
Larei menatap punggung Sakya yang semakin menjauh itu dengan menggeleng, tak percaya dengan apa yang baru saja pria itu katakan padanya.
Ketika Larei akan melangkah pergi dari sana, dari pintu toilet pria, terlihat seorang pria yang masih sebaya dengan adiknya keluar dari toilet dengan tergesa-gesa.
"Mbak, maaf lihat laki-laki yang baru keluar dari toilet gak?" tanyanya pada Larei, ketika mereka berhadapan.
"Kenapa gitu Dek?" tanya Larei.
"Ini ada dompet yang ketinggalan di dalam, sepertinya milik mas yang tadi," ucap pria muda itu menunjukkan dompet berwarna hitam pada Larei.
"Boleh saya lihat dulu Dek, soalnya tadi teman saya dari kamar mandi juga," ucap Larei dengan ramah.
"Ini Mbak, kalau gitu priksa dulu aja," sahut pria itu.
Larei pun mengambil dompet berwarna hitam itu, lalu mulai membukanya dan langsung melihat ktp yang ada di sana, ternyata itu benar-benar milik Sakya.
"Oh iya, ini benar-benar milik teman saya, biar sekalian saya bawa saja ke sana," ucap Larei menutup kembali dompet yang di isi oleh beberapa kartu debit itu.
"Mbak gak bohong 'kan?" tanya pria itu menatap Larei dengan curiga.
"Apa saya terlihat seperti orang jahat?" tanya Larei serius pada pria itu.
"Tidak Mbak." geleng pria muda itu yang dapat melihat Larei tidak memiliki tampang jahat.
"Ya udah kalau gitu saya permisi dulu," pamit pria itu dengan menunduk sopan.
"Iya, makasih ya Dek karena sudah ngembaliin dompet teman saya ini," sahut Larei tersenyum.
"Iya sama-sama Mbak." Pria muda itu pun langsung pergi dari sana.
Sementara Larei mulai melangkah ke arah Sakya pergi sebelumnya, bermaksud untuk mengembalikan dompet milik pria itu.
"Anggap saja berbuat baik terhadap sesama," ucap Larei sambil mencari keberadaan Sakya.
Matanya mulai melihat Sakya yang terlihat tengah duduk di salah satu meja di sana, tapi begitu melihat Sakya tidak sendirian, melainkan dengan seorang wanita.
Larei pun menghentikan langkahnya, menatap kesal pada pria itu, lalu tak lama kemudian, dia tersenyum miring dengan tatapan lurus pada Sakya.
"Berhubung dia lagi asyik makan siang sama pacarnya atau siapanya itu gak peduli, mending aku kerjain aja sekalian," gumam Larei, lalu berbalik menuju ke meja tempat teman-temannya menunggu.
"Kalian udah beres 'kan?" tanya Larei berdiri di samping meja sambil mengambil tas kecil miliknya yang ada di atas meja.
Dia segera memasukkan dompet milik Sakya itu ke dalam tasnya, tanpa disadari oleh kedua sahabatnya.
"Udah," sahut Tari.
"Ya udah, kalau gitu kita ayo pulang," ucap Larei melambaikan tangannya pada seorang pelayan.
"Mbak, semua makanan kita ini bayarnya sama orang yang duduk di meja itu," ucap Larei pada pelayan yang mendekatinya sambil membawa tagihan makanan mereka.
Pelayan itu pun melihat ke arah meja yang Larei tunjuk, meja yang menjadi tempat Sakya dan Ishana tengah makan dengan tenang.
Tari dan Ivanka menatap Larei dengan tatapan bingungnya, sedangkan Larei hanya menyeringai pada kedua sahabatnya, hingga mereka pun melihat ke arah yang ditunjuknya.
"Oh iya Mbak, kebetulan itu teman kami, jadi dia yang akan bayarin makanan kita ini," ucap Ivanka yang dapat menangkap maksud dari Larei itu.
__ADS_1
"Oh baiklah kalau gitu," sahut pelayan itu mengangguk paham.
"Ya udah kalau gitu kita pergi dulu ya Mbak," pamit Larei yang langsung pergi, diikuti oleh kedua sahabatnya.
Mereka bertiga langsung memasuki mobil, Tari dan Ivanka menatap Larei dengan penasaran, kenapa dia sampai melakukan itu.
"Aku hanya pengen aja ngerjain dia," sahut Larei pada kedua sahabatnya.
"Kalau ngerjainnya cuma segitu, dia tidak akan mungkin rugi sama sekali," sahut Ivanka sambil mulai menjalankan mobilnya.
"Iyalah, uang segitu tidak akan membuatnya rugi," timpal Tari.
"Uang segitu emang tidak akan ada apa-apanya untuk dia, tapi itu pun kalau dia emang bawa uang," sahut Larei terkekeh membuat sahabatnya kembali bingung.
Tari menengok ke arahannya dengan tatapan bingungnya, semenjak Ivanka melihatnya dari kaca spion.
"Taraa!"
Larei pun menunjukkan dompet milik Larei yang tadi dia sembunyikan di dalam tasnya.
"Kalian lihat ini, ini adalah dompet si kadal, bagaimana reaksinya ketika harus bayar makanan dan dompetnya tidak ada?"
"Paling minta bayarin dulu ke wanita yang bersama dengannya tadi itu," sahut Ivanka terkekeh.
"Benar! Dan aku yakin karena hal itu dia pasti akan merasa malu di depan pacarnya itu," timpal Tari.
"Iya, secara dari dulu yang selalu dia andalkan adalah materi, sampai dia tidak ragu bergonta-ganti gandengan," kekeh Ivanka.
Sementara Larei hanya manggut-manggut puas dengan apa yang telah dilakukannya itu, mereka pun tertawa membayangkan wajah merah Sakya yang merah karena malu.
"Kenapa?" tanya Ishana karena Sakya terus memeriksa saku celananya dan saku jasnya dengan ekspresi bingungnya.
"Dompet aku gak ada," sahut Sakya dengan nada tidak enak pada Ishana.
"Kok bisa gak ada?" sahut Ishana dengan heran.
"Gak tau." geleng Sakya dengan lemah.
"Apa kamu lupa bawa dompet?" tanya Ishana lagi.
"Aku tadi bawa kayaknya," sahut Sakya sambil berpikir.
"Terus kenapa sekarang gak ada?"
"Entahlah, kayaknya jatuh deh."
"Terus sekarang ini gimana, aku yang harus bayar gitu?" tanya Ishana dengan wajah yang sudah mulai tidak ramah.
"Kamu dulu aja yang bayar ya, nanti aku ganti." Sakya menatap Ishana dengan wajah tak enaknya.
Terlebih beberapa orang yang di dekat meja mereka, menatap ke arah mereka, membuat dia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam tanah rasanya.
Ini merupakan hal yang pertama baginya, makan bersama wanita dan dibayarin oleh wanita yang menjadi pacarnya.
"Baiklah ini Mbak," ucap Ishana dengan sedikit ketus.
__ADS_1
"Baik Mbak, total semuanya jadi 1,350 rb," sahut pelayan.
"Kenapa bisa sampai segitu, kita hanya pesan ini saja," ucap Ishana dengan mata terbelalak.
"Ini ditambah dengan tagihan ketiga teman Mas ini yang ada tadi di meja itu, mereka memesan sebanyak lima porsi makanan," terang pelayan sambil menunjuk ke arah meja kosong yang tadi ditempati oleh Larei.
"Teman saya?" tanya Sakya menunjuk dirinya dengan bingung.
"Iya, tadi tiga wanita cantik yang duduk di sana, katanya teman Mas, jadi minta tagihannya sekalian sama punya Mas," terang pelayan.
Mendengar apa yang pelayan itu katakan, wajah Ishana semakin masam, dia menatap Sakya dengan kesal, sedangkan Sakya menggelengkan kepalanya tidak mengerti.
"Sudah cepat selesaikan saja pembayarannya," ucap Ishana dengan ketus.
Pelayan itu pun segera melakukan pembayaran menggunakan kartu ATM milik Ishana, lalu menyerahkan kembali kartunya itu setelah selesai.
Begitu selesai menerima kartu miliknya, Ishana memasukkan kartu itu sambil berjalan meninggalkan Sakya dengan marah.
Sakya pun langsung pergi mengejarnya, dia berusaha menenangkan wanita, dia memanggil Ishana dengan mulut yang tertutup masker.
"Shana, tunggu," ucap Sakya memegang tangan Ishana begitu mereka sampai di parkiran.
"Aku pasti akan ganti uangnya, kamu tenang aja ya," ucap Sakya.
"Bukan masalah uang yang aku permasalahkan, tapi siapa teman wanita yang pelayan itu bilang?" ucap Ishana menariknya tangannya dari Sakya dengan kasar.
"Aku tidak tau," jawab Sakya apa adanya.
"Bohong bagaimana bisa kamu tidak tau, tidak mungkin orang yang tidak kenal kamu minta kamu buat bayarin makanannya? Apa itu salah satu teman kencan kamu yang lain," ucap Ishana.
"Aku benar-benar tidak tau, mereka itu siapa, sudah ya jangan marah-marah gak enak dilihat orang, mending kita masuk ke mobil yuk," bujuk Sakya.
"Aku gak mau kalau kamu masih suka main perempuan sembarangan," ucap Ishana dengan tatapan tajamnya.
"Aku udah janji mau serius sama kamu, jadi aku tidak akan main-main lagi," bujuk Sakya menggenggam tangan Ishana dengan erat.
"Beneran ya," ucap Ishana lagi dengan tatapan yang sudah mulai luluh.
"Iya, ya udah kita masuk ke mobil ya, aku anterin kamu pulang," ucap Sakya.
"Baiklah ayo." Angguk Ishana pasrah.
Sakya bernapas lega, karena Ishana tidak lama marahnya, dia pun mulai membawa Ishana untuk memasuki mobilnya.
"Gak marah lagi 'kan?" tanya Sakya saat Ishana telah duduk di kursi mobil.
"Tidak," sahut Ishana dengan gelengan kepala juga senyuman.
"Baguslah." Sakya pun ikut tersnyum dan mengusap puncak kepala Ishana lalu menutup pintu mobilnya.
"Kamu janji 'kan, mau benar-benar serius sama aku?"
"Iya aku janji," sahut Sakya membuat Ishana tersenyum lebar.
Setelah duduk dengan nyaman di balik kemudi, Sakya pun mulai menjalankan mobilnya itu, meninggalkan restoran dengan pikiran bingungnya.
__ADS_1
Dia bertanya-tanya di mana dia menjatuhkan dompetnya, juga siapa orang yang pelayan itu maksud, ketiga wanita mengaku sebagai teman-temannya.