


Kedua orang-tua Larei kini tengah berdiri tidak jauh dari posisi mereka, Aditya dan Davira sudah datang dari beberapa menit yang lalu dan mendengar percakapan antara anak dan menantunya.


Sakya mengangkat wajahnya, menatap kedua mertuanya dengan ekspresi yang masih sama, bingung dan belum bisa mencerna apa yang baru saja didengarnya.


"Jadi, maksudnya kamu tidak benar-benar ingin berpisah denganku?" tanya Sakya dengan takut-takut.


"Aku juga gak mau harus jadi janda, di saat aku baru saja melahirkan. Enak saja kamu mau enak-enak, sementara aku harus ngurus anak aku sendiri." Larei berdecak sambil memutar matanya ketika menjawab pertanyaan dari Sakya itu.


"Anak kita," ralat Sakya.


Wajah Sakya yang semula menegang, kini berangsur menjadi rileks digantikan oleh senyuman lebar di bibirnya.


Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya itu, seolah saat ini dia tengah bermimpi berada di situasi seperti itu.


"Aku gak lagi mimpi 'kan?" ucapnya tak percaya.

__ADS_1


Plakk...


Larei tanpa aba-aba menukul lengan Sakya dengan menggunakan cukup tenaga, hingga si empunya meringis karena merasa ngilu.


"Kalau sakit, berarti kamu gak lagi mimpi," ucap Larei tanpa dosa.


Meskipun merasa sedikit sakit di bagian lengannya, karena Larei memukulnya, tapi tidak menyurutkan senyuman di wajahnya itu.


Jika tidak memikirkan di sana ada mertuanya yang masih berdiri tidak jauh dari posisi mereka, mungkin saat ini dia sudah menerjang istrinya itu dan menenenggelamkanya dalam pelukannya.


"Larei sengaja meminta kami untuk bersandiwara di depanmu, semata-mata untuk membuat kamu bertindak lebih hati-hati ke depannya," jelas Davira, membuat Sakya mengerti.


"Jadi, apa rencanamu sekarang?" tanya Aditya membuat Sakya segera mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Kita sebaiknya mengobrol sambil duduk, biar aku bawa Vian ke kamar dulu agar dia bisa tidur dengan nyaman," ucap Larei.


Semua orang mengangguk setuju dengan apa yang dikatakannya, Sakya pun mulai memberikan anaknya Vian, ke tangan Larei untuk dibawa pergi.


Sementara Aditya sudah lebih dulu menghampiri sofa dan duduk, dia memang sedikit lelah karena baru saja pulang menghadiri undangan dari rekan kerjanya, beserta Davira.


"Sakya akan akan menyelesaikan masalah Ishana dengan segera, bahkan jika perlu Sakya akan mempermasalahkan kasus ini ke jalur hukum," ucap Sakya ketika mereka sudah duduk di sofa.


"Kamu memang harus segera menyelesaikannya dan pastikan, kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali," sahut Aditya dengan tegas.


"Iya, Pi. Dengan bukti yang aku miliki sekarang, itu bisa membuat dia menerima hukuman yang cukup serius jika kita mempermasalahkan masalah ini ke meja hijau." Terdapat kesungguhan dari setiap ucapan Sakya itu, membuat Aditya hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Apa itu tidak terlalu berlebihan."


Baik Sakya mau pun Aditya dan Davira segera menatap ke arah Larei yang tengah berjalan ke arah mereka.


"Ini tidak berlebihan, apa yang Ishana lakukan sudah termasuk tindak kejahatan, menjebak juga memerasku, adalah tindakan yang tidak bisa dianggap sepele," terang Sakya.


"Aku tau dia memang cukup keterlaluan, tapi saat ini dia sedang hamil. Aku merasa kasihan aja, jika saat hamil seperti itu harus mendekam dipenjara."


"Tapi, jika kita tidak memberikan dia pelajaran, maka bisa saja dia melakukan lebih dari yang sekarang dilakukannya."


"Iya, Papi setuju dengan Sakya, mungkin saat ini dia hanya menjebak, menipu juga memeras Sakya, tapi siapa yang tau ke depannya dia akan melakukan hal yang lebih dari itu. Bahkan sampe membahayakan kalian nantinya, karena kita tidak pernah tau bagaimana hatinya, meskipun kita memaafkannya."

__ADS_1


Sakya dan Davira mengangguk setuju dengan apa yang Aditya katakan itu, begitu pun dengan Larei yang tidak membatah perkataan papinya.


"Tapi aku punya cara lain untuk membuat Ishana pergi sendiri dan tidak akan mengganggu hubungan kita lagi." Larei menatap keluarganya dengan wajah yang terlihat serius.


__ADS_2